4 Faktor Pemicu Kriminalitas Menurut Pakar Psikologi Klinis Asal Manado Hanna Monareh
Rizali Posumah June 23, 2026 10:22 PM

 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Situasi keamanan di Kota Manado, Ibu Kota Provinsi Sulawesi Utara, kian terusik oleh maraknya aksi kriminalitas.

Fenomena yang paling menyita perhatian publik saat ini adalah kemunculan kelompok "peks tikang-tikang" yakni istilah lokal untuk remaja atau pemuda yang gemar membawa senjata tajam dan melakukan penganiayaan.

Melihat fenomena ini, pakar psikologi klinis Hanna Nina Ireine Monareh, M.Psi., Psikolog, CHt, CI menegaskan bahwa perilaku menyimpang tersebut tidak muncul begitu saja dari ruang hampa.

"Kriminalitas bukan sekadar pelanggaran hukum, melainkan sebuah muara dari akumulasi gangguan psikologis individu, dinamika interpersonal, serta tekanan lingkungan yang tidak terkelola dengan baik," terang Hanna Monareh melalui Whatsapp, Selasa 23 Juni 2026

Dirinya lantas menjelaskan, dalam prespektif psikolog klinis, faktor internal dan faktor eksternal mempengaruhi perilaku individu. Ia memaparkan empat faktor tersebut.

2. Distregulasi Emosi dan Lemahnya Impulse Control

Kata dia, banyak kasus kriminalitas di Manado—seperti penganiayaan atau perkelahian—terjadi secara spontan (reactive aggression). 

Menurutnya ini sangat erat kaitannya dengan distregulasi emosi (ketidakmampuan mengelola dan merespons pengalaman emosional secara sehat) dan rendahnya kontrol impuls.

"Ketika seseorang dihadapkan pada pemicu atau konflik kecil, kurangnya kemampuan coping mechanism (mekanisme koping) yang matang membuat mereka langsung melompat ke mode fight (menyerang) demi melepaskan ketegangan psikologis secara instan," terang dia. 

2. Pengaruh Zat Asiktif (Substance Abuse) 

Konteks lokal tidak bisa diabaikan. Konsumsi alkohol secara berlebihan sering kali menjadi latar belakang kasus kriminalitas di daerah ini. 

Zat ini menekan fungsi prefrontal cortex bagian otak yang bertanggung jawab atas penalaran logika, penilaian moral, dan kontrol diri.

"Akibatnya, kecemasan atau amarah yang biasanya bisa diredam, akan meledak tanpa kendali ketika seseorang berada di bawah pengaruh zat," ujar dia.

3. Tekanan Sosio-Ekonomi dan Psychological Distress

Diri menjelaskan, tekanan ekonomi, pengangguran, dan ketidakpastian hidup dapat memicu stres kronis (psychological distress). 

Ketika seseorang mengalami frustrasi yang berkepanjangan karena kebutuhan dasarnya tidak terpenuhi, harga diri (self-esteem) mereka terancam.

"Dalam kondisi rentan ini, tindakan kriminal (baik yang bersifat ekonomi seperti pencurian, maupun agresi sebagai pelampiasan stres) sering kali menjadi jalan pintas yang maladaptif untuk mengembalikan rasa kendali atas hidup mereka," ujar dia. 

4. Normalisasi Kekerasan dan Faktor Pembelajaran Sosial (Social Learning)

Mengacu pada teori pembelajaran sosial, dirinya menyebut, perilaku agresif bisa dipelajari melalui pengamatan dan peniruan lingkungan sekitar. 

"Dengan siapa kita bergaul, lingkungan sekitar dapat mempengaruhi cara berpikir dan perilaku individu," uajr dia. 

Menurutnya, jika lingkungan menormalisasi perilaku kekerasan, di mana penyelesaian masalah dengan kekuatan fisik dianggap sebagai simbol harga diri (touched/siri), maka individu akan mengadopsi struktur berpikir tersebut.

"Pola asuh yang diwarnai kekerasan di masa kecil cenderung berkontribusi besar membentuk kepribadian yang rentan melakukan tindakan antisosial di masa dewasa," pungkas dia. 

WhatsApp Tribun Manado: Klik di Sini

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.