SURYA.co.id, SURABAYA – Banyak penderita diabetes mengira kondisi mereka terkendali selama kadar gula darah masih terjaga.
Namun di balik itu, ancaman yang lebih serius bisa berkembang tanpa disadari.
Serangan jantung hingga kerusakan ginjal kerap datang tanpa gejala jelas dan baru terdeteksi ketika kondisinya sudah berat.
Fakta tersebut menjadi sorotan dalam kegiatan edukasi kesehatan bertema “Silent but Deadly: Serangan Jantung pada Penderita Diabetes” yang digelar Daewoong Pharmaceutical Indonesia bersama Siloam Hospitals Surabaya di RS Siloam Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (20/6/2026).
Baca juga: SiBo-NaLiq, Inovasi Murid SMA Surabaya Cegah Diabetes Sukses di Ajang Internasional
Dalam kegiatan itu, pasien dan keluarga diajak memahami bahwa diabetes bukan sekadar persoalan kadar gula darah tinggi, tetapi juga berkaitan erat dengan risiko gangguan jantung, pembuluh darah, hingga ginjal yang dapat mengancam keselamatan pasien.
Ancaman ini menjadi semakin relevan mengingat jumlah penderita diabetes di Jawa Timur masih cukup tinggi.
Berdasarkan Profil Kesehatan Provinsi Jawa Timur 2023, jumlah estimasi penderita diabetes usia 15 tahun ke atas mencapai 854.454 orang.
Sementara itu, Profil Kesehatan Kota Surabaya 2023 mencatat terdapat 104.363 pasien diabetes.
Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, Prof. Yudi Her Oktaviono, Sp.JP(K), FIHA, mengungkapkan serangan jantung pada pasien diabetes sering kali tidak disertai gejala khas seperti nyeri dada.
Menurutnya, kadar gula darah yang tinggi dalam jangka panjang dapat merusak saraf yang berfungsi mengirimkan sinyal nyeri ke tubuh.
Akibatnya, ketika terjadi penyumbatan pada pembuluh darah koroner, pasien tidak selalu merasakan tanda bahaya yang jelas.
“Pasien diabetes dapat mengalami risiko kardiovaskular tanpa gejala yang nyata. Karena itu, pemeriksaan kesehatan berkala dan pengelolaan faktor risiko tidak boleh diabaikan, meskipun pasien merasa sehat,” ujar Prof. Yudi.
Ia menjelaskan, diabetes juga mempercepat proses aterosklerosis atau penumpukan kolesterol di dinding pembuluh darah.
Kondisi tersebut membuat pembuluh darah koroner menyempit hingga berisiko menyebabkan serangan jantung maupun stroke.
Karena itu, pengendalian kolesterol jahat atau LDL-C menjadi bagian penting dalam pencegahan komplikasi kardiovaskular.
Dalam kesempatan tersebut, Prof. Yudi memperkenalkan pesan kampanye pencegahan penyakit kardiovaskular Daewoong, yakni “The Sooner, The Lower, The Better”.
Ia menekankan pentingnya menurunkan kadar LDL-C sedini mungkin hingga mencapai target yang direkomendasikan tenaga kesehatan serta menjaga kepatuhan terapi dalam jangka panjang.
Tak hanya jantung, organ ginjal juga menjadi sasaran komplikasi yang sering luput dari perhatian pasien diabetes.
Dokter spesialis penyakit dalam konsultan endokrinologi, Dr. dr. Soebagijo Adi Soelistijo, SpPD, Subsp. EMD(K), FINASIM, FACP, mengatakan kerusakan ginjal akibat diabetes umumnya berkembang secara perlahan tanpa gejala pada tahap awal.
“Kadar gula darah yang terus tinggi dapat merusak jaringan ginjal secara bertahap, seperti filter yang aus seiring waktu. Karena pasien sering tidak merasakan kelainan pada tahap awal, pemeriksaan ginjal sebaiknya dilakukan secara proaktif, bukan menunggu sampai muncul gejala,” jelas Soebagijo.
Menurutnya, terdapat tiga indikator penting yang perlu dipantau secara rutin oleh pasien diabetes, yakni HbA1c untuk mengukur rata-rata kendali gula darah, UACR untuk mendeteksi kebocoran protein dalam urine, serta eGFR guna menilai kemampuan ginjal dalam menyaring darah.
Direktur Siloam Hospitals Surabaya, dr. Maria Magdalena Padmidewi, Sp.PK, menegaskan edukasi menjadi kunci untuk mencegah komplikasi diabetes yang sering berkembang tanpa disadari pasien.
“Pasien dan keluarga perlu memahami bahwa diabetes dapat secara diam-diam memengaruhi jantung, ginjal, pembuluh darah, dan kualitas hidup secara keseluruhan,” ujarnya.
Menurut dr. Maria, edukasi diabetes tidak boleh berhenti pada upaya menurunkan gula darah semata, tetapi juga harus mencakup pemahaman mengenai dampaknya terhadap organ-organ vital.
Sementara itu, Head of Daewoong Pharmaceutical Indonesia Business Division, Baik In-hyun, mengatakan pemahaman pasien mengenai hubungan antara diabetes dan komplikasi yang berkembang secara diam-diam menjadi langkah awal yang penting dalam pencegahan.
“Ketika pasien memahami sejak dini hubungan antara diabetes dan komplikasi yang berkembang secara diam-diam, mereka dapat memulai langkah pencegahan sebelum terjadi kerusakan organ yang tidak dapat dipulihkan,” ujar Baik.
Ia menambahkan, Daewoong akan terus mendukung pengelolaan diabetes melalui penyediaan terapi inovatif.
Selain telah meluncurkan terapi dislipidemia kombinasi ezetimibe dan rosuvastatin untuk membantu pengendalian LDL-C, perusahaan juga menyiapkan peluncuran enavogliflozin 0,3 mg sebagai terapi diabetes tipe 2 yang telah memperoleh persetujuan BPOM RI.
Ke depan, Daewoong berkomitmen memperkuat kolaborasi dengan berbagai institusi medis guna meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan gula darah, kolesterol jahat, dan fungsi ginjal secara terpadu.
"Kolaborasi dengan institusi medis itu penting, untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan gula darah, LDL-C, dan fungsi ginjal secara terpadu pada pasien diabetes, sekaligus memperluas akses terhadap terapi yang lebih maju," tandasnya.