TRIBUNJAMBI.COM - Dinamika geopolitik di Timur Tengah, khususnya antara Amerika Serikat dan Iran kembali berguncang hebat.
Republik Islam Iran dilaporkan resmi mengumumkan penutupan Selat Hormuz sebagai respons langsung atas gelombang serangan udara dan darat Israel yang kian masif di Lebanon.
Melansir laporan dari The Guardian, Minggu (21/6/2026), langkah ekstrem Teheran ini langsung memicu alarm bahaya bagi perekonomian global, termasuk Indonesia.
Penutupan jalur chokepoint maritim vital tersebut berdampak masif bagi Jakarta karena berpotensi kuat memicu lonjakan drastis pada harga minyak mentah dunia, membengkakkan beban subsidi energi APBN, melemahkan nilai tukar rupiah, hingga mengerek angka inflasi domestik.
Garda Revolusi Gembok Selat, Pakta Damai Terancam Kolaps
Keputusan sepihak ini menempatkan nota kesepahaman (MoU) perdamaian sementara antara Iran dan Amerika Serikat (AS)—yang baru saja ditandatangani dengan susah payah beberapa hari lalu—berada di ambang kegagalan total.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) secara resmi telah merilis peringatan keras kepada seluruh kapal tanker dan kargo internasional agar tidak nekat mendekati jalur pelayaran strategis tersebut.
IRGC berdalih, pemblokiran dilakukan karena AS telah berkhianat dan melanggar komitmennya untuk memaksakan kepatuhan gencatan senjata di kawasan Lebanon.
Baca juga: Trump Percaya Diri Kalahkan Iran: Perjanjian Damai Ini Penyerahan Tanpa Syarat
Baca juga: Eks Ketua PP Muhammadiyah Turun Tangan Jaminkan Diri Demi Bebaskan Roy Suryo Cs
Hingga saat ini, situasi di lapangan masih abu-abu.
Belum dapat dipastikan secara independen apakah ancaman blokade fisik militer Iran telah dieksekusi sepenuhnya di laut, atau apakah manuver agresif ini sengaja dipakai sebagai kartu as yang akan membahayakan jalannya pembicaraan diplomasi lanjutan di Swiss yang dijadwalkan berlangsung pada hari Minggu (21/6/2026) ini.
Bantahan Keras Pentagon: Lalu Lintas Laut Tetap Jalan
Di belahan dunia lain, Pentagon langsung bereaksi keras untuk menenangkan pasar energi internasional.
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) secara tegas membantah narasi bahwa Selat Hormuz telah jatuh ke dalam cengkeraman penuh Iran.
"Iran tidak mengendalikan Selat Hormuz," tegas juru bicara Angkatan Laut AS, Kapten Tim Hawkins, dalam pernyataan resminya kepada Reuters.
"Lalu lintas kapal terus berjalan dan pasukan militer AS terus memantau situasi secara ketat untuk memastikan kondisi aman tersebut tetap terjaga," pungkas Hawkins memastikan armada tempurnya bersiaga di perairan Teluk.
Saling klaim yang menegangkan antara Washington dan Teheran ini mempertegas status Selat Hormuz sebagai titik paling sensitif di dunia, di mana setiap gesekan militer di wilayah yang menyalurkan seperlima pasokan minyak dunia ini dipastikan bakal langsung mengguncang stabilitas ekonomi global.
Menurut laporan yang diperoleh Iran International, media Iran diinstruksikan untuk menghindari penggambaran penutupan Selat Hormuz dan partisipasi Iran dalam pembicaraan dengan AS sebagai bentuk perpecahan antara angkatan bersenjata dan para negosiator, menurut arahan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi.
Arahan yang ditujukan kepada manajer dan editor media tersebut menyebutkan bahwa penutupan kembali Selat Hormuz dilakukan sebagai respons pelanggaran gencatan senjata yang berkelanjutan serta tindakan Israel di Lebanon selatan, sementara tim negosiasi Iran sedang menuju Swiss.
Baca juga: Israel Membangkang Tolak Tarik Pasukan dari Lebanon, Padahal AS-Iran Sepakat Damai
Baca juga: Dikebut di Dua Wilayah, Tol Jambi-Palembang Sekat Lahan Betung Beres
Disebutkan bahwa Republik Islam Iran sedang menjalankan "strategi tunggal" yang menggabungkan pencegahan dan pengaruh militer dengan diplomasi untuk memaksa pihak lain melaksanakan komitmennya serta melindungi kepentingan nasional Iran.
