TRIBUNNEWS.COM - Rangkaian peristiwa internasional menjadi sorotan dalam 24 jam terakhir.
AS dan Iran menyelesaikan putaran pertama perundingan di Swiss dengan menyepakati peta jalan menuju kesepakatan akhir dalam waktu 60 hari.
Iran menyambut hasil perundingan tersebut karena dinilai membawa kemajuan dalam keringanan sanksi, pelepasan aset yang dibekukan, dan upaya mengakhiri konflik di Lebanon.
Sementara itu, Andy Burnham disebut sebagai kandidat kuat pengganti Keir Starmer sebagai Perdana Menteri Inggris.
Putaran pertama perundingan damai antara para pejabat tinggi AS dan Iran di Swiss telah berakhir pada Senin (22/6/2026).
Perundingan sempat memanas setelah Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz dan Presiden AS Donald Trump kembali mengancam akan mengebom Iran.
Mengutip TRT World, pernyataan bersama dari negara mediator Qatar dan Pakistan menyebutkan bahwa AS dan Iran telah menyetujui roadmap atau rencana kerja menuju kesepakatan akhir dalam waktu 60 hari.
Pembicaraan teknis akan berlanjut pekan ini di resor pegunungan Burgenstock milik Qatar di Swiss, menurut pernyataan yang dikeluarkan Kementerian Luar Negeri Qatar.
Para pihak juga menyetujui mekanisme untuk mengakhiri pertempuran di Lebanon dan membuka jalur komunikasi guna membantu memastikan pelayaran yang aman bagi kapal-kapal komersial melalui Selat Hormuz.
Mekanisme tersebut dirancang untuk mencegah kesalahpahaman dan menghindari insiden, sekaligus memastikan jalur aman bagi kapal-kapal komersial selama periode 60 hari yang ditetapkan dalam memorandum awal.
Selat Hormuz merupakan jalur energi terpenting di dunia karena menjadi satu-satunya jalur maritim yang menghubungkan Teluk Persia yang kaya minyak dengan samudra lepas.
Sekitar 20 persen pasokan minyak bumi cair dan gas alam cair (LNG) dunia melewati koridor sempit ini setiap hari, sehingga stabilitasnya sangat penting bagi keamanan ekonomi global.
BACA SELENGKAPNYA >>>
Perundingan damai antara AS dan Iran di Swiss sempat memanas setelah para negosiator Iran meninggalkan ruang perundingan akibat serangkaian ancaman yang dilontarkan Presiden AS Donald Trump melalui media sosial.
Mengutip The Guardian, Donald Trump mengancam akan membom Iran dan bahkan menculik tim negosiator Iran jika Selat Hormuz tidak dibuka kembali.
Kondisi tersebut membuat Qatar dan Pakistan, yang bertindak sebagai penengah, melanjutkan negosiasi secara diam-diam.
Media pemerintah Iran mengatakan pembicaraan memasuki fase sulit hingga harus ditunda setelah muncul pesan-pesan bernada menghina yang dilontarkan presiden AS.
Delegasi Iran bertemu dengan mediator Qatar sebelum meninggalkan lokasi negosiasi, lapor media pemerintah.
Seorang diplomat AS di lokasi perundingan di Bürgenstock mengatakan pembicaraan diperkirakan berlanjut hingga Minggu (21/6/2026) malam sampai Senin dini hari waktu setempat.
Aspek-aspek kunci yang dibahas antara lain mengklarifikasi niat Iran terkait Selat Hormuz, mekanisme untuk memastikan jalur tersebut tetap terbuka, memastikan gencatan senjata di Lebanon selatan ditegakkan, serta membahas isu nuklir.
Sebelum meninggalkan pertemuan tatap muka di Bürgenstock, Iran mencapai kesepakatan awal mengenai cara AS memberikan dispensasi yang mencabut sanksi terhadap ekspor minyak Iran, salah satu prasyarat utama sebelum Iran membuka pembicaraan mengenai program nuklirnya.
Para pejabat Iran mengklaim dispensasi tersebut akan segera dikeluarkan.
BACA SELENGKAPNYA >>>
Sedikitnya 54 orang mengalami luka-luka, sementara 18 orang lainnya masih dinyatakan hilang setelah ledakan besar mengguncang fasilitas gas di Ras Laffan Industrial City, Qatar.
