TRIBUNJABAR.ID, PANGANDARAN - Klaim sepihak dari perusahaan pemilik tongkang batu bara yang kandas di Pantai Sukaresik, Kabupaten Pangandaran, mulai menuai tanda tanya besar.
Meski manajemen berkilah insiden tersebut murni dipicu oleh faktor cuaca buruk, rangkaian kronologi di lapangan justru membongkar adanya rentetan gangguan teknis fatal yang dipaksakan berlayar sebelum akhirnya kapal terdampar.
External Relation PT Trans Logistik Perkasa (TLP), Agus Hermawan, bersikeras bahwa rusaknya armada pengangkut emas hitam tersebut di luar kendali manusia.
"Itu pure kendala cuaca yang tidak bisa kita kendalikan," ujar Agus kepada sejumlah wartawan di Pangandaran, Minggu (21/6/2026) siang.
Agus menerangkan, tongkang Nautica 22 yang ditarik oleh kapal tunda KM Titan 33 tersebut tengah mengangkut muatan batu bara sebesar 8.109 ton.
Kapal tersebut diketahui bertolak dari Pelabuhan Labuan Muara Tungkal, Palembang, Sumatera Selatan pada 29 Mei 2026 lalu, dengan tujuan akhir PLTU Cilacap.
Namun, data dan fakta perjalanan yang dihimpun justru menunjukkan cerita yang kontras.
Masalah serius terdeteksi jauh hari sebelum kapal tiba di Pangandaran, tepatnya saat melintas di Perairan Ujung Genteng, Kabupaten Sukabumi, Senin (15/6/2026) dini hari.
Saat itu, tali penarik tongkang dilaporkan putus di tengah laut.
Malangnya, insiden itu dibarengi dengan kebocoran parah pada lambung kapal yang berakibat pada tumpahnya sekitar 700 ton muatan batu bara ke laut bebas.
Kendati kondisi tongkang sudah miring (listing) dan mengalami kerusakan struktural, pelayaran dipaksa tetap dilanjutkan.
Petaka berlanjut saat rombongan kapal memasuki Perairan Teluk Parigi. Kemiringan tongkang makin kritis dan diperparah oleh kondisi kapal penarik yang kehabisan bahan bakar.
Dalam situasi darurat, kapal terpaksa berlindung dan labuh jangkar di Perairan Batukaras pada Selasa malam.
Khawatir memicu bahaya yang lebih besar di area wisata, pihak KSOP bersama nelayan setempat meminta kapal keluar dari kawasan Batukaras pada Rabu (17/6/2026) pagi.
Pukul 13.30 WIB, kapten kapal akhirnya mengambil langkah darurat membuang badan ke darat (grounding) di kawasan Perairan Batuhiu–Tanjung Cemara–Karang Tirta, Kecamatan Sidamulih, hingga akhirnya terdampar di Pantai Sukaresik.
Terkait tumpahan batu bara yang mengancam ekosistem pesisir Pangandaran, Agus menyebut pihak perusahaan tengah melakukan mitigasi darurat.
"Kami menunggu petunjuk langsung dari kementerian terkait atau dinas terkait. Upaya kami untuk melakukan evakuasi batu bara ini diambil secara manual agar bisa segera dibersihkan dari lokasi tumpahan di Pantai Sukaresik," pungkasnya. (*)
Baca juga: Kapal Tongkang yang Viral karena Miring Akhirnya Sengaja Didamparkan di Pantai Sukaresik Pangandaran