Laporan wartawan TribunJatim.com, Ahmad Faisol
TRIBUNJATIM.COM, BANGKALAN - Penutupan Musyawarah Besar (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (Konbes NU) telah diputuskan ditempatkan di Institut Agama Islam Syaikhona Cholil, Desa Martajasah, Bangkalan, Jawa Timur pada Selasa (23/6/2026).
Pemasangan tenda berikut sejumlah banner pun telah terpasang pada Minggu (21/6/2026), untuk mempersiapkan kelancaran penutupan forum permusyawaratan tertinggi NU yang kabarnya akan dihadiri Presiden RI Prabowo Subianto.
Munculnya nama Presiden Prabowo dalam Penutupan Munas-Konbes NU disampaikan Sekretaris Jenderal PBNU, KH Saifullah Yusuf atau Gus Ipul di Ponpes Al Falah, Ploso, Kediri pada Selasa (16/6/2026).
Sebagaimana dikutip dari Tribunnews edisi Rabu (17/6/2026), Gus Ipul yang juga selaku Ketua Munas-Konbes NU menyampaikan, PBNU melalui rapat sudah memutuskan untuk mengundang Presiden Prabowo Subianto untuk datang ke Kabupaten Bangkalan.
Namun Gus Ipul juga menjelaskan bahwa lokasi penutupan masih menyesuaikan dengan jadwal presiden.
Baca juga: Tak Datang ke Kediri, Presiden Prabowo Pilih Tutup Munas-Konbes NU di Bangkalan
"Jika Presiden Prabowo bisa hadir, maka penutupan akan digelar di Bangkalan, namun apabila kehadiran presiden belum memungkinkan, maka penutupan akan dilakukan di Ploso. Narasi itu maksudnya apa?," tegas salah seorang dzurriyah Syaikhona Kholil (Mbah Kholil) Bangkalan, RKH Imron Amin (Ra Ibong) kepada Tribun Madura, Minggu (21/6/2026).
Menurutnya, narasi tentang lokasi penutupan yang bersifat situasional dan bergantung kepada konfirmasi kehadiran Presiden Prabowo Subianto, merupakan pernyataan yang penuh sarat kepentingan.
"Ini sarat kepentingan semua, sampai muncul bahasa (Gus Ipul) seperti itu. Saya mempertayakan apa maksudnya?," ungkap Ra Ibong.
Ra Ibong yang hadir dalam rapat persiapan di Ploso, Kediri menjelaskaN, awalnya rangkaian pembukaan Munas-Konbes NU akan digelar di Kabupaten Bangkalan. Namun akhirnya berubah dengan menjadikan Bangkalan sebagai tuan rumah pada rangkaian penutupan.
"Bahkan sempat muncul narasi ngalap barokah Mbah Kholil. Saya bilang ke Gus Ipul dan KIai Miftachul Akhyar, kemarin-kemarin ke mana saja?. Setelah seperti ini, setelah ribut, setelah kalian 'berantem', mau mengembalikan marwah NU ke Bangkalan dengan narasi ngalap barokah Mbah Kholil. Saya bilang enggak usah, kenapa ketika begini kalian ingat Bangkalan, atau ingat dengan Madura terutama dengan Mbah Kholilnya, kemarin ke mana saja," tegas Ra Ibong.
Kegiatan Munas-Konbes NU telah dibuka mulai Sabtu (20/6/2026) di Ponpes Al Falah, Kecamatan Ploso, Kabupaten Kediri dengan suara tabuhan kenteng sebanyak sembilan kali. Sebagaimana simbol sembilan bintang yang memiliki makna luas atas identitas NU hingga sekarang.
"Kami dari keluarga besar Mbah Kholil berharap tidak ada lagi kegaduhan, tidak membuat konflik, mari kita berkhidmat kepada NU. Kalau ingin membenahi NU, mari kita benahi diri sendiri dulu, apa niat kita ke depan," harap Ra Ibong.
Ajakan instropeksi diri tersebut disampaikan Ra Ibong untuk menepis anggapan KH Miftachul Akhyar bahwa keluarga besar Mbah Kholil Bangkalan menghalang-halangi kegiatan penutupan di Komplek Pesarean Mbah Kholil, Desa Martajasah.
"Kami sampai dituduh oleh Kyai Miftachul Akhyar mau menghalang-halangi. Tetapi kami jelaskan di dalam Komplek Pesarean (Mbah Kholill) termasuk di dalam masjid, tidak pernah ada acara seremonial. Kecuali memang Haul Mbah Kholil, tidak bisa disamakan haul dengan kegiatan seremonial," pungkas Ra Ibong.
Adapun lokasi penutupan di Institut Agama Islam Syaikhona Cholil, Desa Martajasah, Bangkalan hanya berjarak sekitar 400 meter ke arah Barat Komplek Pesarean Mbah Kholil. Hal ini diputuskan untuk memudahkan para undangan yang hadir ketika ingin ziarah ke Maqbaroh Mbah Kholil.
Informasi lengkap dan menarik lainnya baca di TribunJatim.com