Bantuan Pangan Minyakita di Wonogiri Bau Minyak Tanah, Produsen Bicara Kemungkinan Sabotase
Febri Prasetyo June 20, 2026 08:38 PM

TRIBUNNEWS.COM - Program Cadangan Pangan Pemerintah (CPP) merupakan persediaan pangan pokok yang dikauasai dan dikelola oleh pemerintah.

Berdasarkan Perpres No. 125 Tahun 2022, program ini bertujuan untuk mengantisipasi kekurangan pangan, mengatasi kerawanan gizi, menanggulangi dampak bencana, serta mengendalikan inflasi dan gejolak harga pangan.

Penyelenggaraan CPP dijalankan oleh Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, dengan menugaskan Perum Bulog serta BUMN Pangan untuk pengadaannya.

Adapun bantuan ini diberikan diberikan kepada masyarakat berpenghasilan rendah, masyarakat yang mengalami rawan pangan dan gizi, serta keluarga yang terdampak keadaan darurat atau gejolak harga.

Di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, CPP menjadi sorotan setelah adanya keluhan satu di antara bantuan yang diberikan berupa minyak goreng yakni Minyakita berbau minyak tanah.

Keluhan itu muncul di Kecamatan Kismantoro dan Kecamatan Giriwoyo.

Melansir TribunSolo.com, warga penerima bantuan mengaku menemukan perbedaan pada minyak goreng yang mereka terima.

Di antaranya warnanya lebih gelap dibanding minyak goreng pada umumnya.

Kemudian, muncul aroma saat digunakan memasak disebut seperti minyak tanah.

Seorang warga yang enggan disebutkan namanya mengatakan aroma itu muncul ketika minyak digunakan untuk mengolah makanan.

“Warnanya lebih gelap. Saat digunakan untuk memasak rasanya ada yang aneh, seperti ada campuran minyak tanah,” katanya, Kamis (18/6/2026).

Baca juga: Warga Wonogiri Jateng Ungkap Aroma Minyakita Menyerupai Minyak Tanah

Camat Giriwoyo Sri Sundoro membenarkan adanya laporan warga terkait aroma tak lazim pada Minyakita bantuan CPP.

"Ada (keluhan terkait Minyakita). Bau juga," katanya.

Ia menerangkan laporan itu berasal dari warga di dua desa yakni Desa Sirnoboyo dan Desa Selomarto.

Akan tetapi, kata Sri, tidak seluruh penerima bantuan mengalami kondisi yang sama.

"Tidak semua penerima manfaat. Acak. Nggak banyak yang seperti itu," pungkasnya.

Ditarik dan Diganti Baru

Keluhan itu telah mendapat respons dari Perum Bulog Kantor Cabang Surakarta.

Pimpinan Bulog Cabang Surakarta Nanang Harianto telah menerjunkan tim untuk menelusuri permasalahan tersebut.

"Kami langsung menerjunkan tim ke lapangan untuk menelusuri sumber permasalahan," jelasnya dalam keterangan yang diterima TribunSolo.com pada Jumat (19/6/2026).

Nanang menerangkan pihaknya telah berkoordinasi dengan dinas terkait, aparat desa, serta produsen untuk menarik minyak goreng yang sudah disalurkan kepada warga Penerima Bantuan Pangan (PBP).

Seluruh minyak goreng yang tidak layak itu ditarik untuk diganti dengan minyak goreng baru yang memiliki standar mutu yang sesuai.

"Kami pastikan seluruh minyak goreng yang sudah tersalur di desa tersebut langsung ditarik dan kami ganti dengan minyak goreng yang bermutu prima saat itu juga," tegasnya.

Produsen Bicara Kemungkinan Sabotase

Sementara itu, produsen Minyakita PT Kusuma Mukti Remaja (KMR) Karanganyar bakal melakukan penyelidikan guna mengetahui penyebab bau menyerupai minyak tanah pada minyak goreng bantuan pangan tersebut.

Investigasi dilakukan bersama Perum Bulog Surakarta.

Direktur PT KMR, Joko Mukti Wijaya menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat atas ketidaknyamanan yang terjadi.

"Kami meminta maaf, merespons sebaik mungkin dan secepat mungkin. Semua diganti secepatnya, agar masyarakat segera mendapatkan hak-haknya," katanya, Jumat (19/6/2026), melansir TribunSolo.com.

Ia pun belum mengetahui pasti penyebab munculnya bau pada minyak goreng tersebut.

Berbagai kemungkinan masih didalami melalui proses investigasi.

"Ada berbagai kemungkinan, akan kami investigasi dulu," imbuhnya.

Terkait dugaan adanya unsur kesengajaan atau sabotase, Joko menilai kemungkinan tersebut sangat kecil.

Pasalnya, proses produksi Minyakita berlangsung dalam sistem yang tertutup dan diawasi secara ketat.

Joko juga menegaskan, jumlah Minyakita yang didistribusikan ke Kismantoro hanya sebagian kecil dari total produksi perusahaan.

Selama periode Maret-Juni 2026, PT KMR memproduksi sekira 3.000 ton Minyakita.

Seluruh produksi itu dialokasikan untuk progran bantuan pangan melalui Bulog.

"Selama periode Maret–Juni ini, kami hanya memproduksi untuk Bulog. Tidak ada yang dijual (dijual bebas)," terangnya.

(Tribunnews.com/Nanda Lusiana, TribunSolo.com/Erlangga Bima Sakti)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.