TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Lumajang - Seorang penambang pasir di kawasan aliran lahar Gunung Semeru mengalami luka bakar serius setelah tertimpa material panas sisa erupsi saat bekerja di area tambang pasir bawah Gladak Perak, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, Sabtu (20/6/2026) dini hari.
Korban bernama Very Irawan (33), warga Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro, hingga kini masih menjalani perawatan intensif di RSUD dr Haryoto Lumajang. Tim medis menyatakan sekitar 80 persen tubuh korban mengalami luka bakar akibat tertimbun material vulkanik yang masih menyimpan suhu panas tinggi.
Bupati Lumajang Indah Amperawati bersama jajaran pemerintah daerah menjenguk korban di rumah sakit untuk memastikan penanganan medis berjalan optimal.
Baca juga: Gunung Semeru Erupsi 8 Kali dan Luncurkan Lava Pijar, PVMBG Tetapkan Radius Bahaya
Wakil Direktur RSUD dr Haryoto Lumajang, dr Wawan Arwijanto, mengatakan kondisi korban tergolong sangat berat karena luas luka bakar mencapai sekitar 80 persen tubuh.
"Ini kondisinya sangat membahayakan, biasanya (luka bakar) di atas 40 persen sudah sangat bahaya," ujar dr Wawan.
Menurutnya, tim medis akan berupaya maksimal untuk mempertahankan kondisi pasien hingga berangsur membaik.
Ia juga memastikan seluruh biaya pengobatan korban ditanggung pemerintah karena kejadian tersebut masuk dalam kategori bencana.
"Untuk biaya dalam peristiwa bencana seperti ini ditanggung pemerintah melalui Perbup," katanya.
Baca juga: Gunung Semeru Erupsi 6 Kali dalam 6 Jam, Status Siaga dan Warga Diminta Waspada
BPBD Lumajang menyatakan korban berangkat menambang bersama sejumlah pekerja lainnya sekitar pukul 01.00 WIB.
Sekitar 30 menit kemudian, tepatnya pukul 01.30 WIB, tebing pasir yang merupakan tumpukan material sisa awan panas guguran Gunung Semeru tiba-tiba longsor dan menimpa tubuh korban.
Bupati Lumajang Indah Amperawati mengungkapkan laporan awal menyebut korban mengalami luka bakar sekitar 40 persen. Namun setelah dilakukan pemeriksaan lebih lanjut di ruang operasi, luas luka bakar ternyata mencapai 80 persen.
"Laporan awal yang masuk ke saya, luka bakar sekitar 40 persen. Tetapi setelah dibuka di ruang operasi ternyata 80 persen luka bakar, artinya hampir seluruh tubuhnya luka bakar," ungkapnya.
Menurut Indah, seluruh luka bakar korban telah dibersihkan oleh tenaga medis dan saat ini fokus penanganan diarahkan pada menjaga stabilitas kondisi pasien.
Baca juga: Bulan Bung Karno, PDIP Jatim Tanam 1.000 Pohon di Lereng Gunung Semeru
Kepala BPBD Lumajang Isnugroho menjelaskan longsoran berasal dari timbunan material vulkanik hasil awan panas guguran yang terjadi sebelumnya. Meski telah tertimbun selama berbulan-bulan, material tersebut masih menyimpan panas yang berbahaya bagi manusia.
"Kondisi material ini masih panas, kalau terkena kulit ya bisa menyebabkan luka bakar," ujarnya.
Ia mengatakan aktivitas penambangan yang dilakukan pada malam hari meningkatkan risiko kecelakaan karena jarak pandang terbatas, sementara aktivitas vulkanik Semeru masih fluktuatif.
"Aktivitas pertambangan manual ini sering dilakukan warga pada malam hari, ini yang sangat berbahaya karena jarak pandang terbatas. Sedangkan Semeru yang saat ini berstatus Level III Siaga, tidak bisa diprediksi," kata Isnugroho.
Baca juga: Perkuat Mitigasi Erupsi Semeru, Pemkab Lumajang Pasang 12 CCTV dan 4 EWS di Aliran Lahar
Pemkab Lumajang kembali mengingatkan agar tidak beraktivitas di kawasan rawan bencana di sekitar Gunung Semeru.
Bupati Indah menyebut pihaknya telah menerbitkan surat edaran yang melarang aktivitas di sepanjang sektor tenggara Besuk Kobokan hingga radius 13 kilometer dari puncak Semeru.
Selain itu, masyarakat juga diminta tidak beraktivitas dalam radius 500 meter dari sempadan sungai yang menjadi jalur aliran lahar.
"Itu daerah yang berpotensi terkena aliran material panas. Kadang kalau hujan juga akan membawa timbunan material jutaan ton, kalau dibawa sama hujan ini bahaya sekali," tuturnya.
Ia juga meminta seluruh penambang pasir menghentikan aktivitas penambangan setelah pukul 18.00 WIB demi mengurangi risiko kecelakaan kerja akibat bahaya vulkanik.
Baca juga: Imbas Abu Vulkanik Semeru, Panen dan Kualitas Durian di Lumajang Menurun, Dijual Rp 5.000 Perbuah
Kakak korban, Aris Susanto, mengatakan adiknya telah lama bekerja sebagai penambang pasir dan batu di kawasan aliran lahar Gunung Semeru.
Menurutnya, insiden tersebut terjadi di luar dugaan.
"Biasanya kerja cari batu cari pasir, tidak tahunya terkena material letusan sekunder saat menambang," katanya.
Aris menjelaskan timbunan material vulkanik tiba-tiba menyemburkan panas dan longsor ketika terkena air, sehingga sulit diprediksi para pekerja di lapangan.
"Kan tidak kelihatan kalau kena air, dan air itu langsung nyembur hingga mengakibatkan longsor material lahar Semeru," ujarnya.
Ia mengungkapkan korban sebelumnya pernah dua kali tertimpa longsoran material yang sudah dingin. Namun kejadian tertimpa material panas baru pertama kali dialami.
Gunung Semeru sempat mengeluarkan awan panas guguran dengan jarak luncur sekitar 4,5 kilometer ke arah Curah Kobokan, Jumat (19/6/2026) pagi.
Meski tidak berdampak pada permukiman warga, aktivitas tersebut menunjukkan bahwa Gunung
Semeru yang berstatus Level III Siaga masih memiliki potensi bahaya, terutama bagi masyarakat yang beraktivitas di kawasan aliran lahar dan zona rawan bencana.