'Hampir tidak manusiawi' - Xavi menyebut Lionel Messi sebagai 'Michael Jordan sepak bola' setelah melihat hat-trick 'gila' mantan rekan setimnya di Barcelona untuk Argentina di Piala Dunia
Rina Kusumawati June 23, 2026 12:03 AM

Mantan pelatih Barcelona, Xavi, memberikan pujian luar biasa kepada Lionel Messi dengan membandingkan ikon Argentina tersebut dengan legenda bola basket, Michael Jordan. Pujian ini muncul setelah Messi mencetak hat-trick sensasional melawan Aljazair di Piala Dunia 2026, yang membuatnya menyamai rekor pencetak gol terbanyak sepanjang masa dalam turnamen tersebut.

Jordan di atas lapangan hijau

Xavi, yang tidak pernah menyembunyikan kekagumannya terhadap rekannya di masa kejayaan Barcelona, kini menempatkan bintang Inter Miami itu di level tertinggi dalam sejarah olahraga. Dengan membandingkan daya tahan dan pengaruhnya dengan legenda Chicago Bulls tersebut, Xavi meyakini bahwa Messi telah melampaui semua pesaing historis untuk gelar pemain terbaik sepanjang masa.

"Saya suka mengatakan bahwa dia adalah Michael Jordan-nya sepak bola," ujar mantan gelandang Barcelona itu kepada The Athletic. “Dalam sepak bola, tidak ada yang bisa dibandingkan dengannya. Dia telah melampaui para legenda masa lalu karena daya tahannya: dia telah menjadi yang terbaik selama 20 tahun terakhir. Bahkan sekarang, setelah sekian lama, dia masih terus menunjukkan hal itu. Mentalitasnya luar biasa.”

Ia menambahkan: “Bagi saya, itulah yang membedakannya. Dia tidak tahan dengan kekalahan. Dia memiliki temperamen yang sempurna untuk sepak bola dan fisik yang ideal: tubuhnya benar-benar dibuat untuk permainan ini. Lupakan gol-gol yang dia cetak melawan Aljazair; lihat permainan menyeluruhnya, kondisi fisiknya, serta dorongan dan ambisi yang dia bawa ke setiap laga. Dia memiliki mental juara yang tidak akan pernah tertandingi.”

Standar tak tertandingi dan 'tidak manusiawi'

Meski telah berusia 38 tahun, penampilan Messi dalam kemenangan Argentina 3-0 atas Aljazair membuat banyak pihak terkesima. Penyerang veteran itu membuka keunggulan sebelum menghancurkan pertahanan lawan dengan dua gol tambahan, membuat Xavi mengakui bahwa dirinya masih kagum pada kemampuan “sihir kecil” tersebut di panggung terbesar sepak bola dunia.

“Saya mengirim pesan kepada Leo setelah laga melawan Aljazair. Saya bilang padanya bahwa apa yang dia lakukan benar-benar gila, saya hanya bisa tertawa melihatnya. Itu sungguh luar biasa, benar-benar gila. Tapi itulah Leo. Dia selalu muncul di saat yang tepat. Bagi saya, dia tak tertandingi. Tak tertandingi. Hampir tidak manusiawi,” tambah Xavi.

Rahasia di balik keajaiban

Xavi menegaskan bahwa kejeniusan Messi tidak hanya berasal dari kemampuan fisiknya, tetapi juga dari pemahaman kognitifnya terhadap permainan. Ia menjelaskan bagaimana Messi menggunakan teknik “pemindaian” (scanning) untuk mendominasi lawan, sering kali berjalan santai sambil memetakan seluruh lapangan secara mental untuk menemukan celah di lini pertahanan musuh.

Ia berkata: “Gol pertamanya melawan Aljazair adalah murni Leo. Ketika Rodrigo De Paul mengangkat kepala, Leo sudah berada di posisi sempurna untuk menerima bola. Lalu dia melihat ke belakang tiga kali. Itulah salah satu rahasianya. Dia terus melihat, terus menilai keadaan di sekitarnya. Semua hal sudah ada di kepalanya. Sering kali, dia hanya berjalan, tapi sambil mengamati. Rekan-rekannya mengoper bola, sementara dia menganalisis apa yang dilakukan gelandang bertahan lawan, bek tengah, dan di mana ruang kosong berada. Pemahamannya terhadap permainan sungguh luar biasa.”

Ahli di setiap posisi

Mengenang masa kebersamaan mereka di Katalonia, Xavi mengatakan bahwa fleksibilitas Messi begitu luar biasa sehingga ia bisa menggantikan siapa pun di posisi mana pun. Dari gelandang bertahan hingga jantung pertahanan, sang juara dunia memiliki kemampuan teknis untuk menjadi pemain terbaik di setiap area lapangan tempat ia bermain.

“Kami sering melakukan latihan mental di Barcelona, latihan di mana kami harus mencari ruang atau pemain bebas. Leo adalah ahli dalam hal itu. Saya tidak berlebihan ketika mengatakan bahwa dia bisa bermain di posisi Iniesta, Busquets, Puyol, atau saya sendiri. Dia bisa melakukan semuanya sebaik pemain terbaik di setiap posisi,” jelas Xavi.

“Hal itu masih berlaku sampai sekarang. Saya sudah tahu bahwa dia adalah talenta luar biasa sejak usia 16 tahun, tapi bisa bertahan selama ini benar-benar luar biasa. Saya merasa beruntung bisa bermain bersama Leo, menjadi bagian dari sejarah bersamanya. Saya tidak percaya kita akan melihat pemain seperti dia lagi.”

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.