Menengok Naskah Eyang Raksa Jagat: Keluarga Tafsirkan Soal Tsunami Pangandaran dan Prediksi 2051
Muhamad Syarif Abdussalam June 21, 2026 11:11 AM

TRIBUNJABAR.ID, PANGANDARAN - Sebuah manuskrip kuno yang diwariskan secara turun-temurun oleh keluarga Eyang Raksa Jagat menjadi perhatian masyarakat di Kabupaten Pangandaran dan akhir-akhir ini viral di media sosial.

Dokumen yang diklaim berusia ratusan tahun tersebut disebut tidak hanya merekam jejak sejarah, tetapi juga berisi sejumlah catatan yang ditafsirkan berkaitan dengan kondisi sosial, peristiwa alam, hingga gambaran masa depan Pangandaran.

Naskah itu kini berada dalam penyimpanan Yana Budiana, yang lebih dikenal dengan nama Yana Macan, warga Pangandaran.

Usia manuskrip yang menurutnya telah sangat tua membuat kondisi fisiknya mulai mengalami pelapukan. Meski demikian, sebagian isi dokumen telah diterjemahkan ke dalam bahasa Sunda modern agar lebih mudah dipahami oleh generasi penerus.

"Ini mah hak paten keluarga (hak paten saya). Ini manuskrip yang sejarahnya lintasan turun-temurun," ujar Yana kepada sejumlah wartawan di Babakan, Pangandaran, Sabtu (20/6/2026).

Pada salah satu bagian, tertulis frasa "Pangan jeung Daharan" yang dimaknai sebagai penjabaran soal penghidupan sekaligus sumber pangan.

Menurut penafsiran pemilik manuskrip, kalimat tersebut menggambarkan Pangandaran sebagai daerah yang memberikan peluang kesejahteraan bagi masyarakat yang datang untuk mencari penghidupan.

Selain itu, naskah tersebut juga memuat keterangan mengenai susunan masyarakat Pangandaran. Dalam catatan itu disebutkan bahwa wilayah tersebut dihuni oleh dua kelompok etnis besar, yakni Sunda dan Jawa, yang hidup berdampingan secara harmonis.

"Dua etnis di Pangandaran bersatu. Banyak Jawa, Sundanya juga banyak. Budayanya ada kuda lumping dan ronggeng gunung," kata Yana membacakan terjemahan isi naskah.

Gambaran tersebut dinilai memiliki kesesuaian dengan kondisi sosial Pangandaran saat ini yang berada di kawasan perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah, tempat budaya Sunda dan Jawa berkembang bersama dalam kehidupan masyarakat.

Isi manuskrip tidak hanya membahas aspek sosial, tetapi juga memuat sejumlah catatan yang dikaitkan dengan fenomena alam.

Salah satu bagian menyebut kalimat cai laut wetan, cai laut kulon amprok atau air laut timur dan barat bertemu.

Yana menafsirkan bagian tersebut sebagai gambaran terhadap peristiwa tsunami yang menerjang kawasan pesisir Pangandaran pada 17 Juli 2006.

Namun, hubungan antara isi manuskrip dengan peristiwa tsunami tersebut merupakan interpretasi pemilik naskah dan hingga kini belum didukung kajian akademik yang membuktikan keterkaitan historis maupun ilmiahnya.

Bagian lain yang menarik perhatian terdapat pada catatan mengenai tahun 2051. Dalam manuskrip tertulis kalimat "hulu Pananjung misah jeung awak" yang diterjemahkan sebagai ujung Pananjung akan terpisah dari daratan utama.

Menurut Yana, prediksi itu berkaitan dengan kondisi geografis Pananjung yang dalam cerita turun-temurun disebut pernah berupa jalur aliran air dan kawasan rawa sebelum mengalami penimbunan.

"Itu akan terjadi kembali, misah sendiri. Pada tahun 2051," ucap Yana.

Selain Pananjung, manuskrip tersebut juga menyinggung wilayah Cimerak yang disebut akan mengalami kemakmuran sekaligus kerusakan pemerataan.

Pemilik naskah mengaitkan catatan tersebut dengan aktivitas pemanfaatan sumber daya alam yang menurutnya berpengaruh terhadap kondisi lingkungan.

Pada bagian lain, manuskrip juga mencantumkan bahwa pusat pemerintahan Kabupaten Pangandaran berada di Parigi serta menyebut nama Cinta Ratu sebagai sebutan lama kawasan tersebut.

Meski pernah ada permintaan agar manuskrip tersebut dihimpun untuk kepentingan dokumentasi, Yana memutuskan tetap menyimpannya dalam lingkungan keluarga.

Keputusan itu diambil karena ia menilai naskah tersebut rentan mengalami kerusakan apabila dipindahkan, sekaligus sebagai upaya menjaga warisan leluhur tetap utuh.

Bagi keluarga pemiliknya, manuskrip itu tidak semata dipandang sebagai kumpulan prediksi, melainkan bagian dari peninggalan budaya dan sejarah lokal yang terus dipelihara.

Meski demikian, Yana menegaskan bahwa seluruh isi prediksi dalam naskah tersebut tetap berada dalam ranah keyakinan dan penafsiran.

"Wallahu a’lam, soal kebenarannya hanya Tuhan yang tahu," ujarnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.