Roberto Martinez dianggap sedang 'menyia-nyiakan' Portugal! Legenda Manchester United, Peter Schmeichel, melontarkan kritik tajam terhadap pelatih asal Spanyol tersebut setelah hasil imbang mengecewakan 1-1 melawan Republik Demokratik Kongo pada laga pembuka Piala Dunia 2026.
Schmeichel menuduh Martinez mengulangi kesalahan yang sama seperti saat menangani generasi emas Belgia. Kiper legendaris asal Denmark itu terlihat sangat marah setelah melihat permainan Portugal yang tumpul dan gagal menampilkan performa dominan meski menghadapi lawan yang jauh lebih lemah di peringkat FIFA.
Usai hasil imbang di Houston tersebut, kritik terhadap Martinez datang bertubi-tubi. Schmeichel menjadi salah satu yang paling vokal, menyoroti pendekatan taktik pelatih berusia 51 tahun itu. Menurutnya, meski Portugal memiliki skuad bertabur bintang dari klub-klub elit Eropa, mereka tampak kesulitan menembus pertahanan DR Kongo yang bermain disiplin. Banyak pihak menilai mantan pelatih Everton itu justru membatasi potensi kreatif para pemainnya.
Dalam komentarnya, Schmeichel tidak menahan diri. Ia berkata, “Roberto Martínez harus menjadi salah satu pelatih paling mengecewakan di Piala Dunia sejauh ini. Ia menyia-nyiakan generasi emas Belgia, dan sekarang tampaknya hal yang sama terjadi dengan Portugal.” Banyak pengamat yang sependapat, merasa Martinez belum mampu mengeluarkan kemampuan terbaik dari skuad yang berisikan pemain kelas dunia.
Salah satu sumber frustrasi terbesar bagi Schmeichel adalah keputusan Martinez untuk tidak memaksimalkan pemain-pemain menyerang seperti Rafael Leao dan Joao Felix. Mantan juara Euro 1992 itu mempertanyakan mengapa kedua pemain tersebut tidak dimanfaatkan lebih efektif untuk membongkar pertahanan DR Kongo. Ia menilai Martinez terlalu terpaku pada sistem yang tidak sesuai dengan karakter para pemainnya.
“Bagaimana mungkin Anda membiarkan pemain seperti Joao Felix dan Rafael Leao duduk di bangku cadangan sementara sistem yang digunakan jelas tidak berjalan? Portugal memiliki terlalu banyak talenta menyerang untuk tampil begitu mudah ditebak dan berhati-hati,” ujar Schmeichel. Ia menambahkan bahwa keseimbangan tim Portugal tampak bermasalah: “Taktiknya terlalu konservatif. Serangan minim kreativitas, lini tengah sering terputus, dan pergantian pemain biasanya terlambat untuk mengubah jalannya pertandingan.”
Sementara itu, sejumlah analis lain menyoroti cara Martinez menangani kapten berusia 41 tahun, Cristiano Ronaldo. Meskipun tampil lesu dan tidak mencatat satu pun tembakan tepat sasaran, Ronaldo tetap dimainkan selama 90 menit penuh. Hal ini memicu kritik keras dari Tony Cascarino, yang menilai Martinez terlalu memanjakan sang kapten dan enggan mengambil keputusan sulit yang dibutuhkan di level tertinggi sepak bola internasional.
Menjelang laga penting melawan Uzbekistan, tekanan kini semakin besar bagi Martinez untuk membuktikan bahwa ia mampu membawa generasi emas Portugal melangkah jauh di turnamen ini. Gagal meraih tiga poin dari tim yang seharusnya bisa dikalahkan dengan mudah telah menimbulkan kekhawatiran serius akan potensi tersingkir lebih awal jika permainan menyerang mereka tidak segera membaik.
Schmeichel menutup analisanya dengan peringatan keras, “Portugal memiliki salah satu skuad terkuat di turnamen ini, tetapi mereka bermain jauh di bawah kemampuan sebenarnya. Jika tidak ada perubahan segera, Portugal bisa kembali menyia-nyiakan peluang emas untuk menjuarai Piala Dunia.” Martinez kini dituntut untuk menemukan keseimbangan antara mengelola ego para pemain bintang dan kebutuhan taktis agar harapan mereka di turnamen tetap hidup.
Seberapa jauh Portugal akan melangkah di Piala Dunia kali ini?