Dari Polisi Daerah ke Tanah Suci, IPTU Saparuddin Mengabdi untuk Ribuan Jemaah Haji Indonesia
Muh Hasim Arfah June 21, 2026 07:22 AM

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKKAH – Musim haji tidak hanya menjadi momentum ibadah bagi jutaan umat Islam dari berbagai penjuru dunia.

Haji menjadi arena pengabdian bagi para petugas yang bekerja di balik layar.

Demi memastikan seluruh rangkaian ibadah berjalan lancar.

Salah satu sosok yang turut mengemban tugas tersebut adalah IPTU Saparuddin, anggota Polda Sulawesi Tengah yang dipercaya menjadi petugas haji Indonesia pada penyelenggaraan haji 1447 Hijriah/2026 Masehi.

Pengalaman bertugas di Tanah Suci menjadi babak baru dalam perjalanan pengabdiannya sebagai aparat negara.

Sebelum berangkat ke Arab Saudi, Saparuddin harus melewati tahapan seleksi yang cukup ketat.

Mulai dari verifikasi administrasi, pemeriksaan kesehatan, ujian berbasis komputer, hingga wawancara. 

Baca juga: PHD Wonosobo Jateng Soroti Peran Gus Muda, Manasik Haji Harus Ikuti Realitas Lapangan

Saat mengikuti proses seleksi tersebut, ia masih menjabat sebagai Kapolsek Mori Atas, Kabupaten Morowali Utara.

Setelah dinyatakan lolos, ia mengikuti pembekalan intensif selama hampir tiga pekan di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta.

Pelatihan yang melibatkan instruktur dari unsur TNI, Polri, dan Kementerian Haji itu bertujuan membentuk petugas yang disiplin, tangguh, dan siap menghadapi berbagai situasi di lapangan.

Di Arab Saudi, Saparuddin mendapat amanah sebagai Wakil Kepala Pos Terminal Ajyad.

Posisi tersebut menuntutnya mengawasi dan mengoordinasikan operasional ratusan bus shalawat yang melayani puluhan ribu jemaah Indonesia di kawasan Misfalah, Makkah.

Menurutnya, bus shalawat merupakan sarana transportasi vital bagi jemaah untuk menuju dan kembali dari Masjidil Haram.

Karena itu, kelancaran operasional armada harus dijaga setiap saat, terutama ketika kawasan terminal dipadati jemaah dari berbagai negara.

“Petugas harus mampu bertindak cepat, tegas, sekaligus humanis. Sebab yang dilayani bukan hanya jemaah Indonesia, tetapi juga berada di tengah mobilitas jutaan orang dari berbagai negara,” ujarnya.

Selain bertugas di terminal, Saparuddin juga terlibat dalam operasional Armuzna, khususnya saat proses pergerakan jemaah dari Muzdalifah menuju Mina.

Ia bersyukur seluruh tahapan dapat berjalan lancar tanpa kendala berarti, termasuk proses pemberangkatan jemaah menuju Arafah dan pemindahan jemaah ke Mina.

Ia menyebut keberhasilan tersebut merupakan hasil kerja sama seluruh unsur petugas haji yang bekerja tanpa mengenal waktu demi memastikan keamanan dan kenyamanan jemaah selama menjalankan ibadah.

Salah satu pengalaman yang paling berkesan baginya adalah saat membantu menemukan seorang jemaah Indonesia yang terpisah dari rombongan dan sempat dicari keluarganya selama satu hari.

Setelah ditemukan, jemaah tersebut segera diantar kembali ke lokasi pemondokan di Mina dalam keadaan selamat.

Keluarga jemaah yang merasa terbantu sempat menawarkan sejumlah uang sebagai bentuk terima kasih.

Namun Saparuddin bersama tim memilih menolaknya. Baginya, melayani jemaah haji merupakan amanah yang harus dijalankan dengan ikhlas.

“Kami tidak mengharapkan imbalan apa pun. Bisa membantu dan memastikan jemaah kembali dengan selamat sudah menjadi kebahagiaan tersendiri. Mereka adalah tamu Allah yang harus dilayani sebaik mungkin,” tuturnya.

Usai menuntaskan tugas di Tanah Suci, Saparuddin akan kembali menjalankan amanah sebagai anggota Polri di Sulawesi Tengah.

Meski demikian, pengalaman bertugas melayani jemaah haji akan selalu menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya.

Bagi Saparuddin, tugas haji mengajarkannya bahwa pengabdian tidak hanya diwujudkan melalui penegakan hukum, tetapi juga melalui pelayanan kemanusiaan.

Di tengah jutaan jemaah yang datang memenuhi panggilan Allah, ia menemukan makna bahwa membantu sesama dengan tulus adalah bentuk ibadah yang tak kalah mulia.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.