GOR Agus Salim Ditutup Imbas Proyek Rekonstruksi, Pemprov Kaji Lokasi Penampungan Pedagang
Rezi Azwar June 19, 2026 01:27 PM

TRIBUNPADANG.COM, PADANG - Dinas Pemuda dan Olahraga Provinsi Sumatera Barat tengah mematangkan koordinasi dengan lintas Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan tokoh masyarakat untuk merumuskan solusi relokasi bagi ratusan pedagang yang terdampak revitalisasi kawasan GOR Haji Agus Salim, Padang. 

Langkah ini diambil guna memastikan para pelaku usaha kecil tetap dapat beraktivitas ekonomi selama kompleks olahraga terbesar di Sumatera Barat tersebut ditutup total untuk proyek rekonstruksi.

Kepala Dispora Sumatera Barat, Mahdianur, mengonfirmasi bahwa penutupan total ini merupakan bagian dari prosedur standar keselamatan kerja. 

Masyarakat umum kini dilarang keras untuk memasuki area dalam GOR hingga seluruh proses renovasi rampung.

Baca juga: Relokasi Pedagang GOR Agus Salim Padang Terkendala Lahan, Pedagang Bangun Kios dengan Biaya Sendiri

GOR AGUS SALIM - Pemerintah Provinsi Sumatera Barat resmi menutup total seluruh akses menuju kawasan Gelanggang Olahraga (GOR) Haji Agus Salim, Kota Padang, mulai Rabu (17/6/2026). Sejumlah personel Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) sudah bersiaga dan mulai melakukan pembersihan di area tersebut dan membongkar dan mengemas tenda-tenda serta lapak kaki lima milik pedagang yang masih berdiri di sana.
GOR AGUS SALIM - Pemerintah Provinsi Sumatera Barat resmi menutup total seluruh akses menuju kawasan Gelanggang Olahraga (GOR) Haji Agus Salim, Kota Padang, mulai Rabu (17/6/2026). Sejumlah personel Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) sudah bersiaga dan mulai melakukan pembersihan di area tersebut dan membongkar dan mengemas tenda-tenda serta lapak kaki lima milik pedagang yang masih berdiri di sana. (TribunPadang.com/Arif Ramanda Kurnia)

"Selama proses pembangunan berlangsung, masyarakat tidak diperkenankan memasuki area GOR. Ini demi menjaga keselamatan bersama dan memastikan pekerjaan konstruksi tidak terganggu," ujar Mahdianur saat dihubungi, Jumat (19/6/2026).

Pada fase awal ini, fokus utama penyelenggara proyek adalah mempersiapkan lahan atau site clearance. Aktivitas di lapangan akan didominasi oleh pengosongan kawasan, penataan area kerja, hingga mobilisasi alat-alat berat ke dalam kompleks olahraga.

Beberapa penyesuaian pada fasilitas pendukung terus dikejar sebelum para pekerja memulai intervensi pada struktur fisik bangunan utama.

Kebijakan sterilisasi ini secara otomatis berdampak langsung pada ratusan pedagang yang selama ini menggantungkan hidup di kawasan GOR. 

Baca juga: Depan Kolam Renang Teratai Padang Jadi Lapak Darurat, Pedagang GOR Mengeluh Sempit

Menanggapi persoalan tersebut, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat mengklaim tidak akan lepas tangan dan terus berupaya merumuskan jalan keluar.

Mahdianur menjelaskan, pihaknya telah bergerak cepat dengan menggelar rapat koordinasi bersama lintas Organisasi Perangkat Daerah (OPD).

Komunikasi intensif juga dibangun bersama para tokoh masyarakat guna memikirkan nasib para pedagang yang terdampak langsung oleh proyek ini.

"Kami sudah merapatkan hal ini dengan lintas OPD dan tokoh masyarakat terkait pedagang yang belum mendapatkan tempat akibat revitalisasi. Saat ini solusi terbaik sedang kami cari," kata Mahdianur menjelaskan.

Baca juga: Dilema Relokasi GOR Agus Salim: Ketidakpastian Menanti Pedagang yang Tak Kebagian Lapak

Dalam merumuskan formula relokasi, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat berkomitmen untuk mengedepankan pendekatan humanis. 

Mahdianur menegaskan bahwa para pedagang merupakan warga negara yang hak-hak ekonominya wajib dilindungi oleh pemerintah.

"Bagaimanapun mereka adalah masyarakat kita. Keberadaan mereka di sana adalah untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, untuk mencari makan. Jadi, aspek itu tetap menjadi perhatian utama kami," tuturnya.

Selain berkoordinasi dengan instansi birokrasi, Dispora Sumbar juga aktif menjalin komunikasi dengan struktur adat lokal.

Pendapat dan aspirasi dari pemuka masyarakat di kawasan Rimbo Kaluang menjadi salah satu pertimbangan krusial dalam menentukan kebijakan penataan ke depan.

Sejauh ini, serangkaian pertemuan formal maupun informal dengan perwakilan pedagang telah digelar. 

