Mantan Pengelola Puncak Manggar Kenang Masa Kejayaan, Kini Berjualan Pempek di Samping Swalayan
Hendra June 22, 2026 11:35 PM

POSBELITUNG.CO, BELITUNG -Sore hari di Desa Kurnia Jaya, Kecamatan Manggar, Kabupaten Belitung Timur, membawa kehangatan tersendiri di sebuah warung kuliner sederhana.

Di tempat itu, aroma khas cuka berpadu dengan wangi pempek ikan yang sedang digoreng dalam minyak panas.

Di balik warung pempek tersebut, duduk seorang pria paruh baya mengenakan pakaian sederhana. Sebuah peci menutupi kepalanya, menemani kacamata baca yang bertumpu di batang hidungnya.

Pria itu adalah Agus Salim (59), sosok ramah yang sore itu sedang menunggu pembeli bersama sang istri. Siapa sangka, di balik penampilannya yang bersahaja sebagai pelaku UMKM saat ini, Agus merupakan tokoh penting dalam sejarah ritel modern pertama di Belitung Timur.

Agus adalah mantan pengelola Puncak Manggar yang memimpin operasional swalayan tersebut selama bertahun-tahun. Namun, saat mengawali perbincangan mendalam bersama Posbelitung.co, pria yang hampir menginjak usia 60 tahun itu memilih menanggalkan segala ego jabatannya di masa lalu.

"Ya, kalau saya merasa sih sebagai karyawan biasa saja lah," ujar Agus, Senin (22/6/2026).

Takdir membawa Agus untuk pertama kali menginjakkan kaki dan masuk ke dalam jajaran manajemen Puncak Manggar pada tahun 2007 silam. Sejak awal, tugas berat sesungguhnya sudah dibebankan di pundaknya.

Meski secara resmi Agus memegang kendali penuh atas manajemen toko, ia selalu menolak untuk disebut sebagai atasan tunggal.

"Sebetulnya penugasan dari awal memang begitulah adanya. Cuma kita kan, kalau saya merasa sama kawan-kawan itu sama. Jadi, sama-sama karyawan lah. Status itu hanya beda-beda di atas kertas saja lah," tuturnya.

Agus mendedikasikan waktu, pikiran, dan tenaganya untuk mengelola Puncak Manggar dalam kurun waktu yang cukup panjang, yakni tujuh tahun. Ia tercatat aktif sejak 2007 hingga memutuskan mengakhiri masa baktinya tepat pada penghujung 2014.

"31 Desember (2014) saya terakhir lah itu," kenangnya.

Perjalanan Agus dalam membangun Puncak Manggar ternyata tidak semulus dan seinstan yang dibayangkan banyak orang. Ketika ia pertama kali datang, kondisi swalayan tersebut justru berada dalam fase yang memprihatinkan.

Meski pada awal berdiri sekitar 2005 pengunjung ramai, angka penjualan pada 2007 ternyata sempat mengalami sedikit penurunan.

"Awal datang ke sini kelihatannya cukup sepi. Padahal waktu awal berdiri katanya sempat ramai tuh," ungkapnya.

Melihat kondisi tersebut, Agus tidak tinggal diam dan langsung bergerak menyusun strategi. Kunci utama kebangkitan kembali Puncak Manggar saat itu terletak pada kelancaran pasokan barang dagangan guna menarik minat beli masyarakat.

Pihak manajemen mulai membangun sinergi kuat dengan memanfaatkan jaringan toko saudara mereka di Kabupaten Belitung, yakni Puncak Tanjungpandan. Berbagai pasokan barang kebutuhan mulai dialirkan secara masif untuk mengisi kekosongan rak di Manggar.

"Ya, mungkin setelah dibantu manajemen dengan suplai barang, waktu itu kan masih ada Puncak Tanjung. Dengan suplai barang dari Puncak Tanjung dan supplier, sedikit demi sedikit mulai ada perkembangan yang lebih bagus," jelasnya.

Langkah tersebut rupanya membuahkan hasil yang luar biasa di lapangan. Dukungan penuh dari jajaran manajemen pusat juga ikut andil besar dalam memuluskan lompatan bisnis Puncak Manggar hingga kembali ramai seperti pada masa awal berdiri.

"Jadi kan mulai ada keramaian dan juga bantuan-bantuan dari manajemen pusat yang mendukung supaya Puncak Manggar ini bisa maju," sambung Agus.

