Laporan Kontributor TribunPriangan.com Pangandaran, Padna
TRIBUNPRIANGAN.COM, PANGANDARAN - Petani di Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, masih menghadapi persoalan yang terus berulang dari tahun ke tahun.
Ketika musim kemarau datang, mereka kekurangan air untuk mengairi sawah. Namun saat musim hujan tiba, sebagian lahan justru terendam banjir yang mengganggu produksi dan meningkatkan biaya tanam.
Kondisi tersebut dirasakan Muhammad Taufik (55), petani di Kecamatan Mangunjaya. Selama sekitar 10 tahun terakhir, ia menggantungkan penghidupan keluarga dari lahan sawah seluas 300 bata yang dikelolanya.
Menurutnya, perubahan kondisi ketersediaan air untuk lahan persawahan semakin terasa dalam beberapa bulan terakhir.
Sebelumnya, pasokan air masih didapat saat kemarau. Namun kini petani menghadapi penurunan debit yang memicu persaingan memperoleh air.
Baca juga: Hari Ini Even Ngabuku di Kabupaten Pangandaran, Jangan Terlewat List Acara Lainnya
"Kalau dulu air masih normal. Sedikitnya saat musim kemarau masih bisa dipertahankan. Sekarang setiap musim kemarau kita sering kekurangan air. Ketika debit air berkurang, petani jadi berebut air," ujar Taufik kepada Tribun di rumahnya, Minggu (21/6/2026) siang.
Ironisnya, lahan yang digarap Taufik secara administrasi tercatat sebagai sawah irigasi karena memiliki saluran air. Namun fakta di lapangan, kondisi belum mampu menjamin ketersediaan air bagi petani.
"Menurut informasi, ini sawah irigasi karena salurannya ada. Tapi kenyataannya jadi seperti sawah tadah hujan. Petani mengandalkan hujan yang turun," katanya.
Kondisi itu berdampak langsung terhadap hasil produksi. Toni menyebut, pada kondisi normal panennya bisa mencapai sekitar 8 kuintal. Tapi pada musim tanam terakhir, hasil panen turun menjadi sekitar 5 kuintal lebih.
"Kalau lagi bagus bisa sampai 8 kuintal. Panen kemarin hanya sekitar 5 kuintal lebih," ucap Taufik.
Selain persoalan air, petani pun menghadapi ancaman serangan hama. Meski demikian, ketersediaan air tetap menjadi faktor paling menentukan karena berpengaruh langsung terhadap pertumbuhan padi hingga hasil panen.
Untuk urusan pemasaran, ia mengaku sejauh ini tidak mengalami kendala. Tengkulak maupun pedagang gabah biasanya datang langsung ke lokasi petani untuk membeli hasil panen.
"Harga gabah pada panen terakhir kemarin itu sekitar 780 ribu per kuintal," ujarnya.
Sementara itu, persoalan berbeda dialami Ade Kosasih (37), petani asal Padaherang. Ade harus menghadapi banjir yang berulang saat musim penghujan.
Ade mengatakan genangan air yang masuk ke area persawahan membuat pupuk yang sudah ditebar menjadi hanyut sehingga petani harus melakukan pemupukan berulang kali.
"Dalam satu musim tanam sering melakukan pemupukan karena pupuk yang ditaburkan terendam banjir," katanya.
Tentu, kondisi itu membuat biaya produksi meningkat. Petani harus membeli tambahan pupuk untuk mempertahankan pertumbuhan tanaman, sementara hasil panen belum tentu mampu menutupi tambahan pengeluaran itu.
"Tanaman benih padi yang terlalu lama terendam banjir itu berisiko mengalami gangguan pertumbuhan hingga gagal panen," ucap Ade.(*)