Ramalan Cuaca Jatim Minggu 21 Juni 2026 Cerah Sepanjang Hari, Pasuruan Daerah Paling Panas
Arie Noer Rachmawati June 20, 2026 11:14 PM

 

TRIBUNJATIM.COM - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Juanda memprakirakan cuaca di seluruh wilayah Jawa Timur pada Minggu (21/6/2026) didominasi kondisi cerah hingga cerah berawan.

Dipantau TribunJatim.com dari situs resmi BMKG Juanda bahwa adanya potensi peningkatan tutupan awan di beberapa wilayah pada pagi hingga siang hari. 

Salah satu daerah yang berpeluang mengalami kondisi tersebut adalah Bangkalan, Pamekasan dan Sampang sekitar pukul 10.00, serta Tuban sekitar pukul 13.00 WIB.

Meski demikian, kondisi tersebut tidak berdampak signifikan terhadap aktivitas harian.

Dari sisi suhu udara, Jawa Timur diperkirakan berada pada kisaran 20 hingga 32 derajat Celsius.

Kota Pasuruan menjadi daerah dengan suhu relatif lebih tinggi, yang dapat mencapai sekitar 32 derajat Celsius pada periode tersebut.

Namun demikian, BMKG tetap mengingatkan adanya potensi perubahan cuaca secara lokal.

Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk tetap waspada dan tidak sepenuhnya bergantung pada kondisi cerah.

Baca juga: BMKG Peringatkan Potensi El Nino 2026, Begini Cara Menjaga Rumah Tetap Sejuk Saat Kemarau Panjang

Baca juga: Daftar Wilayah Indonesia yang Mulai Masuk Musim Kemarau Mei 2026 Versi BMKG

Sampai Kapan Suhu Dingin di Musim Kemarau?

Masyarakat Jawa Timur dalam beberapa pekan terakhir mengeluhkan suhu udara malam hingga pagi hari yang terasa jauh lebih menusuk tulang dibandingkan biasanya.

Fenomena penurunan suhu udara secara drastis ini dikenal luas oleh masyarakat Jawa sebagai fenomena bediding.

BPBD Kota Kediri meminta masyarakat tidak panik.

Kondisi atmosfer ini merupakan siklus alam yang wajar terjadi secara periodik setiap tahunnya.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Kediri, Joko Arianto, memaparkan bahwa fenomena bediding merupakan penanda kuat bahwa wilayah Jawa Timur telah memasuki puncak musim kemarau.

Secara ilmiah, Joko menerangkan karakteristik massa udara dari benua Australia bersifat kering dan minim uap air.

Hal ini berimbas pada menipisnya pembentukan awan di langit nusantara, termasuk di atas langit Kediri Raya.

Tanpa adanya pembentukan awan yang berfungsi sebagai selimut bumi, radiasi panas matahari yang diserap bumi pada siang hari akan langsung dipantulkan kembali dan terlepas bebas ke atmosfer pada malam hari tanpa ada hambatan.

Proses pelepasan panas yang berlangsung cepat inilah yang memicu suhu udara merosot tajam pada malam, dini hari, hingga menjelang subuh.

Berdasarkan data koordinasi antara BPBD dengan BMKG Dhoho Kediri, cuaca dingin ekstrem ini diperkirakan masih akan setia menemani aktivitas warga sepanjang musim kemarau, yakni hingga bulan September mendatang.

Karakteristik lain yang menyertai fenomena ini adalah penurunan tingkat kelembapan udara secara drastis serta embusan angin yang terasa lebih kencang.

Informasi lengkap dan menarik lainnya di Tribunjatim.com

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.