TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Warga Kalimantan Barat (Kalbar), terutama Kabupaten Sintang tengah dihebohkan dengan kasus remaja berinisial RW (17) yang dilaporkan tenggelam di kawasan Danau Biru, Kelurahan Sengkuang pada Sabtu 20 Juni 2026 pagi WIB.
Kasus ini langsung viral di media sosial.
Laporan kasus RW ini menambah rentetan kasus tenggelam di Kalbar sepanjang 2026.
Peristiwa ini menimbulkan duka mendalam bagi keluarga korban sekaligus menjadi pengingat penting akan keselamatan di perairan.
• "Saya Sudah Banyak Minum Air" Pengakuan Tegar Nyaris Tenggelam Saat Coba Selamatkan RW di Danau Biru
1. Kubu Raya - Sungai Kapuas
Yahdi Arriansyah (20) jatuh dari KM Sulawesi di Sungai Kapuas, ditemukan meninggal setelah 3 hari pencarian (30 Mei 2026).
2. Pontianak - Sungai Kapuas
Fatur (8) tenggelam di Sungai Kapuas, jasad ditemukan 200 meter dari lokasi hilang pada 28 Mei 2026
3. Landak - Sungai Landak
Khairul Umam (35) jatuh dari kapal kelotok di Sungai Landak akibat riwayat penyakit ayan.
Ia ditemukan meninggal setelah 4 jam pencarian pada 27 Mei 2026.
4. Sintang – Sungai Melawi
Tiga pelajar (ANG, DR, FN) tenggelam saat bermain di Sungai Melawi pada 12 Februari 2026.
Semua korban ditemukan meninggal dunia oleh tim SAR dan damkar Sintang pada hari yang sama.
5. Sintang – Danau Biru
Seorang mahasiswa berinisial RW (17) tenggelam saat berenang di Danau Biru pada 20 Juni 2026.
Rekan korban sempat berusaha menolong, namun gagal karena kehabisan tenaga.
• Detik-detik Mencekam RW Minta Tolong di Danau Biru Sintang, Pegangan Saksi Terlepas Karena Tak Kuat
Kesaksian Tegar, rekan korban tenggelam di Danau Biru, membuka kronologi peristiwa yang berujung tragis pada pagi hari itu.
Ia menuturkan, awalnya aktivitas mereka bukan untuk berenang, melainkan jogging di sekitar Stadion Baning.
“Awalnya hanya jogging di stadion. Kami berdua sama kawan yang lain. Renang ini hanya pilihan buat kami berdua dengan teman yang lain. Bukan sama korban. Lalu korban pengen ikut renang. Jogging itu pun korban gak ikut,” ujarnya di lokasi pencarian, Sabtu siang WIB.
Menurut Tegar, korban justru menjadi orang pertama yang masuk ke air dan berenang ke arah tengah danau.
“Awalnya kami berdua posisinya belum berenang. Yang satu ini dia berenang duluan. Saya menyusul berenang. Dia sudah lebih dulu berada di tengah, sekitar lima meter dari daratan,” katanya.
Setelah beberapa saat, Tegar memilih naik ke daratan.
Namun ketika menoleh ke belakang, ia melihat korban berteriak minta tolong.
“Saya sudah duluan naik ke daratan. Dia masih di danau. Pas saya menoleh ke belakang, dia sudah teriak minta tolong,” ungkapnya.
Tanpa pikir panjang, Tegar kembali terjun ke air untuk menolong.
“Saya langsung terjun. Saya berniat menolong dia. Waktu itu kepalanya masih terlihat di permukaan air,” katanya.
Namun upaya itu gagal.
Ia mengaku tenaganya habis dan hampir ikut tenggelam.
Saya sudah capek, hampir tenggelam juga. Sudah banyak minum air. Saya tidak sempat pegang fisiknya. Setelah itu saya ke tepi dan panggil warga,” ujarnya.
Tegar menambahkan, ia tidak mengetahui pasti penyebab korban kesulitan berenang.
“Saya juga kurang tahu, mungkin habis begadang di kos kawan malam sebelumnya. Tapi yang namanya musibah, kami tidak tahu,” tuturnya.
(*)