TRIBUNJOGJA.COM - Dinas Pariwisata (Dispar) Kota Yogyakarta mendorong kesiapan deretan destinasi di wilayahnya guna menyambut lonjakan pelancong selama masa libur sekolah.
Salah satu fokus utama yang kini tengah digenjot adalah optimalisasi peran kampung wisata, supaya mampu menangkap peluang ekonomi secara maksimal.
Kepala Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta, Lucia Daning Krisnawati, menyatakan bahwa Kota Pelajar memiliki modal kuat berupa 46 kampung wisata dan 18 di antaranya telah masuk sebagai daya tarik wisata unggulan.
Oleh sebab itu, momentum libur sekolah ini diharapkan menjadi panggung bagi masyarakat setempat untuk menggerakkan roda perekonomian mandiri.
"Keunggulan kami adalah di kampung wisata, karena di situ adalah betul-betul destinasi yang kami miliki, yang masyarakat sendiri yang punya. Sehingga, momentum ini bisa mendongkrak perekonomian yang ada di masyarakat," ujarnya, Selasa (23/6/26).
Pihaknya pun secara rutin menggelar bimbingan teknis (bimtek) pengembangan diri untuk warga, termasuk pemandu wisata atau tour guide lokal agar kualitas pelayanan tetap terjaga.
Selain itu, di era modern, pengelola kampung wisata pun dituntut untuk melek teknologi, sehingga digitalisasi promosi guna memasarkan potensi lokal jadi harga mati.
Pemerintah Kota Yogyakarta, katanya, turut memberikan dukungan pada sektor tersebut, dengan memaksimalkan aplikasi terpadu Jogja Smart Service (JSS).
Saat ini, berbagai paket wisata menarik yang dikelola langsung oleh warga masyarakat sudah bisa diakses secara praktis melalui aplikasi yang dapat dijangkau dari gawai itu.
"Sekarang, mau tidak mau, siap tidak siap, promosi itu harus melalui digital. Di samping kesiapan mereka untuk menyambut wisatawan, mereka juga sudah membuat paket-paket wisata yang bisa diakses di JSS," jelasnya.
Ia pun berpesan, dengan segala potensi yang dimiliki, warga Kota Yogyakarta tidak boleh melewatkan momentum emas masa libur panjang ini begitu saja.
Keterlibatan aktif masyarakat dalam sektor pariwisata menjadi kunci agar perputaran uang mengalir langsung ke kantong-kantong warga, bukan sekadar dinikmati pelaku usaha skala besar.
"Kota Yogyakarta sebagai kota pariwisata, masyarakatnya tidak boleh hanya jadi penonton ketika kunjungan wisatawan melonjak. Harus ikut terlibat, dan itu pasti akan ikut menggerakkan perekonomian," tegasnya.
Terkait dengan potensi kepadatan lalu lintas yang kerap membayangi Kota Yogyakarta saat musim liburan atau high season, Lucia tidak menampik hal tersebut.
Kendati demikian, koordinasi lintas sektoral bersama Dinas Perhubungan (Dishub) dan Satpol PP Kota Yogyakarta terus dilakukan untuk melakukan rekayasa dan pengamanan.
"Kalau tidak macet, ya tidak tercapai (targetnya). Tapi sekali lagi, itulah seninya. Kami selalu membuka komunikasi dengan Dinas Perhubungan supaya mengatur semuanya. Macet tapi mandali, aman terkendali," pungkasnya. (aka)