Laporan Wartawan TribunJatim.com, Madchan Jazuli
TRIBUNJATIM.COM, KEDIRI – Jajaran panitia lokal Pondok Pesantren Al Falah, Ploso, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri menyatakan telah mencapai kesiapan 100 persen untuk menggelar pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama (NU) 2026.
Sebanyak 1.500 undangan dipastikan memadati ruang pembukaan yang dijadwalkan berlangsung khidmat pada Sabtu (20/6/2026) malam.
Ketua Panitia Lokal Munas dan Konbes NU 2026, Agus M Bahauddin (Gus Bahauddin), mengonfirmasi bahwa ribuan volume massa yang hadir merupakan perpaduan antara jajaran pejabat negara, menteri kabinet, tamu kehormatan, serta delegasi resmi struktur NU dari berbagai daerah. Upacara pembukaan sendiri dipusatkan di Aula Utama Pondok Pesantren Al-Falah Induk tepat pukul 19.00 WIB.
Baca juga: Suasana Jelang Munas dan Konbes NU di Pondok Ploso Kediri, KH Maruf Amin Bakal Hadir
"Estimasi total yang merapat ke lokasi pembukaan nanti malam berkisar di angka 1.500 orang. Jumlah tersebut mencakup komponen tamu undangan VIP beserta para peserta," tutur Gus Bahauddin saat memberikan keterangan pers kepada awak media pada Sabtu siang.
Gus Bahauddin merinci, untuk klaster peserta inti yang mengantongi hak suara dan kepesertaan penuh tercatat berkisar antara 500 hingga 600 orang. Mereka merepresentasikan pengurus pusat hingga keterwakilan dari 38 Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) dari seluruh penjuru nusantara.
"Kami juga menyediakan slot undangan tambahan, khususnya bagi para ahli fikih dan delegasi dari pondok pesantren sekira wilayah Jawa Timur. Kehadiran mereka diproyeksikan untuk memperkuat ketajaman analisis hukum di komisi-komisi krusial seperti Komisi Bahtsul Masail," tambahnya.
Mengingat skala acara yang bersifat nasional dan turut mengundang sejumlah pejabat teras negara, panitia lokal menerapkan skema koordinasi matang lintas sektoral. Dari aspek proteksi dan ketertiban, barisan internal NU yang terdiri dari personel Banser dan Pagar Nusa di bawah kendali GP Ansor bersinergi penuh mendukung aparat kepolisian di ring pengamanan.
Sementara itu, jaminan keselamatan medis juga disiapkan secara berlapis. Panitia lokal mengandalkan kolaborasi taktis dengan Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) di level Pengurus Besar (PB), Pengurus Wilayah (PW) Jatim, serta disokong penuh oleh armada dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur.
Berdasarkan linimasa yang disusun panitia, dinamika persidangan Munas dan Konbes NU ini dijadwalkan rampung total pada Senin, 22 Juni 2026. Menariknya, pasca-penutupan agenda nasional tersebut, dinamika di Ponpes Al Falah Ploso tidak langsung surut. Sehari setelahnya, yakni pada Selasa, 23 Juni malam, kompleks pesantren akan langsung menggelar tradisi tahunan yakni Haul Akbar Pondok Ploso.
Gus Bahauddin mengakui ritme kerja tim internalnya kali ini terbilang sangat padat karena mepetnya jarak antar-dua agenda besar tersebut. Namun, berbekal pengalaman mengelola manajemen massa tahunan, ia optimistis transisi acara akan berjalan mulus.
"Kalau untuk perhelatan haul, kami sudah terbiasa mengelola arus jemaah. Di puncak malam haul, jumlah yang hadir secara silih berganti bisa menyentuh angka 20.000 hingga 30.000 orang. Mereka datang dari latar belakang masyaikh, ikatan alumni, wali santri, hingga para muhibbin (pencinta pesantren) yang hadir murni karena mahabah," papar Gus Bahauddin.
Di balik kemegahan teknis acara, Gus Bahauddin menegaskan esensi utama ditariknya kembali kegiatan Munas-Konbes NU ke haribaan pesantren. Momentum ini diharapkan mampu menjadi pemantik agar pelaksanaan Muktamar NU di masa-masa mendatang bisa terus dipertahankan di lingkungan pondok pesantren sebagai jangkar tradisi keilmuan.
Ia pun menyitir sepotong pesan luhur yang kerap digaungkan oleh pengasuh tertinggi Ponpes Al Falah Ploso, Romo Kiai Nurul Huda Djazuli (Kiai Huda). Pesan tersebut menjadi pengingat eratnya hubungan genetis antara jam'iyah dan pesantren.
"Romo Kiai Huda selalu mengingatkan kami semua bahwa pesantren itu ibarat NU kecil, dan sebaliknya, NU adalah pesantren besar. Keduanya adalah satu kesatuan ruh yang tidak akan pernah bisa dipisahkan oleh sekat apa pun," ungkapnya retoris.
Mengakhiri keterangannya, Gus Bahauddin menyelipkan asa agar riuh rendah dinamika organisasi internal tidak sampai mencederai marwah utama jam'iyah. "Harapan besar kami dan para pengurus, seluruh keputusan yang lahir dari forum ini murni berpihak pada kemaslahatan umat dan petunjuk para kiai. Kita ingin NU kembali merengkuh hikmah serta ruh perjuangannya yang semestinya," pungkasnya.