Analis Beberkan Dampak Kinerja Keuangan TPIA Usai Akuisisi Shell Singapura
Choirul Arifin June 19, 2026 03:35 PM

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Emiten konglomerat Prajogo Pangestu, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) telah mengakuisisi Shell Energy and Chemicals Park Singapore (SECP) yang kini bernama Aster.

Langkah akuisisi tersebut dinilai menjadi titik balik strategis bagi perseroan, sekaligus mengubah profil bisnis Chandra Asri dari perusahaan petrokimia yang sangat bergantung pada siklus industri menjadi kelompok usaha terintegrasi di sektor energi, kimia, dan infrastruktur.

Analis Verdhana Sekuritas Nizam Syafik mengatakan, dalam tiga tahun terakhir Chandra Asri berhasil melakukan transformasi besar dari aset petrokimia tunggal senilai sekitar US$1,8 miliar yang menghadapi tekanan margin negatif pada periode 2022–2024, menjadi platform bisnis terintegrasi dengan potensi pendapatan mencapai US$7 miliar hingga US$10 miliar.

Nizam mengatakan, keberhasilan tersebut tidak lepas dari akuisisi Aster yang diselesaikan pada 2025. 

Melalui akuisisi ini, Chandra Asri memperoleh kilang minyak berkapasitas 237 ribu barel per hari serta fasilitas cracker etilena berkapasitas 1,1 juta ton per tahun yang menjadi fondasi bisnis energi perseroan.

"Aster secara efektif mendiversifikasi sumber pendapatan Chandra Asri yang sebelumnya sangat bergantung pada spread petrokimia. Saat ini energi telah menjadi kontributor terbesar terhadap pendapatan perusahaan," ujar Nizam dalam risetnya dikutip Jumat (19/6/2026).

Data Verdhana menunjukkan, segmen energi menyumbang sekitar 55ri total pendapatan Chandra Asri pada kuartal I-2026, melampaui kontribusi segmen kimia sebesar 42n infrastruktur sekitar 3%.

Pada kuartal I-2026, Chandra Asri membukukan laba operasi (EBIT) konsolidasi tertinggi sepanjang sejarah sebesar US$468 juta dengan laba bersih mencapai US$205 juta. 

Baca juga: China Perketat Aturan Investasi Domestik usai Blokir Akuisisi Meta di Manus

Kinerja tersebut terutama ditopang oleh segmen energi yang menghasilkan EBIT sebesar US$556 juta.

Verdhana menilai akuisisi Aster merupakan transaksi yang sangat menguntungkan. Aset tersebut diakuisisi melalui CAPGC, perusahaan patungan dengan Glencore, dengan nilai sekitar US$255 juta, jauh di bawah nilai buku aset sebesar US$933 juta. 

Transaksi tersebut menghasilkan keuntungan akuntansi langsung (bargain purchase gain) yang memperkuat struktur permodalan perusahaan dan menciptakan ruang tambahan untuk pendanaan ekspansi.

Selain memberikan kontribusi laba yang signifikan, Aster juga memperluas rantai nilai bisnis Chandra Asri. 

Perseroan sebelumnya telah menyelesaikan akuisisi jaringan ritel bahan bakar Esso sehingga kini memiliki integrasi dari kilang, petrokimia hingga distribusi dan penjualan ritel energi. Strategi tersebut memungkinkan perusahaan menangkap sinergi di sepanjang rantai pasok dan mengurangi ketergantungan pada satu sumber pendapatan.

Baca juga: BTN Perkuat Bisnis Ritel Lewat Akuisisi Kredit Pensiunan Senilai Rp19,9 Triliun

Diversifikasi bisnis juga diperkuat melalui pengembangan proyek Chlor-Alkali dan Ethylene Dichloride (CA-EDC) di Cilegon. 

