Laporan Wartawan TribunJatim.com, Dya Ayu
TRIBUNJATIM.COM, BATU – Pelaku industri pariwisata di Kota Batu dituntut untuk lebih jeli membaca pergeseran tren pasar.
Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Batu menilai karakteristik dan pola perilaku wisatawan pada momen libur sekolah pertengahan tahun ini sangat berbeda jika dibandingkan dengan masa libur Lebaran maupun Natal dan Tahun Baru (Nataru).
Durasi libur sekolah yang relatif panjang membuat pergerakan pelancong menjadi lebih menyebar, sehingga menuntut pelaku perhotelan memutar otak demi menjaga keterisian kamar tetap stabil.
Ketua PHRI Kota Batu, Sujud Hariadi, memaparkan bahwa masa libur sekolah yang membentang hingga sekitar 20 hari memunculkan tantangan tersendiri. Pengelola akomodasi mengaku kesulitan memetakan kapan grafik kunjungan akan mencapai titik tertinggi.
Baca juga: Wakil Ketua KONI Kota Batu Terseret Kasus Dugaan Pengeroyokan, 8 Saksi Sudah Diperiksa Polisi
“Libur sekolah berlangsung sekitar 20 hari, sehingga kami sulit memprediksi kapan puncak kunjungannya. Kondisi ini membuat pihak hotel tidak bisa mematok tarif terlalu tinggi di awal, dan tingkat okupansi juga belum tentu bisa menyamai rekor saat Lebaran maupun Nataru,” urai Sujud Hariadi saat memberikan keterangan, Minggu (21/6/2026).
Merespons situasi pasar yang fluktuatif tersebut, PHRI Kota Batu mendorong seluruh manajemen hotel di wilayahnya untuk meninggalkan sistem harga kaku. Pelaku usaha diimbau menerapkan strategi penyesuaian tarif secara dinamis, di mana harga kamar ditentukan secara fleksibel dengan memantau pergerakan suplai dan permintaan dari hari ke hari.
Langkah taktis ini dipandang penting agar harga penginapan di Kota Batu tetap kompetitif di mata wisatawan keluarga yang cenderung lebih sensitif terhadap pengeluaran selama liburan panjang.
“Tentunya kami harus sangat berhati-hati dalam menentukan formula tarif kamar dari hari ke hari di momen seperti ini. Target utamanya adalah bagaimana harga yang ditawarkan tetap kompetitif dan memikat daya tarik pasar,” imbuhnya.
Tak hanya mengandalkan fleksibilitas harga kamar, PHRI Kota Batu juga meluncurkan strategi penguat berupa kolaborasi terintegrasi antarsektor. Saat ini, PHRI tengah menjembatani kemitraan erat antara jaringan perhotelan dengan para pengelola destinasi wisata ikonik atau taman rekreasi di Kota Batu.
Melalui kerja sama ini, wisatawan akan disuguhkan opsi paket bundling menarik, yakni memesan kamar hotel sekaligus mendapatkan tiket masuk ke tempat wisata dengan satu harga terpadu yang jauh lebih hemat.
“Konsep yang sedang kami dorong adalah skema bundling antara kamar hotel dan tiket wisata. Melalui integrasi ini, harga akumulatif yang diterima oleh wisatawan akan terasa jauh lebih ramah di kantong,” ungkap pria yang juga ramah menyapa awak media ini.
Pihak asosiasi menaruh harapan besar agar ramuan strategi harga dinamis dan paket kolaboratif ini mampu menjadi stimulus bagi para orang tua untuk memilih Kota Batu sebagai destinasi utama menghabiskan liburan anak-anak mereka. Dengan demikian, grafik okupansi hotel diharapkan dapat merangkak naik secara perlahan sekaligus menjaga roda perputaran ekonomi sektor pariwisata di Kota Batu tetap sehat di pertengahan tahun 2026 ini.