Surya Produsen Tahu Terpaksa Pecat 2 Karyawan karena Harga Kedelai Naik, Sehari Cuma Habis 200 Kg
Ani Susanti June 20, 2026 01:14 PM

TRIBUNJATIM.COM - Lonjakan harga kacang kedelai dalam beberapa pekan terakhir membuat pelaku industri tahu rumahan melakukan penyesuaian.

Itu seperti yang dialami produsen tahu di Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara.

Sejumlah produsen mulai memangkas kapasitas produksi, mengurangi jumlah pekerja, hingga memperkecil ukuran tahu agar usaha tetap berjalan.

Tekanan tersebut dirasakan oleh pengusaha tahu kopong skala rumahan di Desa Sukaraya, Kecamatan Pancur Batu.

Kenaikan biaya produksi tidak hanya berasal dari kedelai, tetapi juga bahan pendukung lain yang ikut mengalami peningkatan harga, salah satunya minyak goreng.

"Sebenarnya yang dialami cukup kompleks. Tidak hanya kacang kedelai saja yang naik, tapi dari bahan baku lainnya juga," kata Surya, pekerja sekaligus anak pemilik industri tahu rumahan di Kecamatan Pancur Batu, Sabtu (20/6/2026).

Baca juga: Tempe Wedok Lumajang Bertahan saat Harga Kedelai Naik, Tradisi 1 Suro Jadi Penyemangat Generasi Muda

Menurut Surya, kondisi ini turut berdampak pada pendapatan usaha.

Penurunan omzet membuat pelaku industri harus mencari cara agar tetap bisa bertahan di tengah beban biaya operasional yang terus meningkat.

"Bahkan omzet bisa turun sampai puluhan persen. Sekarang mode bertahan saja rasanya sudah cukup," sambungnya.
 
Menurut Surya, harga kedelai yang sebelumnya masih relatif stabil pada Mei 2026 mulai melonjak seiring melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Ia mengingat saat usaha keluarganya berdiri pada 2013, harga kedelai masih sekitar Rp 7.000 per kilogram.

Kini harga kedelai sudah mencapai Rp 11.000 per kilogram.

Bahkan, sepekan sebelumnya sempat menyentuh Rp 11.300 per kilogram.

"Tadi pagi saya beli, sudah di harga Rp 11.000 per kilogram, seminggu yang lalu bahkan mencapai Rp 11.300 per kilonya. Padahal bulan lalu masih Rp 475.000 per 50 kilogram atau Rp 9.500 per kilogram," ujar Surya.

Tenaga Kerja Dikurangi

Kenaikan harga bahan baku membuat pabrik melakukan efisiensi.

Salah satunya dengan mengurangi jumlah tenaga kerja.

"Kami melakukan pengurangan tenaga kerja, ada 2 orang pekerja yang diberhentikan karena mengingat biaya operasionalnya membengkak," ungkap Surya.

Selain itu, ukuran produksi juga disesuaikan untuk menekan kerugian. Jumlah tahu dalam setiap bal dikurangi dari 500 menjadi 470 buah.

"Selain bahan yang dikurangi, ada puluhan tahu tiap balnya juga dikurangi. Biasanya satu bal isi 500 tahu, sekarang menjadi 470," jelasnya.

Baca juga: Harga Kedelai dan Kemasan Naik, UMKM Kediri Bertahan dengan Berbagai Cara

Surya mengatakan, tahu kopong yang diproduksi pabriknya umumnya digunakan sebagai bahan baku berbagai olahan seperti gorengan, tahu walik, tahu bakar, tahu crispy, hingga produk frozen food.

Karena itu, distribusinya bergantung pada agen dan pedagang perantara sebelum sampai ke konsumen.

Kenaikan harga jual membuat sebagian agen dan pedagang memilih berhenti beroperasi.

Dalam sehari, pabrik yang sebelumnya mengolah sekitar 300 kilogram kedelai kini hanya mampu menghabiskan 200 kilogram.

"Banyak agen di pajak yang berhenti beroperasi karena pabrik kami menaikkan harga jual. Agen di pajak saja ada 1 yang tutup, agen keliling ada 1 juga, belum lagi konsumen yang beli langsung ke pabrik, banyak sekali," kata Surya.

Baca juga: Cerita Perajin Tahu di Tulungagung Bertahan di Tengah Lonjakan Harga Kedelai Impor

Harga jual satu bal tahu kopong yang sebelumnya Rp 70.000 kini naik menjadi Rp 90.000.

Menurut Surya, pedagang yang masih bertahan adalah mereka yang berani menyesuaikan harga jual ke tingkat konsumen.

"Bisa dilihat dari hasil jualan hariannya. Tak tahu ke depannya ini bagaimana. Ngefek kali memang sama kenaikan Dolar," pungkasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.