Seperti yang dibuktikan oleh Argentina pada tahun 2022, untuk menjuarai turnamen besar tidak selalu harus tampil sempurna sejak menit pertama pertandingan pembuka.
Faktor momentum sering kali menjadi kunci, di mana keyakinan dan performa yang semakin meningkat berjalan beriringan — hal yang juga dialami oleh Spanyol di Euro 2024. Skuad asuhan Luis de la Fuente itu menunjukkan perkembangan luar biasa sepanjang turnamen, membangun kepercayaan diri dari fase grup hingga akhirnya melaju ke final melawan Inggris.
Bagi gelandang Spanyol, Mikel Merino, bertambahnya keyakinan itu juga berarti meningkatnya tekanan.
Merino kembali masuk dari bangku cadangan di partai final, ikut membantu timnya menyingkirkan pasukan Gareth Southgate dan memastikan Spanyol menjadi juara Eropa. Namun, ia mengakui bahwa penampilan di final bukanlah yang terbaik dari timnya.
“Sejujurnya, mungkin itu pertandingan di mana tekanan benar-benar terasa bagi kami,” ujar Merino kepada majalah FourFourTwo. “Selama turnamen, kami benar-benar menikmati setiap menit bersama tim – kami membangun momentum yang luar biasa.”
Ia melanjutkan, “Final adalah saat segalanya berubah. Kami mulai berpikir, ‘Oke, ini pertandingan besar dan tekanannya sangat besar.’ Itu adalah situasi hidup atau mati.”
Sebelum masuknya Merino di babak akhir, pertandingan berjalan tegang. Gol pembuka dari Nico Williams berhasil disamakan di babak kedua. “Kami bermain dengan baik dan mengontrol jalannya laga, tapi kami tidak menciptakan cukup peluang untuk menuntaskan pertandingan,” katanya.
Merino mengakui bahwa gol penyeimbang dari Cole Palmer menjadi momen yang sulit diterima. “Ketika Palmer mencetak gol penyama kedudukan, itu benar-benar berat bagi kami,” ungkapnya.
“Menjelang akhir pertandingan, kami semua merasakan tekanan yang luar biasa. Kami saling menatap dan bertanya-tanya, ‘Apakah mereka akan bangkit lagi? Bagaimana kalau kami kalah?’ Tapi sepak bola adalah tentang bagaimana kamu menghadapi momen-momen seperti itu – tentang detail kecil yang menentukan.”
“Gol kemenangan kami mungkin hanya selisih satu sentimeter dari posisi offside, tapi Mikel Oyarzabal menyentuh bola pada waktu yang tepat, dan kami menang.”
Meski Merino mengaku bukan tipe pemain yang gemar berpesta, ia mengenang perayaan juara itu dengan penuh kebahagiaan. “Saya masih ingat saat pulang ke rumah, ikut parade bus bersama seluruh penggemar,” ujarnya sambil tersenyum.
“Itu benar-benar luar biasa, ajaib, melihat kota Madrid dipenuhi lautan manusia mengenakan jersey Spanyol dan bersorak untuk kami. Suasana yang begitu positif dan menyatukan. Semua orang hanya menikmati momen itu – tertawa, menari, dan merayakan keberhasilan bersama.”