- Anggota DPR RI sekaligus cucu Presiden pertama RI, Romy Soekarno, melontarkan kritik terhadap pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang saat ini dijalankan pemerintah.
Pandangan tersebut disampaikan Romy dalam wawancara di kanal YouTube Prof. Rhenald Kasali yang tayang pada Sabtu (20/6/2026).
Dalam kesempatan itu, Romy menilai program MBG masih memerlukan evaluasi menyeluruh agar pelaksanaannya lebih efektif, tepat sasaran, dan tidak memicu pemborosan anggaran negara.
Menurutnya, pola penerapan MBG yang saat ini digunakan cenderung disamaratakan di seluruh wilayah Indonesia.
Padahal, setiap daerah memiliki karakteristik yang berbeda, mulai dari kondisi ekonomi masyarakat, harga bahan pangan, hingga biaya distribusi yang tidak sama.
Romy menegaskan bahwa pemerintah sebenarnya telah memiliki data penerima manfaat yang cukup lengkap melalui Nomor Induk Kependudukan (NIK).
Ia pun menawarkan alternatif penyaluran bantuan dengan sistem transfer langsung kepada keluarga penerima manfaat.
Selain itu, pengelolaan dapur makanan juga bisa diserahkan kepada pihak sekolah agar pelaksanaan program lebih fleksibel sesuai kebutuhan daerah masing-masing.
Menurut Romy, skema tersebut berpotensi mengurangi kebocoran anggaran sekaligus memastikan asupan gizi anak tetap terpenuhi secara optimal.
Ia menilai pendekatan berbasis kebutuhan lokal akan lebih efektif dibandingkan kebijakan yang diterapkan secara seragam di seluruh Indonesia.
Tak hanya itu, Romy juga menyoroti pemberian MBG kepada seluruh siswa tanpa mempertimbangkan kondisi ekonomi keluarga penerima.
Menurutnya, bantuan seharusnya difokuskan kepada kelompok yang benar-benar membutuhkan agar penggunaan anggaran lebih tepat sasaran.
Pernyataan tersebut menambah daftar masukan terhadap program MBG yang belakangan terus menjadi perhatian publik dan berbagai kalangan pembuat kebijakan.
Ketimpangan Biaya di Daerah
Politikus PDI Perjuangan itu menegaskan bahwa biaya penyediaan makanan bergizi tidak mungkin disamakan di seluruh Indonesia.
Ia mencontohkan harga bahan pangan di wilayah Papua yang jauh lebih mahal dibandingkan daerah lain.
Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan masalah dalam pelaksanaan program jika pemerintah tetap menerapkan standar anggaran yang sama.
AI Asing Berpotensi Buat Indonesia Kehilangan Kendali
Selain menyoroti MBG, Romi juga mengangkat isu kedaulatan digital yang menurutnya akan menjadi tantangan besar Indonesia dalam beberapa tahun mendatang.
Ia menilai Indonesia harus segera membangun ekosistem teknologi sendiri, mulai dari pusat data nasional, cloud nasional, satelit orbit rendah (LEO), hingga kecerdasan buatan berbasis bahasa dan data Indonesia.
Menurut Romi, ketergantungan pada platform AI asing berpotensi membuat Indonesia kehilangan kendali atas data dan arah perkembangan teknologi nasional.
Ia menjelaskan bahwa bentuk penjajahan modern tidak lagi dilakukan melalui kekuatan militer seperti masa kolonial.
Melainkan melalui penguasaan data, teknologi, sistem pembayaran digital, algoritma, hingga investasi.
Pembagunan AI Merah Putih untuk Pendidikan
Romi mengusulkan pembangunan "AI Merah Putih" yang berisi data dan pengetahuan berbasis Indonesia.
Sistem tersebut, menurutnya, dapat digunakan untuk mendukung revolusi pendidikan nasional mulai dari tingkat SD hingga SMA.
Dengan dukungan perangkat digital dan AI nasional, proses belajar mengajar dinilai bisa menjadi lebih efektif sekaligus memperkuat kemandirian bangsa di bidang teknologi.
Ia juga mengajak generasi muda untuk mengambil peran lebih besar dalam menentukan arah masa depan Indonesia.
Mengutip semangat Bung Karno, Romi menekankan pentingnya kemandirian di bidang maritim, energi, kebudayaan, dan teknologi digital agar Indonesia tidak kembali bergantung pada kekuatan asing dalam bentuk baru.
(TribunTrends/WartaKotalive)
VP ANIK(MAGANG)
# dpr # mbg # romy soekarno