Peternak Lampung Selatan Tertekan, Harga Pakan Naik Telur Justru Turun
taryono June 21, 2026 04:19 PM

Tribunlampung.co.id, Lampung Selatan - Peternak ayam petelur di Lampung kembali menghadapi tekanan berat akibat ketidakseimbangan antara biaya produksi dan harga jual. 

Baca juga: Komplotan Pembobol Warung di Tanggamus Terbongkar, Satu Tersangka Diduga Curi Kopi

Harga pakan yang terus naik hingga sekitar Rp7.500 per kilogram tidak diimbangi dengan harga telur yang justru turun di bawah harga acuan Rp24.000 per kilogram.

Kondisi ini dirasakan langsung oleh peternak ayam petelur di Desa Krawangsari, Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan, Adi (38), yang mengaku semakin kesulitan menjaga keberlanjutan usahanya.

“Kalau pakan naik sebenarnya masih bisa ditahan kalau harga telur ikut stabil. Tapi sekarang justru turun,” ujar Adi, Minggu (21/6/2026).

Menurutnya, penurunan permintaan menjadi salah satu penyebab utama menumpuknya stok telur di kandang. 

Kondisi ini dipicu oleh turunnya konsumsi masyarakat akibat libur sekolah, termasuk program konsumsi telur dalam Program Makan Bergizi (MBG) yang ikut berkurang selama masa libur.

Selain itu, faktor musiman seperti masuknya bulan Suro juga turut memengaruhi permintaan pasar. 

Pada periode ini, aktivitas hajatan atau pesta masyarakat biasanya menurun sehingga konsumsi telur ikut melemah.

“Permintaan turun cukup terasa, jadi stok menumpuk,” katanya.

Akibat kondisi tersebut, banyak peternak terpaksa menjual telur di bawah harga acuan agar tidak terjadi penumpukan berlebih di kandang. 

Telur, menurutnya, merupakan komoditas dengan daya simpan terbatas sehingga tidak bisa ditahan terlalu lama.

Adi menyebut harga acuan yang ditetapkan melalui posko bersama asosiasi peternak dan Dinas Perdagangan berada di angka Rp24.000 per kilogram. Namun di lapangan, harga sering berada di bawah angka tersebut.

“Karena takut tidak laku, banyak yang terpaksa jual di bawah harga standar,” ujarnya.

Selain harga jual yang tertekan, produktivitas ayam juga ikut menurun akibat cuaca yang tidak menentu. 

Perubahan suhu membuat ayam lebih rentan sakit sehingga produksi telur ikut terdampak.

Kondisi ini tercermin dari meningkatnya Feed Conversion Ratio (FCR), yakni rasio pakan terhadap produksi telur. 

Dalam kondisi normal, FCR berada di angka sekitar 1:2,2, namun saat ini meningkat menjadi sekitar 1:3.

Artinya, untuk menghasilkan jumlah telur yang sama, peternak harus menggunakan pakan lebih banyak dari kondisi normal.

Sementara itu, biaya pakan menjadi komponen terbesar dalam struktur produksi. 

Dengan kenaikan harga pakan dan penurunan produktivitas, margin keuntungan peternak semakin tipis bahkan nyaris tidak ada.

“Belum lagi biaya obat, listrik, tenaga kerja, dan operasional kandang. Kalau kondisi ini terus berlanjut, banyak peternak bisa gulung tikar,” kata Adi.

Tak hanya peternak ayam petelur, tekanan serupa juga dirasakan peternak ayam pedaging dan pedagang pasar di wilayah tersebut. 

Sejumlah peternak bahkan mulai mengurangi populasi ternak untuk menekan beban pakan harian.

Ada pula yang terpaksa menjual aset pribadi seperti kendaraan hingga lahan untuk menutup biaya operasional.

Para peternak berharap pemerintah dapat memastikan harga acuan benar-benar berjalan di lapangan serta melakukan langkah intervensi untuk menjaga stabilitas harga telur.

“Harapannya harga bisa stabil dan aturan yang ada benar-benar dijalankan di lapangan,” ujarnya.

( Tribunlampung.co.id / Dominius Desmantri Barus 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.