Pemerintah daerah saat ini sedang mengkaji beberapa lokasi alternatif sebagai tempat penampungan sementara, sembari menunggu hasil musyawarah internal dari tokoh adat Rimbo Kaluang.

Baca juga: 15 Tahun Berjualan di GOR Agus Salim Padang, Ita Bingung Lapaknya Digusur: Kami Mau Kerja Apa Lagi?

Di sisi lain, pergerakan mandiri mulai terlihat di lapangan. Sejumlah pedagang berinisiatif memindahkan lapak dagang mereka secara swadaya ke area di depan Kolam Teratai. 

Pemerintah daerah pun menyambut positif langkah tersebut dengan memberikan dukungan fasilitas dasar.

Untuk mendukung aktivitas ekonomi di lokasi baru itu, Pemprov Sumbar telah berkoordinasi dengan PT PLN (Persero) agar fasilitas jaringan listrik dipastikan telah siap menyokong para pedagang di kawasan Kolam Teratai tersebut.

Revitalisasi ini juga mengubah peta aktivitas sosial masyarakat Kota Padang pada akhir pekan. 

Kawasan GOR Haji Agus Salim yang selama ini identik dengan pusat jajanan dan wisata kuliner, saat  akhir kegiatan Car Free Day (CFD), dipastikan vakum untuk sementara waktu.

Baca juga: Rundown Pesona Budaya Hoyak Tabuik Piaman 2026, Catat Jadwal Ritual Adat hingga Acara Puncak

Mahdianur meluruskan bahwa rute CFD sebenarnya mencakup koridor Jalan Rasuna Said hingga Jalan Sudirman, sementara kawasan dalam GOR berperan sebagai pusat interaksi dan kuliner. 

Sebagai gantinya, pemerintah mengarahkan pelaku usaha kuliner dan masyarakat untuk mengoptimalkan ruang publik lain.

Bagi warga Kota Padang yang kerap memanfaatkan area GOR untuk aktivitas olahraga ringan seperti tracking atau jogging, untuk sementara pilih beberapa rute alternatif lainnya di kota Padang.

Relokasi Pedagang GOR Agus Salim Padang Terkendala Lahan

GOR AGUS SALIM - Area depan Kolam Renang Teratai, Kota Padang mendadak berubah menjadi sibuk, Kamis (18/6/2026). Puluhan pekerja tampak bahu-membahu mendirikan bangunan kedai dan warung darurat sebagai tempat bernaung baru bagi para pedagang yang terdampak pengosongan lahan.
GOR AGUS SALIM - Area depan Kolam Renang Teratai, Kota Padang mendadak berubah menjadi sibuk, Kamis (18/6/2026). Puluhan pekerja tampak bahu-membahu mendirikan bangunan kedai dan warung darurat sebagai tempat bernaung baru bagi para pedagang yang terdampak pengosongan lahan. (TribunPadang.com/Arif Ramanda Kurnia)

Sebelumnya, Proyek revitalisasi kawasan Gelanggang Olahraga (GOR) Haji Agus Salim Padang membawa dampak turunan bagi keberlangsungan ekonomi masyarakat sekitar. 

Penataan infrastruktur olahraga ini memaksa puluhan pedagang kecil yang selama ini menggantungkan hidup di dalam kawasan tersebut untuk angkat kaki.

Berdasarkan pantauan di lokasi pada Kamis (18/6/2026), suasana di area depan Kolam Renang Teratai tampak berubah drastis. 

Lokasi ini kini ditetapkan menjadi tempat penampungan sementara atau lahan relokasi darurat bagi para pedagang yang terdampak pengosongan.

Di sepanjang area tersebut, sejumlah pekerja terlihat sibuk mendirikan bangunan kedai dan warung semipermanen. Sebagian besar bangunan baru ini masih berupa kerangka kayu dan tripleks yang belum rampung sepenuhnya.

Situasi di lapangan menunjukkan bahwa mayoritas pedagang belum dapat memulai kembali aktivitas niaga mereka. 

Baca juga: Harimau Tak Lagi Terlihat, Warga Koto Rantang Agam Kembali Beraktivitas Normal

Sebagian besar dari mereka masih fokus menyelesaikan pengerjaan fisik tempat berjualan yang baru agar layak digunakan.

Guna mengatur ketertiban di lahan darurat tersebut, pada permukaan aspal jalan telah diberi tanda batas antar-kios menggunakan cat semprot. 

Penandaan ukuran ini berfungsi untuk memetakan jatah lapak bagi setiap pedagang yang telah terdata oleh pihak pengelola.

Kekhawatiran mengenai prospek ekonomi di tempat baru juga dirasakan oleh pedagang lainnya, Ijus. Ia mengaku dirundung ketidakpastian mengenai keberlanjutan usahanya serta potensi keramaian pembeli di masa mendatang.

Faktor utama yang memicu kekhawatiran para pedagang adalah penurunan drastis aktivitas di kawasan GOR. Seiring berjalannya proyek revitalisasi, sebagian besar agenda kegiatan olahraga dan keramaian massa di dalam stadion dihentikan untuk sementara waktu.

