TRIBUNKALTIM.CO - Situasi keamanan di Timur Tengah kembali memburuk setelah gencatan senjata yang baru berlangsung sehari dilaporkan gagal dipertahankan.
Militer Israel melancarkan serangan udara besar-besaran ke sejumlah wilayah di Lebanon selatan dan timur pada Sabtu (20/6/2026), memicu jatuhnya korban jiwa dan kerusakan luas.
Menurut laporan otoritas setempat, serangan yang menyasar kawasan permukiman itu menewaskan sedikitnya 27 orang dan melukai 26 lainnya.
Gempuran juga menyebabkan kerusakan pada rumah-rumah warga di sejumlah kota yang selama ini dikenal sebagai basis pengaruh Hizbullah.
Baca juga: Iran Sebut Gaza Masuk Rencana Perdamaian Regional, Tegaskan Upaya Gencatan Senjata dengan AS
Pemerintah Israel menyatakan operasi militer tersebut dilakukan sebagai respons atas serangan yang disebut dilakukan Hizbullah terhadap pasukan mereka.
Tel Aviv menuding kelompok yang didukung Iran itu telah melanggar kesepakatan gencatan senjata dan mengancam keamanan wilayah perbatasan Israel.
Di sisi lain, Hizbullah membantah tuduhan tersebut dan menegaskan tetap mematuhi perjanjian damai yang berlaku.
Saling tuding antara kedua pihak membuat upaya perdamaian yang dimediasi Amerika Serikat dan Iran kembali berada di ujung tanduk, sementara kondisi di Lebanon terus memanas akibat berlanjutnya operasi militer Israel.
Sebelum gelombang serangan balasan ini meningkat, pihak IDF menyatakan bahwa mereka sebenarnya berkomitmen pada kesepakatan gencatan senjata Iran-AS untuk tak menyerang Lebanon.
Melansir dari Times of Israel, hal ini dibenarkan oleh seorang pejabat militer Israel.
Narasumber anonim tersebut mengungkapkan bahwa Perdana Menteri Benjamin Netanyahu bersama Menteri Pentahapan Israel Katz sebenarnya telah menginstruksikan IDF untuk menahan tembakan di Lebanon.
Laporan serupa juga dikabarkan stasiun televisi lokal Israel Channel 12 yang menyampaikan adanya instruksi untuk menahan diri setelah adanya koordinasi antara eselon politik dan Amerika Serikat.
Langkah ini awalnya diharapkan mampu menjaga stabilitas yang sangat rapuh di wilayah perbatasan kedua negara.
Namun, ketegangan tidak dapat dibendung.
Seorang pejabat senior kemudian menyatakan bahwa Netanyahu menegaskan posisi negaranya bahwa Israel akan tetap berada di Lebanon selatan
Kantor Perdana Menteri Netanyahu juga menyebut Militer Israel disebut akan bertahan di wilayah tersebut selama waktu yang diperlukan untuk membela perbatasan utaranya.
Baca juga: Kesepakatan Damai Amerika Serikat dengan Iran Picu Kejatuhan Harga Emas Dunia
Dalam pernyataan resmi yang dirilis oleh Kantor Perdana Menteri Israel, disebutkan alasan kenapa serangan ke Lebanon kembali dilakukan.
“Sebagai respons terhadap serangan Hizbullah selama dua hari terakhir, IDF menyerang 300 target teror dan mengeliminasi sekitar 100 teroris.” ungkap Kantor Netanyahu.
“jika Hizbullah menyerang kami lagi, kami akan menyerangnya dengan kuat sekali lagi.” tegas pihak Tel Aviv.
Hingga saat ini, militer Israel belum memberikan informasi rinci mengenai adanya korban jiwa atau luka dari pihak mereka akibat serangan Hizbullah.
Meski demikian, IDF menegaskan bahwa tindakan Hizbullah merupakan pelanggaran berulang terhadap perjanjian gencatan senjata.
Dalam penjelasan lanjutannya, perwakilan militer menegaskan posisi tegas Israel terkait keselamatan warga dan pasukannya.
“IDF tidak akan menerima kerugian bagi warga sipil Israel dan pasukannya, dan akan merespons dengan kuat setiap penggunaan kekuatan terhadap mereka,” ungkap pihak militer Israel seraya menambahkan bahwa target Hizbullah yang dihantam pada hari Sabtu mencakup peluncur roket, depot senjata, dan pusat komando.
Baca juga: 3 Perbandingan Utama Kebijakan Iran Era Donald Trump dengan Barack Obama
Di sisi lain, kelompok Hizbullah memberikan klaim yang bertolak belakang.
Mereka menegaskan telah mematuhi gencatan senjata sejak Jumat siang (19/6/2026).
Kendati demikian, Hizbullah tidak menampik bahwa mereka melakukan perlawanan terhadap pasukan Israel yang mencoba merangsek maju di Lebanon selatan pada malam harinya.
Tuduhan pelanggaran ini memicu reaksi diplomatik yang keras dari utusan Israel.
Duta Besar Israel untuk Amerika Serikat, Yechiel Leiter, melalui akun resminya di media sosial X pada hari Sabtu menuduh Hizbullah secara langsung sebagai provokator yang mencoba merusak gencatan senjata.
“Hizbullah yang melanggar gencatan senjata, bukan Israel. Teroris berbohong. Hizbullah adalah organisasi teroris. Hizbullah berbohong.”
Yechiel Leiter juga menilai ada agenda politik regional di balik pergerakan Hizbullah.
“Iran menggunakan proksinya (Hizbullah) untuk memeras konsesi, Israel selama ini tidak memiliki ambisi teritorial di Lebanon.” terang Leiter.
“Israel menghormati gencatan senjata sambil membela diri dari serangan teroris, seperti yang akan dilakukan oleh negara mana pun yang menghargai dirinya sendiri.” sambungnya.
Leiter jufa membeberkan data intelijen militer terkait intensitas serangan yang dilancarkan oleh Hizbullah di wilayah Lebanon selatan.
Baca juga: Kesepakatan Damai AS-Iran Bikin Harga Minyak Turun, Saham Asia Kembali Menguat
Ia menyebutkan terdapat belasan desa yang dijadikan titik peluncuran roket sepanjang hari terakhir.
“Hizbullah menembakkan lebih dari 175 proyektil ke arah tentara Israel di Lebanon selatan.”
Secara spesifik, Leiter juga menuliskan bahwa Hizbullah menembakkan 50 roket ke tentara Israel dalam kurun waktu 24 jam,
Total. Leiter mengklaim Hizbullah telah melepaskan 147 roket, 20 pesawat tanpa awak (drone), serta 9 rudal antitank ke arah posisi pasukan Israel.
Kelanjutan aksi saling serang dan operasi militer Israel yang terus berlangsung di Lebanon ini dinilai mengacaukan upaya perdamaian yang tengah dimediasi oleh Amerika Serikat dan Iran.
Jet tempur dan drone Israel dilaporkan terus membombardir wilayah Nabatieh, menghancurkan rumah-rumah tinggal dan gedung permukiman warga.
Tak hanya serangan udara, artileri berat Israel juga membombardir area perkotaan dan pinggiran kota Nabatieh sebelum fajar menyingsing.
Pihak militer resmi Lebanon mengonfirmasi bahwa salah satu tentara mereka gugur akibat serangan udara Israel yang menghantam jalur transportasi antara Kfarrumman dan Nabatieh.
Selain wilayah selatan, kehancuran akibat operasi udara IDF juga dilaporkan melanda wilayah Lembah Beqaa bagian timur, yang dikenal sebagai basis pertahanan Hizbullah.