Ledakan memunculkan bola api raksasa yang terlihat bahkan dari jarak puluhan kilometer.
Kementerian Dalam Negeri Qatar menyatakan tim penyelamat masih melakukan operasi pencarian dan evakuasi di lokasi kejadian.
Dalam pernyataan yang disampaikan Senin (22/6/2026), Kementerian Dalam Negeri menjelaskan ledakan internal disertai kebakaran terjadi pada Minggu (21/6) di fasilitas pasokan gas Barzan, saat proses awal pengoperasian (start-up) fasilitas tersebut.
Otoritas Qatar menyebut insiden dipicu oleh gangguan teknis, sementara penyebab pastinya masih dalam penyelidikan.
Perusahaan energi milik negara, QatarEnergy, mengonfirmasi bahwa ledakan terjadi di kawasan Ras Laffan Industrial City, kompleks industri energi terbesar di negara itu.
Hingga kini, tim tanggap darurat terus menyisir area fasilitas untuk mencari 18 orang yang masih belum ditemukan.
Dampak ledakan terlihat hingga jarak yang cukup jauh.
BACA SELENGKAPNYA >>>
Perdebatan mengenai kopi arabika dan robusta terus menjadi topik menarik di kalangan pecinta kopi dunia. WNI di Jepang pun banyak bertanya kepada ahli Kopi Indonesia.
Namun menurut pakar kopi Indonesia Moelyono Soesilo, masing-masing jenis memiliki keunggulan tersendiri dan tidak bisa dinilai hanya berdasarkan anggapan bahwa arabika selalu lebih baik daripada robusta.
"Arabika memang lebih sensitif terhadap cuaca, sedangkan robusta lebih tahan terhadap perubahan lingkungan. Masing-masing mempunyai karakter sendiri," ujarnya dalam diskusi mengenai perkembangan kopi Indonesia.
Arabika Lebih Asam dan Manis
Menurut Moelyono, arabika dikenal memiliki tingkat keasaman dan kemanisan yang lebih tinggi dibandingkan robusta.
"Karakter asam dan manis arabika memang lebih menonjol. Karena itu selama bertahun-tahun arabika dianggap sebagai kopi premium," katanya.
Namun dalam beberapa tahun terakhir, robusta justru semakin populer, terutama di pasar Asia.
"Belakangan robusta naik daun karena lebih sesuai dengan selera masyarakat Asia. Pada akhirnya soal kopi itu tergantung selera masing-masing," tambahnya.
BACA SELENGKAPNYA >>>
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer diperkirakan akan mundur dari jabatannya setelah kemenangan telak rivalnya, Andy Burnham, dalam pemilihan parlemen.
Hal itu mendorong semakin banyak menteri dari Partai Buruh yang berkuasa untuk menyerukan agar Starmer mundur.
Starmer diperkirakan akan memutuskan paling cepat pada Senin (22/6/2026) apakah akan mundur atau bertarung dalam kontes kepemimpinan melawan Burnham.
Jika Burnham mengambil alih kepemimpinan, ia akan menjadi perdana menteri ketujuh Inggris dalam 10 tahun terakhir.
Perdana menteri di Inggris tidak dipilih secara langsung oleh rakyat seperti rakyat Indonesia yang memiliki presiden.
Mengutip CBS News, pemilih memilih anggota House of Commons atau parlemen untuk mewakili daerah pemilihan masing-masing.
Pemimpin partai yang memenangkan mayoritas kursi di parlemen umumnya akan menjadi perdana menteri.
Pemilihan umum yang diadakan pada tanggal 4 Juli 2024, memilih seluruh 650 anggota House of Commons atau Dewan Perwakilan Rakyat.
Saat itu Partai Buruh yang menjadi oposisi, dipimpin oleh Keir Starmer, meraih kemenangan telak atas Partai Konservatif yang berkuasa di bawah Perdana Menteri Rishi Sunak, mengakhiri 14 tahun pemerintahan yang dipimpin oleh Partai Konservatif.
Partai Buruh berhasil mengamankan 411 kursi, lebih dari 326 kursi yang dibutuhkan untuk membentuk pemerintahan.
BACA SELENGKAPNYA >>>
(Tribunnews.com)