Baru Tiga Hari Damai, Iran Kembali Tutup Selat Hormuz usai Israel Serang Lebanon
Faisal Zamzami June 21, 2026 12:36 PM

SERAMBINEWS.COM, TEHERAN – Iran kembali menutup Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia dan gas alam cair global, menyusul serangan Israel ke wilayah Lebanon Selatan pada Jumat (19/6/2026).

Langkah Teheran itu diambil hanya tiga hari setelah Iran dan Amerika Serikat (AS) menandatangani kesepakatan damai sementara pada Rabu (17/6/2026).

Dalam kesepakatan tersebut, kedua pihak sepakat menghentikan serangan secara permanen di seluruh front konflik, termasuk di Lebanon, serta membuka kembali Selat Hormuz.

Namun, keputusan Iran menutup kembali jalur vital tersebut langsung dibantah pihak militer AS.

Juru bicara Komando Pusat AS (CENTCOM), Tim Hawkins, menegaskan bahwa lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz masih berlangsung normal.

“Pasukan AS terus memantau situasi untuk memastikan pelayaran komersial tetap berjalan aman. Iran tidak mengendalikan Selat Hormuz,” kata Hawkins.

Baca juga: Hizbullah: Israel Berupaya Gagalkan Kesepakatan AS-Iran Lewat Serangan di Lebanon

Iran tuding AS langgar kesepakatan

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, mengatakan Teheran akan menuntut pihak-pihak terkait agar memenuhi komitmen dalam perjanjian damai yang telah disepakati.

Menurut Iran, serangan Israel ke Lebanon Selatan merupakan pelanggaran terhadap nota kesepahaman 14 poin antara Teheran dan Washington.

Salah satu klausul utama dalam kesepakatan itu adalah penghentian segera dan permanen operasi militer di semua front, termasuk Lebanon.

Militer Iran menuduh AS turut bertanggung jawab karena dinilai gagal menjalankan komitmen awal perjanjian, terutama dalam menjamin penghentian serangan di kawasan konflik yang menjadi bagian dari kesepakatan damai.

Pada awal pekan ini, Presiden AS Donald Trump dan otoritas Iran menandatangani kesepakatan awal yang bertujuan mengakhiri perang. Selain gencatan senjata, perjanjian itu juga mencakup komitmen melanjutkan pembicaraan menuju kesepakatan final dalam waktu 60 hari.

Pakistan ikut terlibat dalam perundingan

Kantor Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, menyatakan Sharif akan menghadiri pembukaan perundingan lanjutan AS-Iran.

Pakistan diketahui berperan sebagai mediator selama konflik berlangsung, termasuk menjadi tuan rumah putaran negosiasi AS-Iran di Islamabad pada April lalu.

Sementara itu, Wakil Presiden AS JD Vance telah bertolak dari Washington menuju Swiss pada Sabtu (20/6/2026) untuk mengikuti perundingan lanjutan.

Kepada wartawan, Vance mengaku berharap pembicaraan itu dapat menghasilkan kemajuan, khususnya terkait isu nuklir Iran dan gencatan senjata di Lebanon.

Saat ditanya mengenai bentrokan antara Israel dan Hizbullah, serta serangan udara Israel di Lebanon selatan, Vance menyebut situasi secara umum mulai membaik meski ketegangan belum sepenuhnya reda.

“Kita harus terus mengelola situasi ini agar Israel dan Lebanon sama-sama aman dan terlindungi. Tujuan utamanya adalah menjadikan seluruh kawasan aman dan stabil,” ujar Vance.

Baca juga: Update Hari ke-113 Perang Iran: Teheran Desak AS Kendalikan Israel, Damai Terancam Gagal?

Trump ancam berlakukan tarif di Selat Hormuz

Di tengah ketegangan yang kembali meningkat, Donald Trump pada Sabtu menulis di media sosial bahwa AS dapat memberlakukan tarif di Selat Hormuz jika Washington dan Teheran gagal mencapai kesepakatan dalam proses negosiasi.

Pernyataan itu menambah ketidakpastian di tengah situasi keamanan kawasan yang belum sepenuhnya stabil, meski perjanjian damai sementara baru saja diumumkan beberapa hari sebelumnya.

Kapal tanker masih melintasi Selat Hormuz

Meski Iran menyatakan menutup kembali Selat Hormuz, data pelacakan kapal yang dipantau BBC Verify menunjukkan sedikitnya lima kapal tanker tetap melintasi selat tersebut pada Sabtu.

Di saat yang sama, beberapa kapal lainnya dilaporkan berbalik arah dari kawasan itu.

Sebelumnya, CENTCOM juga menyebut lalu lintas pelayaran komersial di jalur tersebut justru mengalami peningkatan. Menurut data militer AS, sebanyak 55 kapal dagang melintasi Selat Hormuz pada Sabtu.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran energi paling penting di dunia. Setiap gangguan di kawasan ini berpotensi memicu lonjakan harga minyak global dan memperburuk ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Serangan Israel di Lebanon picu ketegangan baru

Pengumuman Iran menutup kembali Selat Hormuz muncul setelah serangan udara Israel di Lebanon Selatan menewaskan sedikitnya 20 orang, kurang dari 24 jam setelah gencatan senjata baru antara Israel dan Hizbullah diumumkan.

Kementerian Kesehatan Lebanon menyatakan, sejak konflik kembali memanas pada 2 Maret 2026, sedikitnya 4.057 orang telah tewas akibat perang antara Israel dan Hizbullah.

Media pemerintah Lebanon melaporkan salah satu serangan Israel menghantam Kota Barich dan menewaskan satu keluarga yang terdiri dari empat orang.

Di sisi lain, militer Israel menyatakan seorang tentaranya tewas dalam pertempuran di Lebanon Selatan pada Sabtu.

Sebelumnya, pejabat Israel menegaskan mereka tidak berniat menarik pasukan dari Lebanon. Pemerintah Israel juga menyebut konflik dengan Hizbullah merupakan persoalan terpisah dari perang melawan Iran.

Sebaliknya, Hizbullah menilai serangan Israel ke Lebanon merupakan upaya untuk menggagalkan kesepakatan yang lebih luas antara AS dan Iran.

Pemerintah AS sendiri disebut turut mengkritik operasi militer Israel yang terus berlangsung di wilayah Lebanon.

Lebanon terseret lebih jauh ke dalam konflik regional setelah Hizbullah meluncurkan roket ke Israel sebagai respons atas serangan gabungan AS-Israel yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran.

Situasi masih sangat cair

Penutupan kembali Selat Hormuz menandai rapuhnya kesepakatan damai sementara antara AS dan Iran.

Meski Washington menegaskan pelayaran di selat itu masih berlangsung, langkah Teheran menunjukkan bahwa konflik di Lebanon kini menjadi titik rawan yang dapat menggagalkan proses perdamaian yang baru berjalan hitungan hari.

Jika tidak segera dikendalikan, eskalasi di Lebanon dan Selat Hormuz berpotensi menyeret kawasan Timur Tengah ke babak konflik yang lebih luas, sekaligus mengguncang stabilitas pasar energi dunia.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.