Cabor Dance Sport Diisukan Dicoret di Porprov Sulsel 2026
Alfian June 22, 2026 11:21 PM

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR – Dance Sport diisukan dicoret dari daftar cabang olahraga (Cabor) yang dipertandingkan pada Pekan Olahraga Provinsi Sulawesi Selatan (Porprov Sulsel) XVIII 2026 Wajo-Bone.

Ajang multi event olahraga tingkat Provinsi Sulsel ini rencananya diselenggarakan pada November mendatang.

Sekretaris Umum Pengurus Provinsi Ikatan Olahraga Dance Sport Indonesia (Sekum Pengprov IODI) Sulsel Ade Tri Putra Kadiaman mengaku terkejut mengenai isu pencoretan Dance Sport.

Bahkan, ia mendapat informasi bukan hanya Dance Sport saja diisukan dicoret, tapi ada juga cabor lain.

Pria akrab disapa Putra ini mengaku akan berusaha agar Dance Sport tetap dipertandingkan di multi event olahraga regional tersebut. 

Lantaran ratusan atlet telah berjuang untuk bisa sampai ke Porprov.

Baca juga: Jelang Porprov Sulsel XVIII, KONI dan Pemkab Wajo Matangkan Dana Pembinaan Atlet

Sebanyak 257 atlet mengikuti Babak Kualifikasi (BK) Porprov, 186 atlet dinyatakan lolos ke Porprov. 70 persen di antaranya atlet berusia 16 tahun.

“Saya betul-betul tidak tahu ini isu kenapa bisa tersebar, ternyata bukan hanya Dance Sport saja.  Dance Sport bersuara, saya tidak punya kepentingan, saya  memperjuangkan atlet Dance Sport yang telah lolos ke Porprov,” katanya saat dihubungi Tribun-Timur.com melalui telepon, Selasa (22/6/2026). 

Atlet Dance Sport nasional ini terkejut ketika mendapat kabar isu tersebut.

Ia bahkan heran karena isu Dance Sport dicoret di Porprov didengarnya dari Pengurus Daerah (Pengda) Dance Sport kabupaten/kota.

“Saya mengetahui isu Dance Sport dicoret dari pengurus Dance Sport di kabupaten/kota. Mereka bertanya kepada saya saya, kenapa bisa isu muncul seperti ini. Mereka lebih tahu dari provinsi (Pengprov Dance Sport), padahal mereka latihan di KONI Sulsel lantai dua,” tuturnya.

Putra menyebut, pencoretan ini memang masih isu, tapi sangat mengganggu penganggaran pengurus Cabor Dance Sport di kabupaten/kota menghadapi Porprov.

Bahkan, KONI Sulsel pun kini jadi ragu. 

Terbukti dalam Rapat Kerja Provinsi (Rakerprov) KONI Sulsel pada 13 Juni lalu, pengurus KONI Sulsel berbicara kepada Pengprov Dance Sport terkait isu pencoretan tersebut. 

Alasan isu pencoretan dari Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Sulsel karena efisiensi anggaran.

Jika itu jadi alasan, Putra tidak menerima walaupun masih sekadar isu. 

Sebab, tidak ada indikator yang jelas untuk Dance Sport tak dipertandingkan di Porprov.

“Dari 45 Cabor, ada empat atau lima (Cabor) lain rencana tidak dipertandingkan, salah satunya Dance Sport. Apa indikatornya kenapa Dance Sport tidak dipertandingkan?”tanyanya.

“Bukannya saat BK Porprov yang membiayai juga Dispora. Kalau mau tolak kenapa bukan saat BK Porprov kalau soal anggaran,” sambung pelatih kepala Dance Sport Sulsel ini.

Selain efisiensi anggaran, ungkap Putra, muncul pula kabar tuan rumah Wajo dan Bone menolak Dance Sport. 

Namun, menurutnya tidak mungkin Wajo menolak.

