Doa Taubat Nabi Nuh, Mengajarkan Ridha atas Ketetapan Allah SWT
Febri Prasetyo June 19, 2026 11:38 AM

TRIBUNNEWS.COM - Nabi Nuh merupakan salah satu nabi yang wajib diketahui oleh umat Islam.

Doa dan kisah Nabi Nuh disebutkan dalam ayat-ayat Alquran, salah satunya Surat Hud ayat 47.

Ayat tersebut menjelaskan tentang doa Nabi Nuh yang bertaubat kepada Allah SWT karena Nabi Nuh memohon agar Dia menyelamatkan anaknya dari banjir besar.

Namun, Allah SWT berfirman bahwa anaknya bukanlah anggota keluarganya yang beriman kepada-Nya.

Nabi Nuh yang menyadari kesalahannya kemudian memohon ampunan Allah SWT dan mengakui bahwa ia tidak memiliki pengetahuan mengenai keputusan-Nya.

Dengan penuh tawakal, Nabi Nuh mengakui keterbatasan ilmu bahwa tidak semua hal bisa dipahami oleh manusia bahkan oleh nabi sekalipun.

Doa taubat Nabi Nuh mengajarkan bahwa seorang hamba harus selalu tunduk atas ketetapan Allah SWT, karena hanya Dia Yang Maha Mengetahui apa-apa yang tidak diketahui oleh makhluk-Nya.

Sikap Nabi Nuh juga menunjukkan bahwa seorang hamba harus segera beristighfar dan memohon ampunan Allah SWT ketika merasa keliru serta mengakui kesalahan.

Mengutip buku Kitab Doa Harian Rasulullah oleh A.R. Shohibul Ulum, berikut doa taubat Nabi Nuh.

Baca juga: Doa Hari Jumat, Waktu Paling Mustajab untuk Memohon Ampunan Allah

Doa Taubat Nabi Nuh

رَبِّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَسْأَلَكَ مَا لَيْسَ لِي بِهِ عِلْمٌ ۖ وَإِلَّا تَغْفِرْ لِي وَتَرْحَمْنِي أَكُنْ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Rabbi innii a'uudzu bika an as-alaka maa laysa lii bihi 'ilmuw wa-illaa taghfir lii watarhamnii akum mi-nal-khaasiriin

Artinya: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon kepada Engkau sesuatu yang aku tiada mengeta-hui (hakikat)nya. Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi." (QS. Hud (11): 47)

Kisah Nabi Nuh

Nabi Nuh AS adalah salah satu nabi ulul azmi yang diutus Allah SWT kepada kaumnya yang hidup dalam kemerosotan akhlak dan jauh dari tauhid.

Dalam Al-Qur’an, beliau digambarkan sebagai sosok yang sangat sabar, teguh, dan tidak pernah berhenti mengajak kaumnya kembali kepada jalan Allah, baik secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi.

“Nuh berkata: ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang.’ Maka seruanku itu tidak menambah mereka, kecuali menjauhkan diri (dari kebenaran). Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan jari ke telinga mereka, menutupkan pakaian ke wajah mereka, dan mereka tetap mengingkari serta menyombongkan diri dengan sangat. Kemudian aku menyeru mereka dengan cara terang-terangan. Kemudian aku menyeru mereka secara terbuka dan juga secara sembunyi-sembunyi." (QS. Nuh ayat 5–9)

Selama ratusan tahun berdakwah, Nabi Nuh hanya diikuti oleh sedikit orang beriman. Kaumnya justru menolak, mengejek, bahkan menuduhnya sesat.

Meski demikian, beliau tidak pernah menyerah dan terus memohon pertolongan kepada Allah agar diberikan jalan keluar dari kerasnya penolakan tersebut.

Sebagai jawaban atas doa dan perintah Allah, Nabi Nuh diperintahkan untuk membuat sebuah bahtera besar.

Kaumnya kembali mengejek karena kapal itu dibuat di daratan kering, namun Nabi Nuh tetap melaksanakan perintah Allah dengan penuh keyakinan.

Ketika azab berupa banjir besar datang, hanya orang-orang beriman yang diselamatkan bersama Nabi Nuh di dalam bahtera tersebut, dikutip dari Muhammadiyah.

Pelajaran penting dari kisah ini adalah bahwa keselamatan tidak ditentukan oleh hubungan darah atau kedudukan, melainkan oleh iman kepada Allah.

Bahkan putra Nabi Nuh sendiri tidak ikut selamat karena memilih menolak ajakan ayahnya. Kisah ini menegaskan bahwa setiap manusia bertanggung jawab atas keimanannya masing-masing.

Dari kisah Nabi Nuh AS, kita belajar tentang arti kesabaran dalam dakwah, pentingnya keteguhan iman, serta bahwa pertolongan Allah akan datang pada waktu yang tepat bagi hamba yang bertawakal dan tidak putus asa dalam berdoa.

Keteladanan dari Kisah Nabi Nuh

Kementerian Agama Maluku menjelaskan hal yang dapat diteladani dari sikap Nabi Nuh.

Nabi Nuh AS memberikan contoh kesabaran yang luar biasa dalam berdakwah selama ratusan tahun meskipun hanya sedikit kaumnya yang beriman dan banyak yang menolak serta mengejeknya.

Beliau juga menunjukkan keteguhan iman dan istiqamah, tidak pernah menyerah dalam menyampaikan kebenaran meski menghadapi tantangan berat.

Selain itu, Nabi Nuh AS mengajarkan ketaatan total kepada Allah SWT, dengan segera melaksanakan perintah membangun bahtera meskipun dianggap tidak masuk akal oleh kaumnya.

Dari kisahnya, kita belajar untuk tetap tegar, bersabar, dan berpegang pada nilai kebenaran dalam menghadapi ujian kehidupan.

(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.