Tidal Weavers Hadir di Yogyakarta, Menelusuri Jejak Sejarah Maritim Asia Lewat Tekstil
Hari Susmayanti June 20, 2026 03:14 PM

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Selembar kain ternyata dapat menyimpan lebih dari sekadar motif dan teknik pengerjaan.

Di balik serat-seratnya, tersimpan jejak migrasi, perdagangan, ritual, pengetahuan lokal, hingga hubungan sosial yang telah terjalin selama berabad-abad di kawasan pesisir dan kepulauan Asia.

Gagasan inilah yang diangkat dalam pameran Tidal Weavers: Islands Exchange yang digelar Ace House Collective di Langgeng Art Foundation, Yogyakarta, pada 19 Juni hingga 24 Juli 2026.

Pameran ini menjadi penutup perjalanan internasional proyek Tidal Weavers setelah sebelumnya dipresentasikan di Hong Kong dan Taipei.

Melalui karya seni, riset lapangan, serta kolaborasi bersama komunitas lokal, proyek ini mengajak publik melihat tekstil bukan hanya sebagai benda budaya, melainkan arsip hidup yang terus menyimpan dan meneruskan pengetahuan dari generasi ke generasi.

Seniman sekaligus inisiator proyek, Ade Darmawan, menjelaskan bahwa Tidal Weavers berawal dari ketertarikannya meneliti hubungan masyarakat dengan air, pulau, dan kawasan pesisir.

Gagasan tersebut kemudian berkembang melalui diskusi bersama Takahashi Mizuki, Direktur dan Kurator CHAT (Centre for Heritage, Arts and Textile) Hong Kong.

“Kami melihat tenun, kain, dan motif bukan hanya sebagai benda budaya. Kain juga menyimpan pengalaman, pengetahuan, dan kebijaksanaan masyarakat yang diwariskan dari generasi ke generasi,” ujar Ade.

Baca juga: Aksi Berbahaya Dua Santri di Brebes, Iseng Tidur di Atas Tower Sehabis Subuh

Menurutnya, proyek ini tidak sekadar menghasilkan karya seni. 

Para seniman yang terlibat didorong untuk bekerja langsung bersama komunitas, perajin, dan kelompok budaya di berbagai wilayah sehingga proses pertukaran pengetahuan menjadi bagian penting dalam penciptaan karya.

“Kami menekankan proses percakapan dan pertukaran pengetahuan antara seniman dan komunitas. Kain kami lihat sebagai arsip hidup atau museum yang terus bergerak,” katanya.

Pandangan serupa disampaikan Takahashi Mizuki. Ia menilai tekstil tradisional di berbagai negara Asia menyimpan sejarah, teknologi, keterampilan, dan identitas budaya yang sangat kaya.

Namun, keberlanjutan tradisi tersebut menghadapi tantangan karena semakin sedikit masyarakat yang menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari.

“Jika tidak ada pengguna, bagaimana tekstil bisa bertahan? Karena itu kami mencoba menghadirkan pendekatan baru agar warisan tekstil tetap relevan dengan kehidupan masa kini,” ujarnya.

Tidal Weavers mempertemukan seniman dari Indonesia, Hong Kong, Taiwan, dan Filipina dalam program residensi yang berlangsung di berbagai wilayah, mulai dari Tuban, Pontianak, Maumere, Sulawesi Selatan, Hong Kong, Taiwan, hingga Filipina.

Dari perjalanan tersebut lahir beragam karya yang menelusuri keterhubungan sejarah dan budaya masyarakat kepulauan.

Salah satu kisah menarik datang dari seniman Taiwan Yang Wei-Lin yang meneliti sejarah tanaman nila atau indigo di Tuban, Jawa Timur.

Penelitiannya menemukan keterkaitan sejarah antara Indonesia dan Taiwan melalui tanaman pewarna alami yang sama, namun berkembang dengan tradisi yang berbeda di masing-masing wilayah.

Sementara itu, seniman Filipina Alma Quinto mengangkat kisah para perempuan penenun dari komunitas Tausug di wilayah Sulu, Filipina Selatan.

Melalui riset lapangan, ia menyoroti ketangguhan para penenun yang tetap menjaga tradisi di tengah konflik dan keterbatasan ekonomi.

“Para penenun ini mewariskan pengetahuan dari generasi ke generasi. Mereka menjaga tradisi agar tidak hilang meskipun menghadapi berbagai tantangan,” ujar Alma.

Pameran ini menghadirkan karya-karya Ade Darmawan, Alma Quinto, Chang En-Man, Ma Wing Man Mandy, Meita Meilita, Prewangan Studio, Widi Asari, Yang Wei-Lin, dan Yip Kai Chun.

Melalui medium tekstil, sejarah lisan, bahasa, ritual, migrasi, hingga pengetahuan ekologis, para seniman mengajak pengunjung memahami bagaimana laut dan kepulauan telah membentuk identitas serta kebudayaan masyarakat Asia.

Selain pameran utama, edisi Yogyakarta juga menghadirkan Tidal Weavers Resource Room yang dikembangkan bersama Lawe Indonesia dan IVAA Contemporary Art Studies.

Ruang ini memperluas pemahaman publik mengenai tekstil sebagai medium produksi pengetahuan, penyimpan memori kolektif, sekaligus pembentuk relasi sosial.

Melalui Tidal Weavers, publik diajak melihat bahwa kain dan tenun tidak hanya hadir sebagai produk kerajinan atau benda dekoratif.

Di dalamnya tersimpan kisah panjang tentang laut, migrasi, kerja perawatan, identitas budaya, hingga hubungan antarmanusia yang terus bergerak melintasi batas geografis dan generasi.

Di saat bersamaan juga digelar Salon et Cetera, sebuah program yang menawarkan platform bagi para seniman dari berbagai latar belakang untuk mempresentasikan karya mereka dalam sebuah pameran kolektif. 

Dengan mengadopsi tampilan bergaya salon, pameran ini dirancang untuk membangkitkan energi keramaian, di mana karya-karya seni saling berdampingan, saling melengkapi, dan ditempatkan pada posisi yang setara. 

Pameran ini menampilkan 183 karya, mengundang 142 Seniman, 135 seniman Indonesia dan 7 seniman internasional dari Thailand dan Filipina.(nto) 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.