 Ia setiap hari koordinasi dengan KONI Wajo dan tidak ada penyampaian penolakan.

Sedangkan di KONI Bone, mereka menyiapkan tiga opsi venue untuk digunakan. 

Yaitu Aula Brimob Batalyon C Pelopor Sulsel, Gedung Ummi dan Gedung PKK Bone.

Makanya, KONI Wajo dan Bone pun meminta agar Pengprov IODI Sulsel memastikan keikusertaan Dance Sport ke KONI Sulsel. 

Putra pun mengonfirmasi KONI Sulsel, hasilnya induk olahraga Sulsel tersebut tetap mempertandingkan Dance Sport.

Tak ayal ia heran jika Dispora Sulsel dikabarkan mencoret Dance Sport. 

“Saya pertanyakan Dispora Sulsel, karena kalau KONI menyatakan tetap dipertandingkan,” ungkapnya.

Menurut Putra, jika Dance Sport tidak dipertandingkan di Porprov akan menghambat pembinaan atlet menuju Pra Pekan Olahraga Nasional (Pra PON) tahun depan. 

Pertanggungjawaban laporan Pengprov IODI Sulsel ke Pengurus Pusat IODI juga pasti dipertanyakan jika Dance Sport benar-benar dicoret dari Porprov,

Lantaran, Pengprov IODI Sulsel melaporkan pelaksanaan BK Porprov, tapi tak ada pelaporan Porprov.

“Itu menghambat kita menuju ke Pra PON tahun depan,” tutur atlet peraih medali perak PON Aceh-Sumatera Utara (Sumut) ini.

Untuk mendapat kejelasan, Putra mengatakan, pihaknya akan bersurat ke KONI Sulsel agar difasilitas bertemu dengan Dispora Sulsel.

Ia ingin mendengar alasan langsung dari Dispora Sulsel mengenai isu pencoretan Dance Sport dari Porprov. 

“Saya ingin mendengar dari Dispora apa maksud dan tujuannya kenapa menolak,” ucapnya.

Dihubungi terpisah, Ketua Harian KONI Sulsel Chalik Suang memastikan belum ada keputusan resmi pencoretan Dance Sport dari Porprov. 

“Belum, belum, belum ada keputusan,” katanya.

Chalik Suang mengaku telah bertemu dengan Pengprov IODI Sulsel yang mempertanyakan isu tersebut.

Ia pun menyampaikan kepada Pengprov IODI Sulsel untuk menyurat ke KONI Sulsel.

Sebagai tindaklanjutnyam nanti, pihaknya menemani Pengprov IODI Sulsel menemui Dispora Sulsel untuk membicarakan masalah yang terjadi.

Menurut dia, Dance Sport harus dipertandingkan di Porprov.

Lantaran, Cabor ini penyumbang tiga medali di pada PON Aceh-Sumut lalu.

Atlet Dance Sport Ivan Otnieliem dan Vani Jusak Otnieliem menyumbang medali emas di nomor FF Samba Campuran.

Keduanya mempersembahkan medali perunggu untuk Sulsel juga di nomor Amateur Latin Campuran.

Sedangkan Anastasya Kadiaman dan Putra meraih medali perak di nomor Pre Amateur Campuran.

Selain itu, Dance Sport juga telah mengikuti BK Porprov yang dibiayai oleh APBD 2026. 

“Jadi kalau tidak dipertandingkan di Porprov apa jadi alasannya. Itu merugikan kita dan daerah, karena mereka telah melatih dan membekali atlet,” terangnya. 

Kalau pun nantinya, sebut Chalik Suang, tuan rumah Porprov Wajo-Bone tak punya tempat menggelar Dance Sport, masih ada daerah lain bisa ditempati. Misalnya, di Kota Makassar. 

“Tak jadi masalah dilaksanakan kalau bukan di dua tuan rumah tersebut,” pungkasnya.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.