Senayan dan Tebet Tahun 1950-an, Semanggi Masih Tempat Nyari Jangkrik
Moh. Habib Asyhad June 22, 2026 12:34 PM

Senayan sampai 1950-an adalah perkampungan Betawi. Menjelang 1960-an, mereka digusur dan dipindah ke Tebet dan Simprug.

Penulis: Rachmat | Tayang di Majalah Intisari edisi Juni 1990 dengan judul "Senayan dan Tebet Tahun 50-an"

---

Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini

---

Intisari-Online.com -Senayan kala itu merupakan perkampungan Betawi dan masih rimbun dengan pohon buah-buahan. Sedangkan Tebet masih berupa hutan belukar.

Rachmat membagikan pengalaman masa kecilnya, pertama tayang di Majalah Intisari edisi Juni 1990.

---

Kakek dan nenek saya berasal dari Garut, Jawa Barat. Namun, sejak tahun 50-an, mereka menetap di Senayan. Saya sendiri lahir di Bandung, tapi sejak usia 4 tahun tinggal bersama mereka.

Pasar Bundaran

Kakek saya bekerja sebagai penjaga malam gudang kantor alat-alat besar, yang kini menjadi salah satu instansi Departemen Pekerjaan Umum. Kakek berangkat kerja selepas sembahyang Maghrib dan pulang menjelang subuh dengan bersepeda.

Siang harinya, kakek berdagang mebel, seperti lemari, meja kursi, bufet, tempat tidur beserta perlengkapannya. Kerja sambilan ini cukup berhasil karena rumah kakek sekaligus tokonya berada di tempat strategis, yakni di dekat Bundaran Senayan di antara dua jalan besar (kini Jl. Asia Afrika dan Jl. Pakubuwono VI).

Delman dan gerobak kuda merajai jalan-jalan di Senayan dan Kebayoran Baru waktu itu. Delman merupakan alat angkut penumpang, sedangkan gerobak khusus untuk mengangkut barang.

Langganan toko kakek yang tinggal di sekitar Senayan dan Kebayoran pun menggunakan gerobak untuk mengangkut mebel yang mereka beli. Becak memang ada, namun jumlahnya tidak sebanyak delman atau gerobak.

Kendaraan antarkota yang paling populer waktu itu ialah opelet atau ostin, sebab kendaraan itu bermerek “Austin”.

Bundaran Senayan, yang kini di atasnya menjulang Patung Pemuda, zaman dulu merupakan pasar yang ramai dan buka sampai jauh malam. Orang menyebutnya Pasar Bundaran. Di malam hari banyak pedagang buah-buahan dan makanan mangkal di sana.

Buah-buahan yang dijajakan meliputi durian, nangka, rambutan, cempedak, dll. Kakek suka mengajak kami makan buah durian di Pasar Bundaran bila libur.

Di penghujung tahun 50-an, radio masih merupakan barang mewah. Di antara tetangga, hanya kakek yang memilikinya.

Pajaknya harus dibayarkan setiap bulan. Saya masih ingat, radio kakek bermerek Grundig dan berukuran 50 x 40 x 20 cm.

Setiap malam Minggu, rumah kakek penuh sesak oleh tetangga yang ingin mendengarkan siaran wayang golek semalam suntuk yang dipancarkan oleh RRI Jakarta dan Bandung. Suasananya persis seperti orang menonton layar tancap.

Keadaan akan menjadi lebih ramai dan hangat bila yang mendalang sang Maestro Partasuanda ditemani Pesinden Upit Sarimanah atau Titin Fatimah. Nama mereka masyhur pada dekade 50-an hingga awal 60-an.

Bila Lebaran tiba, warga Senayan bersama-sama salat Idulfitri di Masjid Agung, kini lebih dikenal sebagai Masjid Al Azhar di Jl. Sisingamangaraja. Masjid ini merupakan salah satu bangunan yang masih dapat saya kenali dengan baik setelah sekian puluh tahun berlalu.

Tetangga Citra Dewi

Pada tahun 1959, penduduk Senayan terkena gusur karena di situ akan dibangun beberapa stadion tempat berlangsungnya Asian Games IV pada tahun 1962. Penduduk yang tergusur mendapat tanah pengganti di Tebet dan Simprug yang masih berawa dan konon ada buayanya.

Kakek saya mendapat tanah pengganti di Tebet, waktu itu masih berupa hutan belukar. Di sekitar tanah pengganti banyak tumbuh alang-alang, pohon melinjo, sirsak, nanas, salak dan gadung.

Di tahun pertama, tetangga kakek di Tebet masih jarang, bahkan rumah mereka tidak tampak, sebab tertutup oleh alang-alang. Setelah 2 atau 3 tahun, kami mulai mendapat tetangga dekat.

Salah satu tetangga yang masih saya ingat dengan baik adalah keluarga bintang film Citra Dewi. Seingat saya, di lingkungan gang tempat kami tinggal, hanya Citra Dewi yang mempunyai mobil, yaitu Fiat 1100 warna putih.

Semasa kecil, saya tergolong anak nakal. Tempat bermain kami sangat jauh sampai mengkhawatirkan kakek dan nenek.

Saya sering bermain ke Jembatan Semanggi mencari jangkrik kalung, yang lebih besar dari jangkrik biasa dan mempunyai garis melingkar berwarna kuning di dekat punggungnya.

Jarak Tebet ke Jembatan Semanggi cukup jauh, hampir sepanjang Jl. Jenderal Gatot Subroto. Untuk mengetahui apakah tujuan sudah dekat atau masih jauh, kami berpatokan pada Gedung GKBI (Gabungan Koperasi Batik Indonesia).

Bila Gedung GKBI sudah tampak, berarti tujuan sudah dekat. Dulu Gedung GKBI bisa terlihat dari jauh, karena gedung bertingkat di sepanjang Jl. Jenderal Gatot Subroto masih jarang.

Mungkin Gedung GKBI merupakan gedung tertinggi di lahan itu—saat itu.

Pada tahun 1964, saya berpisah dengan kakek karena harus ikut orang tua ke Tanjung Pinang, Kepulauan Riau. Dengan sedih saya tinggalkan Tebet dengan segala kenangannya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.