Ada Mitos Presiden Bakal Lengser Jika Datang ke Kediri, Akankah Prabowo Buka Konbes NU di Ploso?
Januar June 20, 2026 08:14 PM

 

TRIBUNJATIM.COM, KEDIRI - Musyawarah Nasional Alim Ulama (Munas) dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (Konbes) 2026 di Kediri bakal digelar sebentar lagi.

Namun, sampai saat ini masih belum ada kepastian mengenai apakah Presiden Prabowo Subianto bakal hadir untuk membukanya atau tidak.

Jika memang benar hadir, maka hal ini merupakan kedatangan pertama Prabowo Subianto ke Kediri selama menjabat sebagai presiden.

Perlu diketahui, memang tidak banyak Presiden Republik Indonesia yang pernah dating ke kediri.

Hal ini ada yang mengaitkannya dengan mitos yang selama ini berkembang.

Tepatnya, beredar mitos di masyarakat, jika ada presiden yang mengunjungi Kediri, maka dia akan segera lengser. 

Padahal, hal ini sudah terbantahkan saat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dating ke Kediri.

Saat itu  SBY tercatat pernah mengunjungi daerah pengungsian korban erupsi Gunung Kelut di wilayah Kabupaten Kediri pada Februari 2014.

Sedangkan presiden lainnya adalah Soekarno dan Gus Dur atau Abdurrahman Wahid.

Walaupun belakangan, Soekarno dan Gus Dur lengser dari jabatannya karena persoalan politik.

Baca juga: Ponpes Al Falah Ploso Siap Sambut 1.500 Undangan Munas NU 2026, Gus Bahauddin Kuak Filosofi Mendalam

Terkait hal itu, Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Lirboyo Kediri KH Kafabihi Mahrus angkat bicara menanggapi mitos presiden yang berkunjung ke Kediri akan lengser dari jabatannya, pada tahun 2020 lalu.

Menurut dia, anggapan bahwa pejabat yang datang ke Kediri, Jawa Timur, bakal lengser hanya sebatas mitos.

"Semua itu Allah yang menghendaki. Kalau Allah tidak menghendaki tidak akan terjadi," ungkap KH Kafabihi Mahrus kepada sejumlah awak media, Senin (17/2/2020), sebagaimana dikutip dari Tribunnews.com.

Dia mengakui bahwa di Jawa banyak sekali mitos-mitos yang berkembang.

Namun sebenarnya, masalah mitos itu juga ada penangkalnya berupa doa dan bertawakal serta bertakwa kepada Allah.

"Memang benar ada. Tapi ada penangkalnya dengan berdoa," tambahnya.

Sebelumnya diketahui, Sekretaris Kabinet Pramono Anung sewaktu meresmikan Rusunawa Ponpes Lirboyo mengaku pernah menyarankan kepada Presiden untuk tidak datang ke Kediri.

Saya masih ingat, ini mau percaya atau tidak, Gus Dur pulang dari Lirboyo tidak begitu lama gonjang ganjing di Jakarta," jelasnya.

Namun, kalau yang berkunjung Wakil Presiden sejauh ini tidak ada masalah.

"Tapi kalau perlu ke Setono Gedhong ke Mbah Wasil beliau akan berkenan," jelasnya.

Melansir dari Harian Kompas, yang mengutip dari pernyataan Budayawan Kediri, Imam Mubarok, mitos tersebut berkembang sejak zaman Raja Kartikeyasinga (suami Ratu Shima), penguasa kerajaan Kalingga (Selatan).

Pada abad ke 6 Masehi tersebut ada sebuah aturan yang dibuat mengenai pemimpin yang baik dan pemimpin yang tidak baik.


”Aturan itu terdapat dalam Kalingga Dharmasastra yang terdiri atas 119 pasal,” ujarnya.

Aturan yang dibuat Kartikeyasinga itu kemudian menjadi rujukan peraturan lain yang muncul kemudian, seperti Purwadigama Dharmasastra di era Singhasari yang terdiri atas 174 pasal, hingga Kitab Undang-Undang Majapahit, Kutara Manawa Dharmasastra, yang memiliki 272 pasal.

Dari situlah, menurut Barok, mitos ini kemudian berkembang kuat.

Karena itu, sebagian besar raja dan presiden tidak pernah datang ke Kediri lantaran khawatir bakal jatuh.

Barok menyebut Soekarno (Bung Karno) pernah ke Kediri tahun 1948-1950.

Saat itu Bung Karno berkunjung ke rumah Komandan Brigade Sikatan Letnan Kolonel Surahmat di barat Sungai Brantas.

Sementara Gus Dur pernah berkunjung ke Kediri tahun 1999 saat Muktamar Ke-30 Nahdlatul Ulama di Lirboyo.

Baik Bung Karno maupun Gus Dur kemudian lengser akibat faktor politik meski tidak secara langsung terjadi saat itu.


Dengan dihadiri oleh Presiden Soekarno, Sidang Kabinet RIS, yang pertama telah dilangsungkan pada tanggal 5 Januari 1950, di gedung bekas Raad van Indie, di Pedjambon, Jakarta.

Presiden Soekarno dengan para Menteri Kabinet Pertama RIS, dimuka Gedung Dewan Menteri (bekas Raad van Indie) di Pedjambon. Pada gambar tidak terlihat Menteri Pertahanan Sri Sultan Hamengku Buwono IX, yang tidak hadir karena sakit.

Dari penelusuran Sosok.ID, Bung Karno turun takhta pada 12 Maret 1967 oleh Sidang Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS).

Posisi Bung Karno kemudian digantikan oleh Soeharto, sedangkan Gus Dur lengser oleh Sidang Istimewa MPR 23 Juli 2001.

Adapun presiden lain yang pernah ke Kediri, menurut Barok, adalah Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

SBY datang ke Kediri tahun 2007 dan 2014 seusai erupsi Gunung Kelud.

Namun, kedatangan SBY kala itu tidak melalui Kota Kediri, tetapi melipir atau mencari jalan pinggir ke sisi timur (Kabupaten Kediri)

 

Informasi lengkap dan menarik lainnya baca di TribunJatim.com

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.