Dorong Internasionalisasi Kampus, Polinema Gelar Immersion Camp 2026 Diikuti Mahasiswa dari 9 Negara
Sarah Elnyora Rumaropen June 24, 2026 01:35 AM

SURYAMALANG.COM, KOTA MALANG - Politeknik Negeri Malang (Polinema) kembali memperkuat langkah internasionalisasi kampus melalui penyelenggaraan Immersion Camp yang bertajuk Polinema Internasional Experiential Learning and Cultural Immersion 2026 di Balai Kota Malang, Selasa, (23/6/2026).

Kegiatan itu melibatkan mahasiswa dari berbagai negara. Program tersebut tidak hanya berfokus pada aktivitas akademik, tetapi juga menggabungkan pengabdian kepada masyarakat, pertukaran budaya, dan promosi pariwisata Malang Raya.

Konsep Kampus Berdampak di Level Global

Direktur Polinema, Supriatna Adhisuwignjo, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari strategi kampus untuk memperluas jejaring internasional sekaligus mewujudkan konsep kampus berdampak yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

“Kegiatan ini kami inisiasi untuk menginternasionalkan kampus sekaligus memperkuat konsep kampus berdampak kepada masyarakat. Karena itu kami menggabungkan kegiatan akademik, pengabdian kepada masyarakat, dan kolaborasi dengan berbagai mitra internasional,” ujar Supriatna, Selasa (23/6/2026).

Ia menjelaskan, peserta berasal dari berbagai perguruan tinggi mitra di Indonesia maupun luar negeri, termasuk Malaysia, Thailand, China, serta sejumlah negara lain yang selama ini telah menjalin kerja sama dengan Polinema.

“Kami mengajak mitra dari Malaysia, Thailand, China, dan berbagai negara lainnya untuk hadir di Malang. Mereka tidak hanya mengikuti kegiatan akademik, tetapi juga program pertukaran mahasiswa, pengabdian kepada masyarakat, serta pengenalan budaya dan pariwisata Malang Raya,” katanya.

Baca juga: Di Hadapan Ulama NU, Prabowo Bongkar Kebocoran Anggaran Rp2.500 Triliun dan Rencana Tutup 700 BUMN

Menurut Supriatna, program tersebut memiliki tujuan ganda. Selain membawa Polinema semakin dikenal di tingkat internasional, kegiatan ini juga diharapkan dapat menarik minat mahasiswa asing untuk menempuh perkuliahan maupun mengikuti program akademik di Kota Malang.

“Target kami adalah membawa kampus ke level internasional sekaligus menghadirkan mitra internasional ke Malang. Harapannya mereka tertarik mengambil mata kuliah di Polinema, mengikuti kegiatan akademik, dan berkontribusi bagi masyarakat Malang Raya,” ujarnya.

Dalam pelaksanaannya, Polinema mengedepankan nilai keberagaman yang selama ini telah menjadi bagian dari kehidupan kampus. Saat ini, Polinema memiliki sejumlah kelas internasional dengan mahasiswa dari berbagai negara.

“Kami sudah memiliki 10 kelas internasional. Di kampus, kami terbiasa hidup dalam keberagaman budaya, bahasa, dan latar belakang mahasiswa. Saat ini ada mahasiswa dari 11 negara yang belajar di Polinema,” jelasnya.

Ia menambahkan, program menjadi sarana bagi peserta untuk belajar menghargai perbedaan sekaligus bekerja sama dalam menghasilkan kegiatan yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Keberagaman adalah sesuatu yang lumrah. Yang terpenting adalah bagaimana kita saling menghargai dan bersama-sama mengembangkan aktivitas yang memiliki nilai manfaat bagi masyarakat. Itu yang ingin kami tanamkan kepada para peserta,” katanya.

Program yang berlangsung selama lima hari tersebut diikuti sekitar 90 peserta, termasuk 50 mahasiswa asing dari sembilan negara. Selain Malaysia, Thailand, dan China, peserta juga berasal dari Madagaskar, Yaman, Sudan, dan sejumlah negara lainnya.

“Total ada sekitar 90 peserta, dengan sekitar 50 mahasiswa asing dari sembilan negara. Kami berharap kehadiran mereka dapat memberikan kontribusi positif bagi masyarakat sekaligus memperkenalkan Kota Malang kepada dunia internasional,” ujarnya.

Supriatna juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kota Malang yang turut mendukung penyelenggaraan kegiatan tersebut, termasuk dalam memperkenalkan potensi budaya dan pariwisata daerah kepada para peserta internasional.

“Kami berterima kasih kepada Pemerintah Kota Malang yang telah mendukung dan memfasilitasi kegiatan ini. Ini menjadi sinergi yang sangat positif antara Polinema dan Pemkot Malang dalam memperkenalkan Kota Malang kepada dunia,” pungkasnya.

Dukungan Pemkot Malang

Wakil Wali Kota Malang, Ali Muthohirin, mengatakan kegiatan yang diikuti peserta dari Malaysia, Thailand, China, serta sejumlah perguruan tinggi di Jawa Timur tersebut merupakan langkah positif dalam memperluas jejaring pendidikan dan memperkenalkan Kota Malang di tingkat global.

“Acara ini sangat bagus sekali. Diikuti peserta dari Malaysia, Thailand, China dan beberapa kampus di Jawa Timur. Jumlah pesertanya hampir 100 orang dan menurut informasi didukung oleh sponsor utama Polinema,” ujar Ali.