Proyek senilai US$800 juta yang dikembangkan bersama Danantara dan Indonesia Investment Authority (INA) itu ditargetkan mulai beroperasi pada 2027. Fasilitas tersebut akan memiliki kapasitas produksi 400 ribu ton soda kaustik dan 500 ribu ton ethylene dichloride per tahun.

Nizam menilai proyek CA-EDC berpotensi menjadi mesin pertumbuhan berikutnya bagi Chandra Asri. Produk soda kaustik akan menyasar kebutuhan industri domestik, termasuk sektor deterjen, alumina, dan pengolahan nikel, sementara EDC akan diekspor untuk memenuhi kebutuhan industri PVC global.

Di sisi lain, bisnis infrastruktur yang dijalankan melalui PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) juga mulai memainkan peran strategis dalam ekosistem perusahaan. 

Unit usaha ini mengelola bisnis energi, air industri, pelabuhan, penyimpanan, dan logistik yang mendukung operasional internal maupun pihak ketiga. Kehadiran bisnis infrastruktur memperkuat integrasi operasional sekaligus menciptakan sumber pendapatan yang lebih stabil dibandingkan bisnis petrokimia yang cenderung siklikal.

Dari sisi fundamental, Verdhana melihat posisi Chandra Asri saat ini jauh lebih kuat dibandingkan beberapa tahun lalu. Total aset perusahaan melonjak menjadi US$12,5 miliar pada kuartal I-2026 dari sekitar US$5,7 miliar pada 2024. 

Ekuitas juga meningkat menjadi US$4,86 miliar, sementara laba bersih kuartalan mencapai US$205 juta. Perseroan juga mencatat margin EBIT sebesar 19,5n interest coverage ratio sebesar 6,89 kali, mencerminkan kemampuan yang lebih baik dalam memenuhi kewajiban keuangannya.

Verdhana memperkirakan tren positif masih berlanjut seiring kuatnya margin kilang di Singapura. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan gangguan pasokan global membuat crack spread diperkirakan tetap berada di atas US$10 per barel, jauh lebih tinggi dibandingkan level historis sebelum konflik yang berada di bawah US$5 per barel. Kondisi ini diyakini akan mempercepat pengembalian investasi Aster sekaligus memperbaiki struktur utang perusahaan.

Selain transformasi operasional, daya tarik saham TPIA juga meningkat dari sisi pasar modal. Free float perseroan kini mencapai 25,7%, naik signifikan dari sekitar 10% sebelumnya setelah SCG Chemicals melakukan penyesuaian kepemilikan saham sebagai bagian dari strategi deleveraging. 

Meski demikian, Verdhana menegaskan perubahan tersebut tidak memengaruhi arah strategis maupun pengendalian perusahaan karena tiga pemegang saham utama, yakni Barito Pacific, SCG Chemicals, dan Thai Oil, masih menguasai sekitar 74,3% saham TPIA.

Dengan kombinasi bisnis energi, petrokimia, dan infrastruktur yang semakin terintegrasi, Verdhana menilai Chandra Asri kini berada pada posisi yang lebih tangguh untuk menghadapi siklus industri petrokimia global yang masih dibayangi kelebihan kapasitas dari China. 

Strategi diversifikasi yang dijalankan perseroan dinilai berhasil menciptakan sumber pertumbuhan baru sekaligus meningkatkan ketahanan fundamental perusahaan dalam jangka panjang.


Kinerja Saham

Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), saham TPIA pada perdagangan Jumat (19/6/2026) dibuka ke level Rp2.080 per saham.

Dalam lima hari perdagangan, saham TPIA sudah menguat 16,62 persen, di mana pada Jumat (12/6/2026) di level Rp1.835 per saham.

 

 

 


Foto: IHSG

 

KINERJA KEUANGAN - Pada kuartal I-2026, Chandra Asri membukukan laba operasi (EBIT) konsolidasi tertinggi sepanjang sejarah sebesar US$468 juta dengan laba bersih mencapai US$205 juta. 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.