Wajah Suhaimi Menghitam Dililit Ular Piton Besar, Petaka Tak Pedulikan Larangan Anak, Ini Nasibnya
Murhan June 20, 2026 06:52 PM

BANJARMASINPOST.CO.ID - Wajah Al Suhaimi menghitam imbas dililit ular piton besar. Niat menangkap ular piton berujung petaka bagi warga Kabupaten Rokan Hilir (Rohil), Riau.

Kini, Suhaimi dalam kondisi kritis setelah dililit ular piton sepanjang sekitar 4 meter yang hendak ditangkapnya.

Diungkapkan Kepala Seksi Humas Polres Rohil, Ipda Didi Sofyan, peristiwa itu terjadi di Jalan Asoka, Kelurahan Sungai Rangau, Kecamatan Rantau Kopar, Kamis (18/6/2026) sekitar pukul 21.00 WIB.

Didi mengatakan, saat itu korban bersama anaknya sedang berjalan kaki pulang ke rumah.

Pada perjalanan, mereka bertemu seorang teman bernama Mardi yang melintas menggunakan sepeda motor dan kemudian membonceng keduanya.

Saat melintasi jalan tanah yang menjadi jalur pintas, mereka melihat seekor ular piton berukuran besar di pinggir jalan.

"Korban turun dari sepeda motor mau menangkap ular tersebut," kata Didi kepada Kompas.com melalui pesan WhatsApp, Sabtu (20/6/2026).

Baca juga:  Harga Gas Melon Eceran Tembus 60 Ribu, Pelaku UMKM di Kotabaru Bingung

Sempat Dilarang, Tetap Bersikeras

Anak korban dan Mardi sempat memperingatkan Alsuhaimi agar tidak mencoba menangkap ular karena ukurannya cukup besar. 

Namun, korban tetap nekat mendekati dan memegang kepala ular tersebut.

Ketika korban berusaha menguasai ular, piton itu tiba-tiba melilit badan dan lehernya.

Anak korban berusaha melepaskan lilitan dengan memukul ular menggunakan kayu, sementara Mardi meminta bantuan warga sekitar.

Situasi semakin mencekam ketika korban mulai kehilangan tenaga. 

Wajahnya disebut menghitam akibat kuatnya lilitan ular dan ia tergeletak tak berdaya di lokasi kejadian.

Tak lama kemudian, warga bersama anggota kepolisian datang membantu proses penyelamatan.

"Setelah ramai warga menolong, akhirnya lilitan ular dapat dilepaskan," ujar Didi.
Dirawat dalam Kondisi Koma

Korban kemudian dievakuasi ke Puskesmas Rantau Kopar untuk mendapatkan pertolongan medis. Sementara ular piton tersebut akhirnya dibunuh oleh warga.

Karena kondisinya terus memburuk, korban kemudian dirujuk ke RSUD Duri, Kabupaten Bengkalis.

"Korban saat ini dalam kondisi koma," kata Didi.

Menurut keterangan polisi, sebelum dirujuk ke rumah sakit, korban mengalami gangguan pernapasan dan penurunan kesadaran yang ditandai wajah menghitam serta suara napas mengorok akibat tekanan kuat dari lilitan ular di bagian leher dan tubuh.

Cara Terlepas dari Lilitan Ular Piton

Ular piton, yang dikenal sebagai raja lilit, memiliki teknik berburu yang unik dan mematikan.

Berbeda dengan jenis ular lainnya yang menggunakan bisa untuk melumpuhkan mangsanya, piton membelitkan tubuhnya ke badan mangsa hingga kehabisan napas.

Lalu, bagaimana cara melepaskan diri dari lilitan ular piton?

Dokter hewan di Rumah Sakit Hewan Pendidikan Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Dr Boedi Setiawan MP drh, menjelaskan bahwa satu-satunya cara untuk terbebas dari lilitan piton adalah menggunakan senjata tajam.

"Senjata tajam itu mampu melukai ular piton dan membuat lilitannya meregang. Pada saat itulah bisa menyelamatkan diri," ungkap pria yang akrab disapa Cak Boeseth itu, Rabu (16/4/2025).

Setelah berhasil melepaskan diri, Cak Boeseth menyarankan agar korban segera dilarikan ke rumah sakit atau puskesmas terdekat untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut.

Ia juga mengingatkan agar tidak memasuki hutan sendirian dan mempersiapkan perlengkapan keselamatan, seperti topi penjelajah, P3K, serta senjata tajam untuk perlindungan diri.

"Selalu berhati-hati juga dengan keadaan sekitar," tambahnya.

Lebih lanjut, Cak Boeseth menjelaskan bahwa piton menggunakan teknik membelit untuk membunuh dan meremukkan tulang mangsanya sebelum memakannya.

Pada kesempatan berbeda, pakar herpetofauna Universitas Brawijaya (UB) Nia Kurniawan juga mengungkapkan hal serupa.

Ia menjelaskan bahwa piton akan melilitkan tubuhnya ke badan mangsa hingga kehabisan napas, memastikan jantung mangsa berhenti berdetak sebelum mulai memakan dari bagian kepala.

"Karena piton itu tubuhnya besar, jadi dia tidak bisa mengejar mangsa. Trik yang dia gunakan adalah dengan naik ke tempat yang tinggi, lalu akan menjatuhkan tubuhnya ke atas badan mangsa dan mulai membelit," ungkap Kurniawan.

Meskipun tidak memiliki bisa, piton memiliki 15 hingga 20 gigi kecil yang mengarah ke dalam, lebih banyak dibandingkan ular jenis lain.

Ketika piton mulai memakan mangsanya, ukuran kulitnya dapat melebar antara dua hingga tiga kali lipat dari ukuran tubuh aslinya.

Selain itu, di dalam tubuh piton terdapat organ Jacobson atau organ vomeronasal yang berfungsi untuk mendeteksi bau dan feromon.

"Jadi secara tidak langsung, piton dapat 'menghitung kalori' mangsanya dengan menandai panas tubuh mangsanya," kata Kurniawan.

Setelah menyantap mangsanya, piton akan berpuasa selama kurang lebih satu bulan sambil mencari tempat yang hangat dan kering.

Mangsa favorit piton meliputi anjing, babi hutan, dan sapi, yang memiliki ukuran sepuluh kali lipat lebih besar dibandingkan tubuhnya.

"Jadi ular piton justru tidak begitu tertarik dengan tikus, katak, atau hewan pengerat lainnya," terangnya.

Namun, manusia juga bisa menjadi sasaran piton saat ular tersebut merasa sangat kelaparan dan tidak ada mangsa lain.

Hal ini sering kali disebabkan oleh kerusakan habitat asli piton, yang memaksa mereka berpindah ke area pemukiman yang lebih kering dan hangat.

"Kalau habitat aslinya sudah rusak, maka otomatis hewan yang menjadi mangsa mereka juga berkurang," pungkasnya.

Jika menemukan ular piton di dalam rumah, Kurniawan menyarankan agar tidak membunuhnya dan segera menghubungi petugas berwenang untuk mengembalikannya ke habitat aslinya.

"Kalau dibunuh, maka akan menyebabkan ketidakseimbangan ekosistem. Jumlah anjing, tikus, babi hutan, dan hewan lainnya agar tidak terlalu banyak," tutupnya.

(Banjarmasinpost.co.id/Kompas.com)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.