Isu Israel Dikendalikan Trump Dibantah Keras Netanyahu, Tanda Ketegangan 2 Sekutu Menguat?
Eri Ariyanto June 23, 2026 06:03 AM

TRIBUNNEWSMAKER.COM - Ketegangan diplomatik kembali menjadi sorotan setelah muncul isu yang menyebut hubungan antara Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump tengah mengalami gesekan.

Isu tersebut berkembang setelah beredar klaim bahwa Israel seolah berada di bawah pengaruh kebijakan politik Amerika Serikat di era Donald Trump.

Pernyataan itu langsung memicu perdebatan publik, terutama terkait dinamika hubungan strategis antara Israel dan United States.

Netanyahu dengan tegas membantah anggapan bahwa Israel “dikendalikan” oleh pihak mana pun, termasuk Donald Trump.

Ia menegaskan bahwa keputusan politik Israel tetap bersandar pada kepentingan nasional dan pertimbangan keamanan negara.

Sementara itu, Trump disebut tetap memiliki pengaruh kuat dalam percaturan politik global, khususnya di Timur Tengah.

Isu ini pun memunculkan spekulasi adanya pergeseran hubungan antara dua sekutu lama yang selama ini dikenal cukup solid.

Pengamat politik menilai, dinamika tersebut lebih mencerminkan perbedaan kepentingan daripada keretakan total.

Meski demikian, narasi yang berkembang di publik tetap memperkuat kesan adanya ketegangan yang meningkat.

Situasi ini pun menjadi sorotan internasional karena menyangkut hubungan dua kekuatan besar yang selama ini saling terhubung erat.

Baca juga: Iran Murka Usai Ancaman Trump, Balas Peringatan Keras untuk AS: Sebaiknya Mereka Berhati-hati

Seperti diketahui, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu membantah pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyebut Israel “melakukan apa yang saya katakan”.

Netanyahu menegaskan bahwa klaim tersebut tidak benar dan mengatakan bahwa kedua negara tetap berdiri sebagai negara yang “merdeka dan bangga” dengan kepentingan masing-masing.

Pernyataan ini muncul di tengah ketegangan hubungan antara Washington dan Tel Aviv setelah kesepakatan damai AS dengan Iran tercapai.

Trump klaim pengaruhi Israel

Sebelumnya, Trump mengatakan bahwa dirinya memiliki pengaruh untuk mengendalikan tindakan militer Israel di kawasan.

Dalam wawancara dengan Axios pada Jumat (19/6/2026), Trump ditanya apakah ia mampu memengaruhi Israel untuk menghentikan serangan lebih lanjut terhadap Lebanon.

“Ya, saya akan melakukannya. Maksud saya, mereka sangat menghormati saya, dan mereka melakukan apa yang saya katakan,” jawab Trump, sebagaimana dikutip The Hindustan Times.

Trump juga membahas hubungannya dengan Netanyahu. Ia menyebut hubungan keduanya “baik”, meski mengatakan bahwa dirinya harus “menjaganya sedikit tetap waras”.

Selain itu, Trump mengeklaim bahwa Israel “tidak akan ada” tanpa dukungan yang diberikannya.

NETANYAHU PRESENTASI - Foto diambil dari Facebook PM Israel pada Rabu (13/8/2025), memperlihatkan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu pada Konferensi Pers untuk Media Asing pada 5 September 2024.
NETANYAHU PRESENTASI - Foto diambil dari Facebook PM Israel pada Rabu (13/8/2025), memperlihatkan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu pada Konferensi Pers untuk Media Asing pada 5 September 2024. (Facebook/PM Israel)

Netanyahu membantah

Menanggapi pernyataan Trump, Netanyahu pada Minggu (21/6/2026) mengatakan, anggapan bahwa salah satu pemimpin bertindak berdasarkan instruksi dari pemimpin lainnya adalah tidak benar.

Berbicara dalam KTT Kebijakan Internasional 2026 yang digelar Jerusalem News Syndicate (JNS), Netanyahu menegaskan ada persepsi berbeda di Amerika Serikat maupun Israel mengenai hubungan mereka.

“Di Amerika Serikat, mereka mengatakan bahwa Presiden Trump melakukan semua yang saya minta dia lakukan. Dan di Israel, mereka mengatakan bahwa saya melakukan semua yang dia inginkan. Nah, keduanya tidak benar,” kata Netanyahu.

Ia menegaskan bahwa dirinya dan Trump sama-sama mengambil keputusan berdasarkan kepentingan nasional masing-masing, bukan karena perintah dari pihak lain.

“Kami adalah pemimpin dari negara-negara yang merdeka dan bangga. Kami memperjuangkan kepentingan kami. Saya memperjuangkan kepentingan Israel dan keamanannya. Dan sering kali kami memiliki pandangan yang sama. Terkadang kami tidak. Tetapi kami menghormati kedaulatan dan kepemimpinan satu sama lain serta komitmen kami kepada rakyat kami,” ujar Netanyahu.

Ketegangan AS-Israel

Setelah bersama-sama melancarkan perang terhadap Iran pada 28 Februari, hubungan antara Israel dan Amerika Serikat disebut memburuk.

Trump mengkritik Israel karena terus melakukan serangan terhadap Lebanon, yang menurutnya berisiko merusak kesepakatan damai dengan Teheran.

Wakil Presiden AS JD Vance juga memberikan peringatan keras kepada sejumlah tokoh Israel yang menentang kesepakatan Iran. Ia meminta mereka tidak mengkritik sekutu kuat mereka yang tersisa.

“Apa yang akan saya katakan, dan ini memang mengganggu saya, adalah Anda melihat orang-orang di dalam kabinet Bibi yang keluar dan menyerang kesepakatan tersebut, dan dalam beberapa hal menyerang Presiden Amerika Serikat secara pribadi,” kata Vance kepada wartawan.

“Jika saya berada di kabinet pemerintah Israel, saya mungkin tidak akan menyerang satu-satunya sekutu kuat yang saya miliki di seluruh dunia,” lanjutnya.

Ketegangan dengan Washington ini terjadi ketika Netanyahu juga menghadapi tekanan dari dalam negeri.

Sebuah jajak pendapat yang dilakukan oleh Hebrew University of Jerusalem bersama Agam Institute menunjukkan mayoritas besar warga Israel menilai Iran keluar sebagai pihak yang menang atau lebih diuntungkan dalam perang.

(TribunNewsmaker.com/Kompas.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.