TRIBUN-MEDAN.COM – Isu suap dalam gerakan mahasiswa kembali mencuat setelah pengakuan mengejutkan dari Ketua BEM Fakultas Hukum Universitas Bung Karno (UBK), Muhammad Abdimaludin alias Abdi.
Ia secara terbuka mengakui menerima uang Rp20 juta dari pihak kepolisian untuk memindahkan lokasi demonstrasi.
Dalam sebuah video yang diunggah akun LPM UBK Marhaen @marhaenpress, Abdi mengakui hal tersebut.
“Terkait uang itu memang saya terima, 20 persen,” kata Abdi.
“Saya mengakui kesalahan, saya menerima uang tersebut. Rp20 juta dengan pembagian dengan kawan-kawan. Dari pihak Kepolisian. (Namanya) Aan, enggak tahu (nama lengkapnya). Cuma dia datang komunikasikan, itu aja.”
Uang tersebut kemudian dibagikan ke sejumlah mahasiswa, termasuk Ketua BEM FEB Pujiono dan Wakil Ketua BEM FEB Rafly Bastian yang masing-masing menerima Rp2 juta.
Isu suap ini mencuat dalam forum musyawarah mahasiswa UBK.
Nailah, mahasiswa FH UBK angkatan 2022, menuturkan bahwa awalnya Abdi tidak hadir.
Namun, rekaman percakapan Abdi dengan seorang senior HMI Cabang Jakpustara, Raja Olowan Rambe, diputar di forum.
“Setelah mereka memberikan penjelasan, ada satu orang yang akhirnya menyetel sebuah percakapan antara Abdimaludin ini dengan salah seorang seniornya… terkait tindakan suap-menyuap tersebut,” ujar Nailah.
Rekaman itu memicu kemarahan mahasiswa yang hadir, karena terdengar jelas suara Abdi membicarakan uang suap.
Uang suap disebut terkait dengan pemindahan titik aksi dari Istana Negara ke Gedung DPR RI.
Namun, demonstrasi tetap berlangsung di depan Istana Negara.
Bahkan, aksi tersebut berujung pada ajakan dari Wakil Presiden Gibran Rakabuming yang menerima 15 perwakilan mahasiswa untuk berdiskusi di dalam istana.
Kasus Lain: Emak-emak Demo Dibayar Rp100 Ribu
Selain kasus suap mahasiswa, publik juga dihebohkan dengan aksi emak-emak di Monas yang membawa panci dan wajan.
Mereka mendapat perlengkapan masak gratis serta uang saku Rp100 ribu.
Yuyun, warga Jakarta Timur, mengakuinya.
“Ongkos ada lah buat jajan. Seratus lah,”ujarnya.
Ia menambahkan bahwa dirinya mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG) karena anaknya menjadi penerima manfaat.
“Semenjak ada MBG, anak saya jadi gemuk, sehat, pintar. Harapannya lebih bagus lagi, meningkat,"pungkasnya.
Kasus ini menimbulkan pertanyaan serius tentang integritas gerakan mahasiswa.
(*/Tribun-medan.com)