TRIBUNNEWS.COM - Curacao membuat sejarah dengan meraih poin pertama dalam debut partisipasi mereka di pentas Piala Dunia setelah menahan imbang Ekuador 0-0 di laga kedua grup E, Minggu (21/6/2026).
Tidak sedikit pihak yang memandang Curacao sebelah mata. Perhatian lebih banyak tertuju pada persaingan Pantai Gading dan Ekuador untuk memperebutkan posisi runner-up di bawah Jerman di Grup E ini.
"Kalau Curacao ya sudah lah ya. Bukan meremehkan, tapi kalau bicara prediksi mereka memang bukan unggulan," kata Bayu dalam podcast Super Taktik di Kantor Tribunnews Solo, Karanganyar, Jawa Tengah
Namun, prediksi itu kini mulai dipatahkan. Curacao tidak hanya mampu mencuri satu poin dari Ekuador, tetapi juga masih menjaga peluang lolos ke babak gugur, meski saat ini berada di dasar klasemen grup.
Di balik hasil 0-0 melawan Ekuador yang termasuk salah satu kejutan di Piala Dunia 2026 ini, satu nama menjadi sorotan utama, yakni Eloy Room yang menjadi benteng terakhir di bawah mistar gawang.
Kiper berusia 36 tahun itu tampil luar biasa dan menjadi alasan utama Curacao mampu meredam gempuran tanpa henti dari salah satu tim terbaik Amerika Selatan.
Dikatakan salah satu kejutan karena Curacao datang ke laga ini dengan luka kekalahan telak 7-1 dari Jerman di laga pertama.
Disisi lain, Ekuador membawa misi penebusan setelah kalah di laga pertama dari Pantai Gading.
Baca juga: Hasil Jerman vs Curacao di Piala Dunia 2026: Skor 7-1, Sejarah dalam Kekalahan Panther Biru
Banyak yang mengunggulkan Ekuador mengingat status mereka adalah tim yang lolos sebagai runner up dari kualifikasi zona CONMEBOl atau Amerika Selatan.
Mereka bahkan sempat mengalahkan Argentina 1-0 dan menahan Brasil 0-0 dalam perjalanan menuju Amerika Utara.
Namun, semua statistik dan status unggulan itu seolah tidak berarti ketika berhadapan dengan Eloy Room.
Penjaga gawang berusia 36 tahun itu tampil luar biasa sepanjang pertandingan. Room melakukan 15 penyelamatan yang membuat gawang Curacao tetap perawan meski terus digempur Ekuador selama 90 menit.
Jumlah tersebut menyamai rekor penyelamatan terbanyak dalam satu pertandingan Piala Dunia yang sebelumnya dicatat Tim Howard saat membela Amerika Serikat melawan Belgia pada 2014.
Bedanya, Howard mencatatkannya dalam laga yang berlangsung hingga babak tambahan waktu, sedangkan Room melakukannya hanya dalam waktu normal.
Statistik penampilannya benar-benar mencengangkan, dan lebih dari sekadar membuat 15 penyelamatan.
Data statistik Opta, Room juga mencatatkan 10 penyelamatan dengan menjatuhkan diri, 10 penyelamatan dari dalam kotak penalti, 16 recovery, 51 sentuhan bola, serta mencegah potensi gol lawan senilai 2,48 expected goals (xG).
Penampilan tersebut membuat banyak pihak menyandingkan Room dengan kiper veteran Tanjung Verde, Vozinha.
Sebelumnya, penjaga gawang berusia 40 tahun itu juga menjadi sorotan setelah membantu negaranya menahan imbang Spanyol tanpa gol.
Namun, jika melihat besarnya tekanan yang diterima Curacao sepanjang pertandingan, penampilan Room bahkan layak disejajarkan dengan salah satu performa kiper terbaik dalam sejarah Piala Dunia.
Ekuador sendiri sebenarnya tampil sangat dominan. Tim peringkat kedua kualifikasi CONMEBOL itu melepaskan 27 tembakan dengan nilai expected goals mencapai 3,05.
Baca juga: Vozinha Hanya Julukan, Nama Asli Kiper Tanjung Verde Terinspirasi Dua Bintang Piala Dunia 1986
Mereka juga mencatatkan 15 tembakan tepat sasaran, rekor terbanyak yang pernah dibuat tim Amerika Selatan dalam satu pertandingan Piala Dunia sejak 1966.
Dampaknya aksi heroik Eloy Room tidak hanya terasa di lapangan. Popularitas sang kiper langsung meroket di media sosial.
Akun Instagram miliknya yang sebelumnya memiliki sekitar 95 ribu pengikut kini melonjak hingga menembus angka 700 ribu followers hanya dalam waktu singkat.
Dengan hasil imbang ini, cerita dari Grup E menjadi jauh lebih menarik. Perebutan posisi juara grup mungkin masih mengarah kepada Jerman, tetapi persaingan memperebutkan tiket runner-up terbuka lebar antara Pantai Gading, Ekuador, dan Curacao.
Curacao masih memiliki kesempatan lolos ke fase gugur saat menghadapi Pantai Gading pada laga terakhir grup.
Skenarionya cukup terbuka. Jika Curacao mampu meraih kemenangan, mereka berpeluang finis sebagai runner-up Grup E, terutama karena Ekuador masih harus menghadapi lawan yang jauh lebih berat, yakni Jerman.
Di sisi lain, hasil ini menjadi pukulan telak bagi Ekuador. Mereka kini menelan dua hasil mengecewakan secara beruntun dan wajib mengalahkan Jerman untuk menjaga peluang lolos.
Bagi Curacao, satu poin ini terasa seperti kemenangan. Setelah dihajar Jerman 1-7 pada laga pertama, banyak yang mengira mereka akan kembali menjadi bulan-bulanan. Namun yang terjadi justru sebaliknya.
Dengan pertahanan disiplin dan aksi heroik Eloy Room di bawah mistar, Curacao berhasil menulis salah satu kisah paling inspiratif di Piala Dunia 2026.
Negara terkecil dalam turnamen ini membuktikan bahwa keberanian dan kerja keras masih bisa menandingi perbedaan kualitas di atas kertas.
(Tribunnews.com/Tio)