TRIBUNBANYUMAS.COM, WONOSOBO - Di wilayah Kabupaten Wonosobo, saat ini terdapat sebuah destinasi alam yang mulai dikenal luas oleh para pendaki maupun wisatawan lokal, yakni Gunung Lemah.
Berada secara administratif di Dusun Pagerota, Desa Pagerejo, Kecamatan Kertek, gunung yang satu ini memiliki sederet keunikan yang sukses membuat banyak orang merasa penasaran untuk berkunjung.
Menariknya, meskipun menyandang nama Gunung Lemah yang dalam bahasa Jawa berarti gunung tanah, kawasan tersebut pada kenyataannya justru didominasi oleh bentang alam berupa hamparan batuan.
Baca juga: Satu Lagi Wisata Gunung di Wonosobo, Gunung Lemah. Aman bagi Anak-anak dan Cocok bagi Pemula
Pemberian nama yang terdengar cukup paradoks itu rupanya berasal dari penampakan salah satu puncaknya yang memang memiliki lapisan tanah persis di bagian atas.
Pengelola Basecamp Gunung Lemah, Muslih, mengatakan bahwa Gunung Lemah sejatinya memiliki tingkat elevasi atau ketinggian sekitar 1.640 meter di atas permukaan laut (mdpl). Bentang alamnya diselimuti oleh gugusan batuan keras yang membentang luas di kawasan seluas kurang lebih 92 hektare.
"Kan gunung batu, sekitar 92 hektare itu semua batu. Tapi puncaknya Gunung Lemah, atasnya itu lemah atau tanah yang menyerupai tumpeng," kata Muslih memberikan penjelasan unik kepada tribunjateng.com, Minggu (21/6/2026).
Tak hanya memiliki bentang morfologi alam yang tak biasa, Gunung Lemah juga sanggup menyajikan panorama pegunungan yang sangat memanjakan mata para pengunjungnya.
Dari titik puncaknya, setiap pengunjung dapat melihat dengan jelas megahnya lanskap Gunung Kembang, Gunung Sindoro, hingga Gunung Sumbing yang berdiri dengan gagah di kejauhan.
"Ada Gunung Kembang, Sindoro dan Sumbing. Kalau cerah sih Gunung Merapi kelihatan," ujar Muslih menambahkan daftar keindahan tersebut.
Gunung Lemah pada dasarnya memiliki dua opsi jalur pendakian yang bisa dipilih secara bebas oleh pengunjung sesuai selera mereka.
Jalur pendakian yang pertama akan membawa pendaki melewati kawasan gunung batu dengan suguhan medan bebatuan dan rimbunnya hutan. Sedangkan untuk jalur lainnya, pendaki akan dibawa melintasi area asri perkebunan teh serta hamparan lahan pertanian milik warga setempat.
"Kalau mau yang lebih menantang bisa lewat kawasan gunung batu tapi kalau yang lebih landai bisa lewat pertanian warga," sebutnya merinci opsi perjalanan.
Menurut kacamata pengelola, kedua jalur tersebut tergolong cukup aman secara kelayakan teknis, sehingga sangat memungkinkan dan tidak dilarang untuk dilalui oleh kalangan pendaki pemula maupun rombongan anak-anak.
"Anak kecil bisa banget naik, jalurnya aman, cukup landai. Ada tiga pos di masing-masing jalur itu," ujarnya meyakinkan jaminan keselamatan.
Pesona alam Gunung Lemah nyatanya juga mulai sukses menarik perhatian banyak pendaki dari luar daerah yang sekadar datang untuk menikmati suasana dan nuansa yang berbeda, jika dibandingkan dengan gunung-gunung berskala besar lain yang ada di sekitar Wonosobo.
Salah satu pendaki asal Kabupaten Banjarnegara, Mela, mengaku bahwa perjalanannya kali ini adalah pengalaman pertamanya mencoba mendaki Gunung Lemah.
Ia sengaja datang jauh-jauh bersama teman-temannya untuk sekadar menikmati sensasi hiking ringan di alam terbuka yang asri.
"Seru, jalurnya enak dilewati dan ngga terlalu capek. Tadi mulai naik jam 07.00 sampai puncak 08.30, sebenernya bisa lebih cepat tapi tadi sering berhenti foto-foto," ujar Mela menceritakan keseruannya.
Menurut penuturannya, pengalaman mendaki di Gunung Lemah terasa amat menyenangkan karena kondisi medannya tidak terlalu menyulitkan sehingga sangat cocok untuk dijadikan ajang latihan bagi para pemula.
Menurut Muslih lebih lanjut, jalur pendakian menuju puncak Gunung Lemah ini secara resmi baru saja dibuka untuk khalayak umum pada momentum awal tahun 2026 ini, tepatnya setelah pengelola rampung melakukan serangkaian proses perawatan dan penataan jalur.
"Untuk Gunung Lemahnya kita buat jalur, kita rawat baru dibuka tahun baru kemarin," ucapnya.
Selain mengandalkan magnet pariwisata alamnya, para pengunjung rupanya juga bisa sekaligus menyelami pesona wisata sejarah di area tersebut.
Kawasan wisata bersejarah bernama Surodilogo yang lokasinya juga berada persis di sekitar Gunung Lemah ternyata sudah lebih dulu dikenal secara akrab oleh masyarakat luas.
Bahkan faktanya, kawasan spiritual dan bersejarah tersebut tercatat telah diresmikan oleh pihak Dinas Pariwisata setempat sejak tahun 1982 silam.
Di sekitar rute jalur pendakian tersebut, para hiker dapat menjumpai sebuah situs bersejarah berupa makam Joko Suro. Sosok ini selama ini sangat diyakini oleh warga sebagai salah satu panglima perang tangguh pada masa era perjuangan Pangeran Diponegoro.
Selain adanya makam pusaka, di titik lain terdapat pula sebuah mata air yang disebut Sendang Surodilogo. Sumber mata airnya hingga saat ini masih terus mengalir deras dan begitu dipercaya memiliki nilai sejarah sekaligus simpanan kekuatan spiritual yang kental.
Menurut cerita lisan turun-temurun yang terus berkembang di tengah masyarakat lokal, sosok Joko Suro pada masa lampau pernah melakukan kegiatan bertapa di kawasan hutan tersebut saat berusaha menghindari kejaran dari pasukan penjajah.
Saat merasa begitu membutuhkan asupan air untuk keperluan berwudu, sosok Joko Suro disebut-sebut secara ajaib menancapkan tongkat miliknya langsung ke atas tanah hingga akhirnya memicu munculnya mata air yang menyembur keluar.
"Untuk bisa berwudu, tongkatnya ditancapkan terus langsung ada mata air. Sendang itu dinamakan Surodilogo," katanya menceritakan kembali mitos masyhur tersebut.
Hingga detik ini, lokasi sendang peninggalan Joko Suro tersebut nyatanya masih sangat sering didatangi oleh warga masyarakat, terutama pada saat tiba momen-momen tertentu guna mengambil berkah airnya maupun menjalankan berbagai ritual adat kepercayaan.
Tak hanya lekat dengan citra yang dipercaya sakral, air yang terus mengalir melimpah ruah di sendang ini juga memiliki tekstur rasa yang begitu dingin dan menyegarkan tubuh. Menariknya lagi, air murni dari bentang alam ini diklaim sangat higienis dan bisa diminum langsung oleh setiap pengunjung yang kehausan saat melakukan aktivitas pendakian. (ima)