300 Hektare Hutan Sumbar Rusak, Dinas Kehutanan: Pemulihan Akibat Longsor Butuh Waktu
Rezi Azwar June 18, 2026 04:47 PM

TRIBUNPADANG.COM, PADANG - Kerusakan hutan akibat bencana hidrometeorologi yang melanda Sumatera Barat pada November 2025 lalu diperkirakan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk pulih.

Sebab, sebagian besar kawasan yang terdampak longsor berada di wilayah konservasi dengan kondisi kerusakan yang cukup berat akibat timbunan sedimen dan material longsoran.

Kepala Dinas Kehutanan Sumbar, Ferdinal Asmin, mengatakan proses pemulihan kawasan hutan tidak bisa dilakukan secara instan seperti pembangunan infrastruktur.

Menurutnya, alam membutuhkan waktu untuk melakukan regenerasi hingga kawasan yang rusak kembali ditutupi vegetasi dan pepohonan.

Baca juga: Pascabencana Hidrometeorologi 2025, Sumbar Targetkan Rehabilitasi dan Pengayaan Hutan 1.500 Hektare

"Pulihnya memang kalau kawasan-kawasan hutan yang di atas itu biasanya memakan waktu. Karena sedimen dan urukan tanahnya sudah luar biasa terdampak," kata Ferdinal Asmin kepada TribunPadang.com, Kamis (18/6/2026).

Ia menjelaskan, sebagian besar lahan yang mengalami longsor berada di kawasan konservasi yang menjadi kewenangan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA).

Karena itu, langkah rehabilitasi kawasan juga harus menyesuaikan dengan kebijakan pengelolaan kawasan konservasi.

"Untuk rehabilitasinya kita menunggu dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam karena banyak wilayahnya berada di kawasan konservasi," ujarnya.

Baca juga: Pemprov Sumbar Normalisasi Aliran Sungai Padang Pariaman Pascabencana

Ferdinal mengatakan, salah satu harapan terbesar dalam pemulihan kawasan tersebut adalah terjadinya permudaan atau regenerasi alami.

Proses itu terjadi ketika vegetasi baru tumbuh secara alami tanpa campur tangan manusia dan secara bertahap membentuk ekosistem hutan yang kembali stabil.

"Permudaan alami yang kita harapkan bisa terjadi. Artinya wilayah itu tidak terganggu oleh aktivitas manusia," katanya.

Menurut Ferdinal, proses suksesi alami biasanya diawali dengan tumbuhnya tanaman pionir yang mampu hidup pada lahan bekas longsor.

Baca juga: Muharlion Dorong Pemko Padang Pacu Investasi agar Proyek Publik dan Pascabencana Tak Mandek

Seiring waktu, tanaman tersebut akan digantikan oleh vegetasi yang lebih besar hingga akhirnya membentuk tutupan hutan yang lebih rapat.

"Biasanya dimulai dengan berbagai jenis tanaman yang kemudian menjadi pepohonan," jelasnya.

Sebelumnya, Dinas Kehutanan Sumbar mencatat sekitar 300 hektare kawasan hutan mengalami longsor akibat bencana hidrometeorologi yang terjadi pada November 2025.

Kerusakan tersebut tersebar di sejumlah daerah seperti Agam, Padang Pariaman, Kota Padang, Pesisir Selatan dan kawasan Bukit Barisan.

Longsor yang terjadi di kawasan hutan lindung dan suaka margasatwa itu juga menjadi salah satu faktor yang memicu banjir bandang di sejumlah daerah aliran sungai di Sumbar.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.