Jude Bellingham mengatakan bahwa bermain dengan perasaan ‘ada yang mengganjal di pundak saya’ membuatnya tampil dalam performa terbaik saat Inggris meraih kemenangan pembuka di Piala Dunia melawan Kroasia.
Pemain berusia 22 tahun itu mencetak gol ketiga yang krusial ketika tim asuhan Thomas Tuchel membuka kampanye mereka dengan kemenangan meyakinkan 4-2 dalam laga Grup L di Dallas.
Bellingham sempat absen dalam pemusatan latihan bulan September dan Oktober karena cedera, dan hal itu menimbulkan pertanyaan mengenai kelayakannya masuk dalam skuad untuk turnamen musim panas ini.
Keraguan tersebut semakin meningkat setelah komentar viral Tuchel musim panas lalu — yang kemudian ia minta maaf — di mana ia mengatakan bahwa ibu Bellingham menganggap perilaku sang gelandang “menjijikkan”.
Namun, bintang Real Madrid itu tetap dimasukkan ke dalam skuad dan membuktikan bahwa keputusan tersebut tepat dengan penampilan impresifnya pada hari Rabu.
Ia mengatakan kepada BBC Sport: “Musim ini cukup berat bagi saya, tetapi saya merasa segar, tajam, dan lebih kuat.”
“Saya punya sedikit rasa tersinggung di dalam diri saya. Hal itu banyak membantu saya untuk menemukan fokus sejak awal pertandingan dan menjaga intensitas permainan.”
“Saya tahu itu adalah bagian dari menjadi pesepak bola, dan saya tidak menyimpan dendam kepada siapa pun yang berkata buruk tentang saya, karena terkadang saya memang pantas mendapatkannya.”
Bellingham mencetak gol ketiga melawan Kroasia, yang menegaskan peran pentingnya dalam kemenangan Inggris 4-2 tersebut.
“Hari ini, rasanya menyenangkan bisa menunjukkan kepada orang-orang dan mengingatkan mereka tentang siapa saya sebenarnya.”
Kemampuan Bellingham untuk menyesuaikan diri dengan konsep ‘persaudaraan’ ala Tuchel juga menjadi sorotan menjelang turnamen ini.
Sebelum pertandingan di Dallas, banyak perdebatan mengenai siapa yang akan menjadi starter di posisi nomor 10 untuk Inggris antara Bellingham dan sahabatnya Morgan Rogers. Akhirnya, Bellingham yang dipilih dan kemudian berpindah ke peran yang lebih dalam di lapangan.
Ia melanjutkan: “Bagi saya pribadi, menyenangkan bisa mengesampingkan semua kebisingan dari luar dan menunjukkan kepada negara saya serta rekan setim betapa saya berkomitmen untuk membantu tim memenangkan pertandingan.”
“Itu adalah penampilan tim yang luar biasa. Di babak kedua kami berhasil memperbaiki banyak hal, babak pertama kami sudah menunjukkan intensitas yang bagus, tapi belum cukup baik dalam penguasaan bola. Di babak kedua, kami menyatukan semua elemen dengan baik.”
“Bisa berkontribusi, membantu tim dan negara saya adalah salah satu kehormatan terbesar, dan terlepas dari segala suara dari luar, kehormatan itu tidak akan pernah berubah bagi saya.”