Arahan tersebut mendesak media untuk membingkai tindakan militer bukan sebagai pengganti diplomasi, melainkan sebagai pendukungnya, serta menghindari penyajian negosiasi sebagai tanda kemunduran.
Arahan itu juga menyerukan media untuk menekankan sinergi antara kekuatan militer dan diplomasi dalam mengamankan kepentingan nasional.
Pada Minggu, Wakil Presiden AS JD Vance bertolak ke Swiss untuk mengambil bagian dalam perundingan lanjutan dengan Iran.
"Saya hanya bisa berada di sana selama satu atau dua hari," kata Vance pada Sabtu (20/6/2026) malam sebelum menaiki pesawat di Pangkalan Gabungan Andrews, Maryland.
"Saya berharap kita dapat membuat kemajuan dalam isu nuklir dan kemajuan dalam isu gencatan senjata di Lebanon."
Vance akan bergabung dengan Jared Kushner dan utusan AS Steve Witkoff dalam negosiasi tersebut.
Pakistan, yang berperan sebagai mediator utama, mengatakan pembicaraan akan tetap dilanjutkan.
Laporan dari Iran juga menunjukkan bahwa delegasi pejabat tinggi telah meninggalkan negara itu untuk mengikuti perundingan.
Kantor Perdana Menteri Pakistan pada Sabtu menyatakan bahwa Perdana Menteri Shehbaz Sharif serta Kepala Staf Angkatan Darat sekaligus Kepala Angkatan Pertahanan, Marsekal Lapangan Syed Asim Munir, akan berpartisipasi dalam pembicaraan tingkat teknis di Swiss.
Dalam unggahan di X, Kantor Perdana Menteri Pakistan menyebutkan bahwa pembicaraan akan digelar di Bürgenstock sebagai tindak lanjut dari nota kesepahaman tersebut.
Disebutkan pula bahwa Perdana Menteri Sharif bersama delegasi tingkat tinggi telah berangkat dari Islamabad menuju Swiss.
Sementara itu, pertempuran terus berlangsung di Lebanon antara Hizbullah dan Israel.
Pertempuran itu menjadi tantangan utama bagi kesepakatan baru untuk mengakhiri perang di kawasan Teluk.
Serangan Israel di Lebanon selatan pada Sabtu (20/6/2026) menewaskan sedikitnya 16 orang, menurut otoritas setempat, meskipun terdapat laporan mengenai gencatan senjata baru yang bertujuan menghentikan bentrokan yang terus berlanjut.
Badan Pertahanan Sipil Lebanon mengatakan personelnya telah membawa "6 orang tewas dan 12 orang terluka ke rumah sakit.
Mereka juga menyebut proses evakuasi telah dilakukan sejak dini hari di Distrik Nabatieh.
Perjanjian sementara Iran-AS menyerukan penghentian permusuhan di semua lini, termasuk Lebanon.
Namun, perjanjian itu mendapat kritik keras dari pihak Israel.
Militer Israel mengatakan pihaknya menyerang target-target Hizbullah sebagai respons atas peluncuran proyektil semalam oleh kelompok militan Lebanon tersebut.
Kekerasan meningkat pada Jumat setelah empat tentara Israel, termasuk seorang perwira senior, tewas ketika sebuah tank dihantam serangan Hizbullah.
Kelompok itu menyatakan serangan dilakukan setelah Israel melanggar perjanjian gencatan senjata sebelumnya melalui serangan militer.
Serangan balasan Israel yang terjadi setelahnya menewaskan 83 orang di seluruh wilayah Lebanon selatan dan Lembah Bekaa, menurut otoritas setempat.
Status pasti dari gencatan senjata baru yang dilaporkan mulai berlaku secara lokal pada Jumat malam masih belum jelas.
Dalam pernyataan publiknya, Hizbullah mengatakan akan mematuhi gencatan senjata apabila Israel juga melakukan hal yang sama.
Namun, kelompok itu belum menyatakan bahwa gencatan senjata tersebut benar-benar telah berlaku.
Baca juga: Jadwal Bioskop WTC Jambi 21 Juni 2026, Ada Toy Story 5
Baca juga: Formasi Baru Golkar Tebo Resmi Disahkan: Khalis Mustiko Ketua, Liga Marisa Sekretaris
Baca juga: Air Terjun Sungai Dalam, Pesona Alam di Perbatasan Jambi dan Sumatera Barat