Kansas City | Penjaga gawang Curaçao, Eloy Room, melakukan 15 penyelamatan luar biasa menghadapi serangan tanpa henti dari Ekuador, membantu tim berjuluk The Blue Wave meraih hasil imbang 0-0 melawan La Tri yang lebih diunggulkan pada Sabtu malam, sekaligus memberikan negara pulau kecil itu poin pertamanya sepanjang sejarah di Piala Dunia.
Hasil tersebut juga memastikan Jerman, yang sebelumnya pada hari yang sama mengalahkan Pantai Gading, mengamankan posisi puncak di Grup E.
Room, kiper berusia 37 tahun yang membawa Curaçao lolos ke Piala Dunia pertamanya berkat clean sheet melawan Jamaika pada November lalu, bangkit dari kekalahan telak 7-1 atas Jerman dengan penampilan gemilang yang kini dianggap sebagai salah satu performa penjaga gawang terbaik dalam sejarah Piala Dunia.
Total penyelamatan Room hanya terpaut satu dari rekor sepanjang masa – sejak penyelamatan resmi dihitung pada tahun 1966 – yakni 16 penyelamatan yang dicatat oleh Tim Howard dari Amerika Serikat saat menghadapi Belgia pada 1 Juli 2014.
Hasil imbang ini belum memastikan kelolosan ataupun eliminasi bagi kedua tim, namun situasi menjadi sulit bagi Ekuador menjelang laga terakhir fase grup. Pertandingan penentuan dijadwalkan Kamis mendatang, dengan Curaçao menghadapi Pantai Gading di Philadelphia, sementara Ekuador bertemu Jerman di New York.
Ekuador jelas mendapatkan keuntungan atmosfer kandang pada Sabtu malam, di stadion markas Kansas City Chiefs.
Pendukung mereka, yang mengenakan kaus kuning cerah seperti para pemainnya, memenuhi stadion hingga tampak seperti lautan warna kuning, menyerupai konvensi karakter Minions.
Di antara lautan pendukung Ekuador, hanya ada beberapa kelompok kecil penggemar Curaçao berpakaian biru di stadion yang kapasitasnya bisa menampung setengah populasi pulau tersebut.
Beberapa pemain Kansas City Royals seperti Bobby Witt Jr, Salvador Perez, dan Starling Marte juga terlihat hadir di antara penonton.
Tekanan bagi Ekuador semakin besar sejak Sabtu pagi, ketika gol Deniz Undav di masa tambahan waktu membawa Jerman menang 2-1 atas Pantai Gading. Hasil pertandingan di Toronto itu membuat La Tri berada di ambang eliminasi dari Piala Dunia jika kalah dari The Blue Wave.
Curaçao memastikan tekanan tersebut terus berlanjut begitu pertandingan dimulai.
Sepanjang babak pertama, tim asuhan pelatih berusia 78 tahun, Dick Advocaat, beberapa kali menemukan celah di jantung pertahanan Ekuador dan menciptakan peluang terbuka ke gawang. Namun setiap kali peluang muncul, serangan Curaçao kerap kandas akibat umpan yang tidak akurat atau tembakan melebar.
Ekuador membuang peluang emas di menit-menit awal ketika penyerang veteran Piala Dunia, Enner Valencia, berhadapan satu lawan satu dengan kiper. Namun Room membaca arah bola dengan sempurna, melompat ke kiri dan menepis tembakan tersebut untuk menjaga skor tetap imbang.
Tekanan tanpa henti dari La Tri semakin meningkat di babak kedua — namun setiap kali, Room selalu menjadi tembok penghalang.
Moises Caicedo memaksanya melakukan penyelamatan spektakuler di awal babak, diikuti oleh sundulan tajam dari Valencia yang berhasil ditepis Room ke samping. Dari tendangan sudut berikutnya, Room kembali membuat dua penyelamatan luar biasa sebelum akhirnya pertahanan Curaçao berhasil mengamankan bola.
Malam itu benar-benar menjadi panggung bagi Room. Dan malam yang penuh frustrasi bagi Ekuador.