Ketua TP PKK Kabupaten Nganjuk Targetkan Program Kemping Asik Jadi Pilot Project
Rendy Nicko June 22, 2026 09:50 PM

TRIBUNMATARAMAN.COM, NGANJUK - Ketua TP PKK Kabupaten Nganjuk, Sri Wahyuni Marhaen Djumadi, menargetkan program Kemping Asik menjadi pilot project kabupaten. 

Program tersebut dijalankan di Desa Getas, Kecamatan Tanjung Anom, Kabupaten Nganjuk. 

Kemping Asik merupakan upaya menekan angka kurang gizi dan stunting melalui optimalisasi pemberian air susu ibu (Asi) eksklusif. 

Dalam pelaksanaannya, kader PKK Desa Getas menerapkan metode pemetaan secara door-to-door, di mana satu kader menargetkan pendampingan pada 10 rumah di sekitarnya. Para kader ini melakukan kunjungan rutin untuk memantau perkembangan, mencatat efektivitas di rapor pendampingan, serta mengedukasi para ibu bersalin.

Baca juga: Hasil Halaqah Munas-Konbes NU 2026, Pesantren Sepakati Penguatan Pendampingan untuk Lindungi Santri

Langkah strategis ini terbukti membuahkan hasil yang membanggakan. 

Cakupan ASI eksklusif di Desa Getas yang berada di angka 63 persen pada tahun 2025, sukses melonjak drastis menjadi 89 % per bulan Mei 2026. 

Capaian ini sukses melampaui rata-rata persentase di tingkat Kabupaten Nganjuk maupun Provinsi Jawa Timur.

Dia turut mengikuti penilaian Lomba Kemping Asik secara virtual melalui daring. 

Sri Wahyuni mengaku bangga atas semangat dan kerja keras para kader yang mampu mempersiapkan program dengan baik meski waktu persiapan relatif singkat. 

Menurutnya, keberhasilan pelaksanaan program jauh lebih penting dibandingkan hasil akhir perlombaan.

"Saya berharap program Kemping Asik yang menjadi pilot project di Desa Getas ini dapat menjadi motivasi bagi desa-desa lain sehingga bisa diterapkan di seluruh Kabupaten Nganjuk," katanya, Senin (22/6/2026). 

Ia menegaskan bahwa pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan merupakan hak setiap bayi yang harus diperjuangkan bersama. 

Dia menilai, saat ini, diperlukan pendampingan yang lebih intensif kepada ibu-ibu muda.

Sebab, tantangan yang dihadapi berbeda dengan generasi sebelumnya.

"Bayi harus mendapatkan haknya untuk memperoleh ASI eksklusif selama enam bulan. Tidak ada merek susu apa pun yang bisa menandingi kualitas ASI. Ini adalah bekal terbaik untuk tumbuh kembang anak," ungkapnya. 

Selain faktor ibu menyusui, ia menyoroti pentingnya dukungan keluarga, terutama suami serta kakek dan nenek bayi. 

Ia mengakui masih banyak mitos yang berkembang di masyarakat dan kerap menjadi penghambat keberhasilan ASI eksklusif.

Salah satu mitos yang masih ditemukan adalah anggapan bahwa kolostrum atau ASI pertama yang keluar setelah melahirkan merupakan cairan kotor sehingga harus dibuang. 

Padahal, kolostrum justru mengandung antibodi dan nutrisi yang sangat tinggi untuk melindungi bayi dari berbagai penyakit pada masa awal kehidupannya.

Guna mengatasi pemahaman itu, inovasi edukasi melalui grup aplikasi pesan singkat yang melibatkan keluarga dinilai menjadi langkah yang efektif. 

Melalui medium itu, informasi yang benar mengenai manfaat ASI dapat disampaikan secara cepat sekaligus menjadi sarana konsultasi bagi para ibu dan keluarga.

"Kadang yang menjadi tantangan bukan hanya ibunya, tetapi lingkungan terdekatnya. Karena itu edukasi harus menyasar keluarga juga agar semua memberikan dukungan kepada ibu menyusui," jelasnya. 

(Danendra Kusuma/TribunMataraman.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.