Meski begitu, keberhasilan tersebut tidak membuat Agus jumawa. Ia berulang kali menegaskan bahwa kesuksesan Puncak pada era 2000-an bukan karena kehebatan dirinya semata.

Agus menaruh rasa hormat yang tinggi kepada puluhan staf lapangan yang bekerja bersamanya. Diperkirakan, ada sekitar 30 hingga 40 tenaga kerja yang ikut bahu-membahu menggerakkan roda bisnis kala itu.

"Sekitar 30 sampai 40 orang. Jadi bukan kerja saya sendiri, tapi dari manajemen, dari kawan-kawan di lapangan, sama-sama saling bantu lah," ucapnya.

Lebih lanjut, Agus menilai ramainya Puncak Manggar dahulu bukan semata-mata karena keunggulan internal mereka. Ada faktor eksternal yang jauh lebih besar, yakni kondisi ekonomi Kabupaten Belitung Timur yang saat itu sedang berada dalam masa keemasan.

Pada kurun waktu 2007 hingga 2014, daya beli masyarakat Belitung Timur tergolong sangat tinggi dan menjanjikan. Sektor ekonomi yang tumbuh subur membuat daya beli masyarakat meningkat, sehingga berdampak positif bagi seluruh pelaku usaha.

"Mungkin itu bukan soal masa jayanya Puncak. Memang situasi Belitung Timur saat itu lagi menjanjikan. Bukan Puncak saja yang ramai, mungkin pelaku UMKM, toko-toko lain, semuanya juga ramai. Faktor situasi mungkin kondisinya memang begitu," kata Agus.

Kemakmuran ekonomi Belitung Timur saat itu membuat seluruh sudut pasar tradisional hingga toko-toko kelontong kecil ikut merasakan berkah pertumbuhan ekonomi.

"Kondisi Beltim sendiri pada saat itu memang ramai orang belanja. Mungkin dari toko-toko lain, walaupun toko kecil, pasar, memang ekonominya pada saat itu bagus," lanjutnya.

Meski demikian, Agus merasa kapasitasnya saat ini hanyalah warga biasa yang tidak berhak menghakimi kondisi pasar secara sepihak, terlebih pada tahun 2026.

"Kalau sekarang kondisinya, ya kita belum bisa memastikan lah. Mungkin pakar-pakar yang lebih pasti menilainya itu," ujarnya.

Saat berbincang, ingatan Agus sempat kembali pada kenangan ketika seluruh karyawan dari berbagai latar belakang bisa duduk bersama para tetua adat dan tokoh masyarakat setempat. Saat itu, mereka memanjatkan doa bersama demi keselamatan dan kelancaran usaha.

"Kalau yang berkesan itu pada saat saya masih gabung, suasana kebersamaan Puncak itu masih akrab. Dan juga kadang-kadang dalam acara tertentu kami ajak sesepuh kampung, walaupun hanya doa kecil-kecilan, kumpul bareng sama-sama karyawan gitu," kisahnya.

Satu hal yang menarik, hingga hari terakhir Agus memutuskan mundur pada 31 Desember 2014, kondisi Puncak Manggar sama sekali belum menunjukkan penurunan jumlah pengunjung. Penjualan saat itu masih berada dalam kondisi yang sangat stabil.

"Pada waktu akhir saya mundur itu kondisi stabil," katanya.

Kini, setelah lebih dari satu dekade berlalu, Agus yang sehari-hari berjualan pempek tepat di samping Puncak Manggar ikut mendengar desas-desus yang kurang sedap. Isu mengenai swalayan tersebut yang dikabarkan akan segera menghentikan operasional menjadi perbincangan publik belakangan ini.

Menanggapi hal tersebut, Agus memilih melihat persoalan dari sudut pandang orang awam. Meski begitu, ikatan emosional yang masih tersisa membuat hatinya tetap tergerak untuk mendoakan yang terbaik.

Agus berharap ada solusi yang mampu menguntungkan semua pihak yang terlibat.

"Ya, saya selaku orang awam enggak bisa menanggapi apa-apa. Cuma selaku mantan, mendoakan yang terbaik saja lah. Semoga ada solusi terbaik untuk manajemen, karyawan, dan juga pemerintah setempat," harapnya.

(Posbelitung.co/Kautsar Fakhri Nugraha)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.