Menurut Ali, kegiatan yang telah rutin diselenggarakan Polinema sejak 2022 tersebut menjadi wadah penting untuk memperkuat pengabdian kepada masyarakat sekaligus membuka ruang kolaborasi internasional.

“Tentu selain penguatan akademik, ini juga menjadi bagian dari pengabdian kepada masyarakat. Kami menyambut baik dan malam ini menerima para peserta di Balai Kota sebagai bentuk dukungan terhadap agenda yang sangat positif ini,” katanya.

Ia menilai keberadaan peserta dari berbagai negara akan memberikan manfaat besar bagi Kota Malang, khususnya dalam memperluas jejaring internasional dan memperkenalkan potensi daerah kepada dunia luar.

Baca juga: Survei Jalur Trans Jatim Malang–Kepanjen Segera Dimulai, Target Launching Oktober 2026

“Ini menambah ruang belajar, menambah kolaborasi dan jejaring kita di tingkat global. Pemerintah Kota Malang selama ini juga terus berkolaborasi dengan berbagai lembaga pendidikan dan kegiatan seperti ini menjadi bagian dari upaya memperkuat pembangunan daerah,” ujarnya.

Ali menjelaskan, salah satu agenda peserta selama berada di Kota Malang adalah berkeliling kota untuk mengenal berbagai potensi yang dimiliki daerah. Menurutnya, hal tersebut menjadi kesempatan strategis untuk mempromosikan sektor pariwisata Kota Malang.

“Besok para peserta juga akan berkeliling Kota Malang. Ini menjadi bagian penting bagi kami untuk memperkenalkan potensi wisata yang ada. Promosi seperti ini memiliki kontribusi besar terhadap pandangan wisatawan maupun masyarakat luar terhadap Kota Malang,” katanya.

Lebih lanjut, Ali menilai Kota Malang memiliki banyak keunggulan yang layak diperkenalkan kepada peserta internasional, mulai dari kekayaan sejarah, budaya akademik, hingga karakter masyarakatnya.

“Kearifan lokal harus diketahui oleh mereka. Keramahan warga Kota Malang juga penting untuk diperkenalkan. Di samping itu, Kota Malang memiliki lanskap kota yang menarik dengan nuansa sejarah yang masih kuat,” ujarnya.

Selain dikenal sebagai kota pendidikan, Ali menyebut Kota Malang juga memiliki daya tarik dari sisi pariwisata dan lingkungan yang nyaman. Tak lupa, Ali juga menyinggung kuliner khas Kota Malang yang menurutnya wajib dicicipi oleh seluruh peserta.

“Kalau bakso tentu wajib. Kuliner itu penting. Saya tadi juga menyampaikan agar seluruh peserta bisa menikmati bakso sebagai salah satu ikon kuliner Kota Malang,” pungkasnya.

Kesan Mendalam Mahasiswa Asing

Salah satu peserta, Rimsha Nisar dari Pakistan mengatakan terkesan dengan Kota Malang. Baginya, Malang bukan hanya kota dengan pemandangan alam yang indah, tetapi juga memiliki kekayaan budaya dan lingkungan pendidikan yang mendukung kolaborasi lintas negara. 

Rimsha mengaku telah beberapa kali berkunjung ke Malang sebelum mengikuti kegiatan kali ini. Pengalaman tersebut membuatnya semakin tertarik untuk mengenal budaya dan kehidupan masyarakat setempat.

“Saya sudah datang ke Malang sekitar dua atau tiga kali sebelumnya. Kota ini memiliki suasana pegunungan yang sangat indah dan banyak aktivitas budaya yang menarik untuk dipelajari,” ujar Rimsha.

Selama berada di Malang, ia menyempatkan diri mengunjungi sejumlah destinasi wisata dan tempat bersejarah yang memperkenalkannya pada kekayaan budaya Indonesia, khususnya di Malang Raya.

“Saya pernah ke Batu dan mengunjungi museum. Kami juga belajar tentang sejarah Malang dan budaya batik. Sebelumnya kami juga mencoba membuat batik ketika berada di Yogyakarta,” katanya.

Menurut Rimsha, pengalaman mempelajari budaya Indonesia secara langsung memberikan kesan yang berbeda dibandingkan hanya mempelajarinya melalui buku atau media digital.

“Ini merupakan perjalanan yang luar biasa karena kami bisa belajar budaya secara langsung dan berinteraksi dengan masyarakat,” ujarnya.

Selain tertarik pada budaya dan pariwisata, Rimsha juga mengapresiasi atmosfer pendidikan di Kota Malang. Ia menilai kegiatan internasional seperti menjadi wadah yang sangat baik untuk mempertemukan mahasiswa dari berbagai negara dan latar belakang.

“Saya pikir budaya pendidikan di Kota Malang sangat baik. Kami datang ke acara ini dan mendapatkan kesempatan untuk berinteraksi dengan banyak orang dari tempat yang berbeda. Menurut saya itu sangat bagus,” katanya.

Rimsha berharap hubungan akademik dan budaya antara Indonesia dengan negara-negara lain dapat semakin kuat melalui program seperti yang diselenggarakan Polinema. Baginya, pengalaman belajar lintas budaya menjadi salah satu cara terbaik untuk memperluas wawasan sekaligus membangun persahabatan internasional. 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.