Iran Walk Out dari Ruang Perundingan dengan AS setelah 80 Menit Pertemuan, Teheran Ungkap Alasannya
Muhammad Hadi June 22, 2026 02:23 PM

SERAMBINEWS.COM, SWISS — Perundingan tingkat tinggi yang digadang-gadang mampu meredakan ketegangan geopolitik di Timur Tengah berakhir buntu dalam waktu singkat.

Delegasi Iran memutuskan untuk meninggalkan meja perundingan di resor Bürgenstock, Danau Lucerne, Swiss, hanya 80 menit setelah pertemuan dimulai, Minggu (21/6/2026).

Menurut sumber yang dekat dengan tim negosiasi, mundurnya Iran dipicu oleh pernyataan Presiden Trump di media sosial yang dinilai menghina dan merusak fondasi diplomasi.

Langkah Trump dianggap melanggar poin pertama dari perjanjian sementara (provisional agreement) yang disepakati kedua belah pihak, yakni keharusan untuk menahan diri dari segala bentuk ancaman atau penggunaan kekerasan.

Saat negosiasi baru saja dimulai, Trump mengunggah pernyataan keras melalui akun X (sebelumnya Twitter) pribadinya, dengan mengatakan:

"Iran harus segera memberi tahu antek-anteknya yang bergaji tinggi di Lebanon untuk berhenti membuat masalah,”

“Jika tidak, kami akan menyerang Iran dengan sangat keras lagi, seperti minggu lalu, dan bahkan lebih keras lagi!!!"

Tidak berhenti di situ, Trump juga memberikan ancaman keras terkait jalur logistik global, Selat Hormuz.

"Jika Anda menutup selat itu, Anda tidak akan memiliki negara lagi. Saya dapat mengambil alih Selat Hormuz," tambahnya.

Media Iran langsung mengutuk pernyataan tersebut dan menyebutnya sebagai "pesan menghina dari Presiden AS" yang secara sengaja menjerumuskan negosiasi ke dalam fase krisis yang sulit.

Respons Keras Teheran: "Kamilah yang Bertindak"

Menanggapi intimidasi tersebut, Kepala Negosiatif Iran yang juga menjabat sebagai Ketua Parlemen, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa Teheran tidak akan bisa digertak oleh retorika Washington.

"Jika ancaman mereka berhasil, mereka tidak akan berada dalam situasi putus asa seperti sekarang. Kami tidak terganggu oleh ancaman Amerika," tulis Ghalibaf melalui akun X resminya.

Ia juga menambahkan bahwa militer Iran berada dalam kesiapan penuh.

"Angkatan bersenjata kami siap menanggapi mereka dengan cara yang berbeda. Apa pun yang mereka katakan, kamilah yang bertindak."

Baca juga: Mengapa Lebanon Jadi Penentu Nasib Kesepakatan Iran-AS? Serangan Israel Ancam Gagalkan Perdamaian

Meskipun media internal Iran mengonfirmasi bahwa delegasi mereka telah meninggalkan lokasi sebagai bentuk protes dan belum menentukan kapan dialog akan dilanjutkan, situasi di Bürgenstock sempat diwarnai kesimpangsiuran informasi.

Seorang diplomat yang mengetahui jalannya proses negosiasi sempat menyatakan bahwa delegasi Iran sebenarnya masih terlibat dalam pembicaraan dan belum secara resmi memberi tahu mediator tentang kepulangan mereka.

Laporan senada juga dirilis oleh media Axios, yang mengutip seorang diplomat di lokasi yang mengklaim delegasi Iran belum sepenuhnya angkat kaki dari kawasan resor.

Akankah Terjadi Kesepakatan Damai?

Kegagalan pertemuan 80 menit ini menjadi kemunduran besar bagi misi perdamaian di Swiss.

Sedianya, negosiasi di Bürgenstock ini ditujukan untuk menindaklanjuti Nota Kesepahaman (MoU) yang baru saja ditandatangani pada 19 Juni, guna diubah menjadi perjanjian jangka panjang terkait isu nuklir dan pemulihan kebebasan navigasi internasional.

Namun, eskalasi konflik bersenjata yang pecah antara Israel dan Hizbullah di Lebanon belakangan ini justru menggeser prioritas dan memaksa isu keamanan Lebanon merangsek ke garis depan perundingan, hingga memicu konfrontasi verbal dari AS.

Perundingan ini sebenarnya melibatkan jajaran tokoh kunci dari kedua negara.

Delegasi AS dipimpin langsung oleh Wakil Presiden JD Vance, didampingi utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner.

Sementara di kubu Iran, Ghalibaf didampingi oleh Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi.

Bertindak sebagai mediator dalam pertemuan krusial yang berakhir prematur ini adalah diplomat dari Pakistan dan Qatar.

(Serambinews.com/Agus Ramadhan)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.