Ijus menambahkan, kondisi lingkungan di sekitar tempat relokasi saat ini masih sangat semrawut atau belum tertata dengan baik. Situasi lapangan yang belum rapi ini dikhawatirkan akan membuat para calon pelanggan enggan untuk datang berkunjung.

Baca juga: Semen Padang FC Kembali Umumkan Dua Pemain Baru, Dikri Yusron dan Erwin Gutawa Resmi Bergabung

Selain persoalan kondisi fisik bangunan, aspek regulasi dan fasilitasi juga masih menyisakan tanda tanya bagi warga terdampak. Hingga saat ini, skema mengenai iuran bulanan serta penyaluran fasilitas dasar seperti aliran listrik dan air bersih dari pemerintah setempat dinilai belum jelas.

Tantangan yang lebih berat dihadapi oleh Beti, seorang pedagang minuman yang semula beroperasi di bagian dalam kawasan GOR. Area penunjang usahanya kini telah ditutup rapat oleh petugas, sehingga ia terpaksa mengemasi barang-barangnya menuju area luar.

Salah seorang pedagang yang terdampak, Linda, mengutarakan bahwa dirinya hanya bisa pasrah dan bersyukur masih mendapatkan tempat relokasi di depan Kolam Renang Teratai. 

Kendati demikian, ia harus menerima kenyataan bahwa ukuran lapak barunya kini jauh lebih terbatas.

Saat ini, Linda menempati ruang darurat berukuran 3x3 meter, yang secara signifikan lebih kecil dibandingkan tempat berjualan sebelumnya. Akibat proses perpindahan ini, ia mengaku belum bisa mencari nafkah lantaran bangunan kedainya masih harus dibenahi dari awal.

Kondisi tersebut menempatkan pedagang pada posisi yang sulit secara finansial. Pembangunan kembali kios secara mandiri membutuhkan biaya yang tidak sedikit, di saat mereka sudah tidak memiliki pemasukan sama sekali selama beberapa hari terakhir karena berhenti berjualan.

Menurut keterangan Linda, keterbatasan kapasitas lahan membuat tidak semua pedagang terdampak bisa ditampung di area depan kolam renang ini. Lokasi darurat tersebut saat ini diprioritaskan bagi para pelaku usaha yang sebelumnya berada di kawasan Sostro dan sekitar tribun stadion.

Keluhan yang lebih tajam datang dari Ita, seorang pedagang makanan yang sudah belasan tahun mengadu nasib di dalam kawasan olahraga tersebut. 

Ia menilai kebijakan sterilisasi lahan ini dilakukan secara mendadak tanpa ada sosialisasi yang matang terlebih dahulu.

Baca juga: Penutupan GOR Haji Agus Salim Padang Picu Keluhan Pedagang, Relokasi Belum Ada Kepastian

Ita mengaku sangat terkejut saat menerima surat edaran pengosongan pada Selasa sore. Waktu yang diberikan pemerintah daerah dinilai sangat tidak manusiawi bagi para pedagang kecil yang memiliki banyak peralatan besar.

Kekecewaan Ita mendalam karena menganggap pemerintah tidak memberikan tenggat waktu yang longgar bagi masyarakat untuk bersiap-siap. 

Seharusnya, kebijakan berskala besar seperti ini diumumkan berminggu-minggu atau berbulan-bulan sebelumnya.

Jika informasi tersebut disampaikan dari jauh-jauh hari, para pedagang tentu memiliki kesempatan yang cukup untuk mencari lokasi alternatif secara mandiri tanpa harus didera kepanikan.

Ketiadaan solusi konkret dan ketidakjelasan lokasi relokasi menjadi beban pikiran utama Ita saat ini. Aturan tegas melarang mereka beraktivitas di dalam GOR, namun pemerintah dinilai lepas tangan dalam menyediakan tempat pengganti yang layak.

Baca juga: Arus Lalu Lintas GOR Haji Agus Salim Ditutup, Pedagang Mulai Bongkar Lapak untuk Relokasi

Ia menegaskan, idealnya tindakan pengosongan paksa dibarengi dengan penyediaan lapak sementara yang representatif agar roda ekonomi masyarakat bawah tidak terputus secara ekstrem. Namun hingga saat ini, kejelasan itu tidak pernah ada.

Bagi Ita, GOR Haji Agus Salim bukan sekadar tempat menggelar tikar dagangan, melainkan saksi bisu perjuangannya selama 15 tahun terakhir dalam menghidupi keluarga. Hilangnya akses berjualan sama saja dengan hilangnya sumber pendapatan tunggalnya.

Kekhawatiran serupa disuarakan oleh Ijas, pedagang kuliner khas Korea di kawasan tersebut. Ia melihat ada ancaman ledakan angka pengangguran baru di Kota Padang jika nasib ratusan pedagang GOR diabaikan begitu saja.

Ijas menekankan bahwa para pelaku usaha kecil tidak memiliki bantalan ekonomi yang kuat untuk bertahan tanpa berjualan. Jika tidak ada intervensi pemerintah untuk memikirkan tempat pengganti, maka mereka dipastikan akan gulung tikar dan kehilangan mata pencaharian dalam sekejap.(*) 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.