TRIBUNBATAM.id, BATAM - Upaya pencarian terhadap Ibas, bocah berusia dua tahun yang hanyut di saluran drainase kawasan Tanjung Sengkuang, Kecamatan Batuampar, Kota Batam, terus dilakukan.
Memasuki hari kedua pencarian, tim gabungan masih belum menemukan tanda-tanda keberadaan korban.
Komandan Pos (Danpos) Basarnas Batam, Dedius Febrianto Sembiring, mengatakan tim SAR telah melakukan penyisiran intensif sejak Selasa (23/6/2026) pagi.
Pencarian difokuskan di sepanjang saluran drainase hingga ke area laut yang diduga menjadi jalur terbawa arus.
"Sejak pukul 07.00 WIB, tim telah menyisir saluran drainase sepanjang hampir dua kilometer. Setelah itu pencarian dilanjutkan ke wilayah laut dengan area pencarian yang terus diperluas," kata Dedius.
Meski berbagai metode pencarian telah dilakukan, hingga siang hari korban belum berhasil ditemukan.
Sekira pukul 09.00 WIB, tim mengalihkan fokus pencarian ke laut setelah menyelesaikan penyisiran di sepanjang drainase.
Dedius, mengatakan operasi pencarian sempat terkendala kondisi air yang surut. Perahu karet milik Basarnas tidak dapat bergerak maksimal karena tertahan di saluran drainase yang dangkal.
Saat ini tim SAR memilih bersiaga sambil menunggu pasang air laut yang diperkirakan mencapai puncaknya pada sore hari.
"Air mulai pasang sekitar pukul 11.00 WIB dan diperkirakan pasang tertinggi terjadi sekitar pukul 14.00 WIB. Tim tetap bersiaga di lapangan untuk melanjutkan pencarian," katanya.
Hingga kini, tim SAR masih belum dapat memastikan apakah korban telah terbawa hingga ke laut atau masih berada di dalam saluran drainase.
Sejumlah titik yang memiliki genangan dan kubangan air di sepanjang drainase telah diperiksa satu per satu, namun belum membuahkan hasil.
"Kami sudah mengecek beberapa titik yang berpotensi menjadi lokasi korban tersangkut, termasuk kubangan-kubangan air di sepanjang saluran, tetapi hasilnya masih nihil," jelas Dedius.
Dedius menambahkan, kondisi saluran drainase yang dipenuhi sedimentasi cukup tebal menjadi salah satu tantangan dalam proses pencarian.
Karena itu, tim berharap kondisi pasang dapat membantu memperlancar penyisiran lanjutan.
Dedius juga menjelaskan bahwa apabila korban telah sampai ke laut, kemungkinan tubuh korban muncul ke permukaan biasanya membutuhkan waktu dua hingga tiga hari.
Namun jika tertimbun sedimen di dalam drainase, proses tersebut dapat berlangsung lebih lama.
"Kalau sudah berada di laut, biasanya dua sampai tiga hari baru mengapung. Tetapi jika tertanam di sedimen, waktunya bisa lebih lama," kata Dedius.
Pencarian Azzair Ruknuddin Baibars, bocah di Batam berumur 2 tahun yang hanyut di drainase kawasan Tanjung Sengkuang, Kecamatan Batu Ampar, Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) memasuki hari kedua.
Ia merupakan anak ketiga dari pasangan Didik Supriyanto dan Chatarina.
Korban memiliki dua kakak, yakni Hagia Sophia dan Al Mutaksir.
Peristiwa nahas itu terjadi saat korban bermain di sekitar rumah bersama dua kakaknya ketika hujan deras mengguyur kawasan Tanjung Sengkuang pada Senin (22/6/2026).
Ia diduga terpeleset dan terseret arus deras hingga masuk ke saluran drainase yang bermuara ke sungai.
Bocah malang itu langsung terbawa derasnya arus air selokan yang mengalir di depan rumah mereka.
"Saat kejadian, kakaknya yang melihat adiknya terbawa arus langsung berlari memberi tahu ibunya," ujar Ketua RW 12, Kelurahan Tanjung Sengkuang, Mahdi.
Mendapat kabar tersebut, sang ibu segera menuju lokasi dan berusaha menyusuri saluran drainase tempat anaknya terakhir terlihat.
Namun derasnya arus air membuat upaya penyelamatan tidak membuahkan hasil.
Mahdi, mengatakan kondisi lokasi yang berada di area menurun menyebabkan aliran air mengalir sangat deras menuju saluran drainase yang lebih besar.
"Posisi rumah korban berada di bagian atas, sementara drainasenya menurun. Arus air saat itu sangat kuat sehingga anak tersebut dengan cepat terbawa hingga masuk ke saluran drainase yang lebih besar di bawahnya," jelasnya.
Warga yang mengetahui kejadian itu langsung bergerak melakukan pencarian secara mandiri.
Mereka menyisir sepanjang saluran air hingga ke drainase induk, namun korban belum berhasil ditemukan.
"Tadi warga sudah mencari sepanjang saluran hingga ke drainase induk, tetapi belum ada tanda-tanda keberadaan korban," katanya.
Pencarian oleh warga berlangsung sekitar satu setengah jam. Namun karena kondisi air yang masih deras dan saat itu bertepatan dengan pasang laut, pencarian mengalami kendala.
Melihat situasi tersebut, warga kemudian meminta bantuan tim gabungan untuk melakukan pencarian lebih lanjut.
"Kurang lebih satu setengah jam warga mencari, tetapi belum ditemukan. Akhirnya kami meminta bantuan Basarnas, TNI AL, dan BPBD untuk melakukan pencarian," ujar Mahdi. (TribunBatam.id/Pertanian Sitanggang)