TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SANGGAU - Suasana pagi di sebuah rumah sederhana di Kelurahan Tanjung Kapuas, Kecamatan Kapuas, mendadak berubah mencekam pada Senin 22 juni 2026.
Di balik pintu rumah itu, seorang warga berinisial KW (51) nyaris kehilangan harapan hidupnya.
Namun di saat-saat genting itu, kepedulian datang tepat waktu.
Personel Polsek Kapuas bergerak cepat menindaklanjuti laporan masyarakat terkait dugaan percobaan bunuh diri di sebuah rumah di Kelurahan Tanjung Kapuas, Kecamatan Kapuas, Kabupaten Sanggau, Senin 22 Juni 2026 pagi.
Korban berinisial KW (51) berhasil dievakuasi dalam keadaan masih hidup dan segera mendapatkan perawatan medis.
Peristiwa ini diketahui sekitar pukul 10.30 WIB setelah pihak kepolisian menerima laporan warga mengenai kondisi darurat yang dialami seorang penduduk di kediamannya.
Petugas Polsek Kapuas segera mendatangi lokasi untuk melakukan pengecekan serta mengumpulkan keterangan awal.
• Kronologi dan Identitas Remaja 19 Tahun Nekat Akhiri Hidup Gara-gara Cinta di Sambas
Sekitar pukul 10.00 WIB, S adik korban datang berkunjung seperti biasa.
Ia tidak menyangka kunjungan singkat itu akan menjadi momen yang menentukan hidup dan mati sang kakak.
Saat memanggil dari luar, tidak ada jawaban yang ia terima.
Perasaan curiga membuatnya memutuskan masuk ke dalam rumah.
Di bagian dapur, pemandangan yang ia temukan membuatnya panik dan segera meminta bantuan warga sekitar.
Dalam hitungan menit, warga bersama seorang tetangga bernama AF bergegas memberikan pertolongan.
Di tengah kepanikan, mereka berusaha menyelamatkan korban yang masih menunjukkan tanda-tanda kehidupan.
Bersama warga sekitar, korban kemudian dievakuasi dan segera dibawa ke Rumah Sakit Sentra Medika Sanggau untuk mendapatkan penanganan medis awal.
Selanjutnya korban dirujuk ke RSUD M.Th. Djaman Sanggau guna perawatan lebih lanjut.
Hingga kini, korban masih dalam pemantauan tim medis.
Dari keterangan awal, di balik peristiwa ini tersimpan beban berat yang tak terlihat.
Korban diduga mengalami tekanan akibat persoalan ekonomi yang cukup lama membebani pikirannya.
Bahkan, ia disebut beberapa kali pernah mengungkapkan rasa putus asa kepada orang terdekatnya.
Pihak keluarga menyebut korban sebelumnya pernah mengungkapkan beban pikiran yang cukup berat.
Kapolsek Kapuas IPTU Marianus mengatakan pihaknya telah melakukan langkah kepolisian, mulai dari olah tempat kejadian, pemeriksaan saksi, hingga pemantauan kondisi korban di rumah sakit.
“Kami telah mengumpulkan keterangan awal dan memastikan korban mendapatkan pertolongan medis. Kami juga mengimbau masyarakat untuk lebih peduli terhadap kondisi lingkungan sekitar,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa dukungan keluarga dan lingkungan sangat penting untuk mencegah terjadinya tindakan serupa, terutama bagi warga yang sedang menghadapi tekanan hidup.
Polisi juga mengajak masyarakat agar tidak ragu mencari bantuan kepada keluarga, tokoh masyarakat, maupun tenaga kesehatan jika menghadapi persoalan berat. Kecepatan respons keluarga, warga, dan aparat kepolisian dinilai menjadi faktor penting dalam penyelamatan korban.
Mengelola risiko depresi itu penting, terutama kalau kamu mulai sering merasa sedih berkepanjangan, kehilangan minat, atau mudah lelah tanpa sebab jelas.
Berikut beberapa tips yang bisa membantu:
1. Kenali tanda-tandanya lebih awal
Perhatikan perubahan seperti:
Mood sering turun lebih dari 2 minggu
Sulit fokus atau mudah lupa
Tidur berantakan (terlalu banyak atau kurang)
Kehilangan minat pada hal yang biasanya disukai
Semakin cepat dikenali, semakin mudah ditangani.
2. Jaga pola hidup dasar
Hal sederhana tapi sangat berpengaruh:
Tidur cukup dan teratur (7–9 jam)
Makan teratur dengan gizi seimbang
Kurangi kafein dan alkohol
Tetap aktif bergerak, meski hanya jalan 15–30 menit
3. Jangan memendam sendiri
Cobalah cerita ke orang yang dipercaya:
keluarga
teman dekat
guru/konselor
Menceritakan beban pikiran sering membantu meringankan tekanan mental.
4. Kelola stres kecil setiap hari
Tulis jurnal perasaan
Lakukan pernapasan dalam (deep breathing)
Coba teknik relaksasi atau ibadah/meditasi sesuai keyakinan
5. Kurangi isolasi sosial
Walau tidak selalu ingin bersosialisasi, tetap usahakan:
ikut kegiatan ringan
ngobrol singkat dengan orang lain
tidak mengurung diri terlalu lama
6. Batasi paparan hal negatif
Kurangi doomscrolling di media sosial
Pilih konten yang lebih positif atau edukatif
Jaga jarak dari lingkungan yang toxic jika memungkinkan
7. Cari bantuan profesional jika perlu
Jika gejala mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, sangat disarankan:
psikolog
konselor
dokter jiwa (psikiater)
Mereka bisa membantu dengan terapi atau penanganan yang tepat.(*)