Salah satu yang terdampak parah adalah pabrik air mineral kemasan Bariklana di Desa Parseh, Kecamatan Socah, yang terpaksa menghentikan produksinya hingga Sabtu (20/6/2026).
Akibat pemadaman yang terjadi hingga empat kali berturut-turut ini, puluhan karyawan tidak bisa bekerja secara optimal.
Pengusaha pun harus menanggung kerugian hingga puluhan juta rupiah akibat penurunan omzet dan kerusakan peralatan produksi yang vital.
Pengusaha Air Mineral Bariklana, H Abdur Rachman, mengungkapkan bahwa pemadaman tiba-tiba ini sangat merugikan jalannya usaha.
Selain menghentikan operasional, pemadaman listrik berulang ini merusak perangkat elektronik di pabriknya.
Ia juga harus mengeluarkan biaya sebesar Rp 19 juta untuk mengganti dinamo mesin kompresor hidrolik yang jebol, akibat ketidakstabilan pasokan listrik pada Jumat (12/6/2026) malam. Akibat kerusakan vital tersebut, pabrik terpaksa tutup total selama dua hari.
Abdur Rachman mengaku bingung harus mengadu ke mana, karena pihak PLN Unit Layanan Pelanggan (ULP) Bangkalan dinilai tidak memberikan kejelasan informasi.
Dampak padamnya listrik ini juga langsung dirasakan oleh 70 karyawan pabrik. Sebagian besar pekerja di bagian pencucian, pengisian dan penutupan botol tidak dapat beraktivitas karena mesin filling air mati total.
Yenni Kumalasari selaku staf administrasi perusahaan menjelaskan bahwa sistem upah borongan membuat pendapatan karyawan merosot tajam.
“Otomatis para karyawan diam dan gaji mereka berkurang, karena upah mereka dihitung secara borongan berdasarkan hasil produksi,” jelas Yenni.
Merespons gelombang protes warga dan pelaku usaha, PLN akhirnya mengeluarkan pernyataan resmi.
Manajer PLN Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Madura, Fahmi Fahresi, menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan tersebut.
Menurut pengumuman resmi PLN, pemadaman sementara ini terpaksa dilakukan karena adanya kendala teknis operasional pada pembangkit listrik, yang memerlukan pengaturan operasi sistem berupa manajemen beban.
Manajer PLN ULP Bangkalan, Mohammad Nasir, menegaskan bahwa situasi ini bukanlah kebijakan pemadaman bergilir terencana.
“Kami pastikan ini bukan pemadaman bergilir terencana, melainkan penerapan manajemen beban akibat penurunan kapasitas pembangkit. Kondisi ini di luar kendali kami, sehingga kami tidak bisa memberikan informasi terencana sebelumnya,” pungkas Nasir.
Estimasi pemadaman listrik darurat ini diperkirakan berlangsung antara 3 hingga 4 jam. Untuk jadwal pemadaman terakhir pada Sabtu, penghentian aliran listrik dijadwalkan berlangsung mulai pukul 17.30 hingga 20.00 WIB.
Berikut adalah daftar wilayah dan desa di Bangkalan yang terdampak manajemen beban kelistrikan:
Nasir mengimbau masyarakat untuk memahami perbedaan antara pemadaman darurat dan pemadaman terencana.
Jika pemadaman disebabkan oleh kegiatan pemeliharaan infrastruktur yang terencana dari PLN ULP Bangkalan, pihak PLN dipastikan akan menyebarkan flyer informasi resmi jauh-jauh hari sebelum pengerjaan dimulai.