Laporan Wartawan TribunPalu.com, Supriyanto Ucok
TRIBUNPALU.COM, PALU - Guru besar ilmu ekonomi dan studi pembangungan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Untad, Prof. Dr. Rer.pol Patta Tope memberikan pandangannya terhadap nilai tukar Rupiah yang naik turun saat ini.
Yang mana saat ini, publik menilai bahwa situasi negara akan kembali ke masa krisis moneter seperti di tahun 1998.
Namun, Ratta Tope menilai, hal itu masih jauh pada situasi sekarang ini.
Menurutnya, pada tahun 1998, perlu digarisbawahi adanya inflasi Rupiah dan Dollar.
"Perkiraanku, untuk seperti di krisis moneter tahun 1998 itu masih jauh. Karena kalau bandingkan Rupiah dengan Dollar, mungkin dikisaran Rp 33.000," katanya.
Walaupun masih jauh dari kata krisis moneter, guru besar ilmu ekonomi Untad itu mengatakan bahwa depresiasi tidak boleh berlanjut.
Ia mengatakan bahwa pemerintah perlu mencarikan solusi agar nilai Rupiah tidak anjlok.
Baca juga: Angka Kematian Bayi di Parigi Moutong Capai 70 Kasus
Saat ini pemerintah sudah dua kali menaikkan suku bunga, dengan tujuan untuk menahan modal keluar negeri.
Lebih lanjut terkait dua program unggulan pemerintah, yaitu MBG dan Koperasi Merah Putih.
Yang mana keduanya menyerap APBN dengan nilai sangat tinggi.
Ia menilai, program tersebut penting namun perlu evaluasi.
Ia mengatakan didalam kedua program tersebut terdapat miss alokasi anggaran.
"Menurut saya itu penting tapi secara jujur anggarannya tidak sebesar itu dan caranya perlu dievaluasi," ujarnya.
"Sebagai ekonom menilai, semakin panjang mata rantai maka semakin tidak efisien program itu," pungkas Ratta Tope. (*)