Israel Abaikan Deal Iran-AS: Lebanon Terus Digempur, 27 Orang Tewas
Bobby Wiratama June 21, 2026 04:38 AM

 

TRIBUNNEWS.COM – Situasi di Timur Tengah kembali memanas setelah kesepakatan gencatan senjata yang baru berumur satu hari dilaporkan runtuh.

Hal ini terjadi setelah Pasukan Pertahanan Israel (IDF) meluncurkan gelombang serangan udara besar-besaran yang menyasar wilayah selatan dan timur Lebanon sejak malam hari hingga Sabtu (20/6/2026) siang waktu setempat atau malam Waktu Indonesia Barat (WIB).

Pihak militer Israel berdalih bahwa operasi ini dilakukan untuk menargetkan kelompok Hizbullah, setelah kelompok yang disokong oleh Iran tersebut dituduh menyerang tentara Israel dan melanggar perjanjian damai yang baru saja disepakati.

Berdasarkan laporan dari media lokal Lebanon dan tim penyelamat di lokasi kejadian, dampak dari serangan udara bertubi-tubi ini sangat mematikan.

Setidaknya 27 orang dilaporkan tewas dan 26 lainnya mengalami luka-luka akibat gempuran yang menghancurkan sejumlah kawasan permukiman tersebut.

Perintah Netanyahu

Baca juga: Israel-Hizbullah Perbarui Gencatan Senjata, tapi Serangan Berlanjut di Lebanon

Sebelum gelombang serangan balasan ini meningkat, pihak IDF menyatakan bahwa mereka sebenarnya berkomitmen pada kesepakatan gencatan senjata Iran-AS untuk tak menyerang Lebanon. 

Melansir dari Times of Israel, hal ini dibenarkan oleh seorang pejabat militer Israel.

Narasumber anonim tersebut mengungkapkan bahwa Perdana Menteri Benjamin Netanyahu bersama Menteri Pentahapan Israel Katz sebenarnya telah menginstruksikan IDF untuk menahan tembakan di Lebanon.

Laporan serupa juga dikabarkan stasiun televisi lokal Israel Channel 12 yang menyampaikan adanya instruksi untuk menahan diri setelah adanya koordinasi antara eselon politik dan Amerika Serikat.\

Langkah ini awalnya diharapkan mampu menjaga stabilitas yang sangat rapuh di wilayah perbatasan kedua negara.

Namun, ketegangan tidak dapat dibendung.

Seorang pejabat senior kemudian menyatakan bahwa Netanyahu menegaskan posisi negaranya bahwa Israel akan tetap berada di Lebanon selatan

Kantor Perdana Menteri Netanyahu juga menyebut Militer Israel disebut akan bertahan di wilayah tersebut selama waktu yang diperlukan untuk membela perbatasan utaranya,

Gempuran 300 Target

Dalam pernyataan resmi yang dirilis oleh Kantor Perdana Menteri Israel, disebutkan alasan kenapa serangan ke Lebanon kembali dilakukan.

“Sebagai respons terhadap serangan Hizbullah selama dua hari terakhir, IDF menyerang 300 target teror dan mengeliminasi sekitar 100 teroris.” ungkap Kantor Netanyahu.

“jika Hizbullah menyerang kami lagi, kami akan menyerangnya dengan kuat sekali lagi.” tegas pihak Tel Aviv.

Hingga saat ini, militer Israel belum memberikan informasi rinci mengenai adanya korban jiwa atau luka dari pihak mereka akibat serangan Hizbullah.

Meski demikian, IDF menegaskan bahwa tindakan Hizbullah merupakan pelanggaran berulang terhadap perjanjian gencatan senjata.

Dalam penjelasan lanjutannya, perwakilan militer menegaskan posisi tegas Israel terkait keselamatan warga dan pasukannya.

“IDF tidak akan menerima kerugian bagi warga sipil Israel dan pasukannya, dan akan merespons dengan kuat setiap penggunaan kekuatan terhadap mereka,”  ungkap pihak militer Israel seraya menambahkan bahwa target Hizbullah yang dihantam pada hari Sabtu mencakup peluncur roket, depot senjata, dan pusat komando.

Bantahan Pihak Hizbullah

Di sisi lain, kelompok Hizbullah memberikan klaim yang bertolak belakang.

Mereka menegaskan telah mematuhi gencatan senjata sejak Jumat siang (19/6/2026).

Kendati demikian, Hizbullah tidak menampik bahwa mereka melakukan perlawanan terhadap pasukan Israel yang mencoba merangsek maju di Lebanon selatan pada malam harinya.

Tuduhan pelanggaran ini memicu reaksi diplomatik yang keras dari utusan Israel.

Baca juga:  Sentil Netanyahu, Trump: Tanpa Bantuan AS, Israel Sudah Hancur Lebur

Duta Besar Israel untuk Amerika Serikat, Yechiel Leiter, melalui akun resminya di media sosial X pada hari Sabtu menuduh Hizbullah secara langsung sebagai provokator yang mencoba merusak gencatan senjata.

“Hizbullah yang melanggar gencatan senjata, bukan Israel. Teroris berbohong. Hizbullah adalah organisasi teroris. Hizbullah berbohong.”

Yechiel Leiter juga menilai ada agenda politik regional di balik pergerakan Hizbullah.

“Iran menggunakan proksinya (Hizbullah) untuk memeras konsesi, Israel selama ini tidak memiliki ambisi teritorial di Lebanon.” terang Leiter.

“Israel menghormati gencatan senjata sambil membela diri dari serangan teroris, seperti yang akan dilakukan oleh negara mana pun yang menghargai dirinya sendiri.” sambungnya.

Leiter jufa membeberkan data intelijen militer terkait intensitas serangan yang dilancarkan oleh Hizbullah di wilayah Lebanon selatan.

Ia menyebutkan terdapat belasan desa yang dijadikan titik peluncuran roket sepanjang hari terakhir.

“Hizbullah menembakkan lebih dari 175 proyektil ke arah tentara Israel di Lebanon selatan.”

Secara spesifik, Leiter juga menuliskan bahwa Hizbullah menembakkan 50 roket ke tentara Israel dalam kurun waktu 24 jam,

Total. Leiter mengklaim Hizbullah telah melepaskan 147 roket, 20 pesawat tanpa awak (drone), serta 9 rudal antitank ke arah posisi pasukan Israel.

Kelanjutan aksi saling serang dan operasi militer Israel yang terus berlangsung di Lebanon ini dinilai mengacaukan upaya perdamaian yang tengah dimediasi oleh Amerika Serikat dan Iran.

Jet tempur dan drone Israel dilaporkan terus membombardir wilayah Nabatieh, menghancurkan rumah-rumah tinggal dan gedung permukiman warga.

Tak hanya serangan udara, artileri berat Israel juga membombardir area perkotaan dan pinggiran kota Nabatieh sebelum fajar menyingsing.

Pihak militer resmi Lebanon mengonfirmasi bahwa salah satu tentara mereka gugur akibat serangan udara Israel yang menghantam jalur transportasi antara Kfarrumman dan Nabatieh.

Selain wilayah selatan, kehancuran akibat operasi udara IDF juga dilaporkan melanda wilayah Lembah Beqaa bagian timur, yang dikenal sebagai basis pertahanan Hizbullah.

(Tribunnews.com/Bobby)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.