TRIBUNJATENG.COM, JEPARA - Pemadaman listrik bergilir menjadi persoalan baru bagi pelaku usaha jual-beli ikan hias.
Tafsir (27), pedagang ikan hias di Pecangaan Kulon, Kecamatan Pecangaan, Kabupaten Jepara, mengeluhkan pemadaman listrik bergilir terhadap keberlangsungan usahanya.
Bagaimana tidak, satu-satunya sumber energi yang paling dibutuhkan pedagang ikan hias adalah listrik.
Semua ikannya memerlukan suplai oksigen 24 jam tanpa henti dengan bantuan tenaga listrik.
Jika terdampak pemadaman, bukan tidak mungkin ikan-ikan hias terancam mati apabila tidak dilakukan antisipasi segera mungkin.
"Listrik untuk menyalakan pompa air agar menghasilkan oksigen bagi ikan. Kalau listrik mati, tidak ada oksigen, artinya ikan bisa mati," ujar Tafsir kepada Tribun Jateng, Selasa (23/6/2026).
Dalam kurun waktu satu bulan terakhir, tempat usaha Tafsir mengalami dua kali pemadaman listrik dengan durasi 4-5 jam.
Pemadaman pertama tidak menjadi kendala berlangsung di siang hari, kebutuhan listrik disambung dengan menggunakan genset.
Akan tetapi, kendala terjadi pada pemadaman kedua kali, sepekan lalu.
Saat itu pemadaman bergilir di wilayah Pecangaan Kulon berlangsung siang-sore hari dengan durasi serupa 4-5 jam.
Hanya saja, genset yang disiapkan Tafsir mengalami error selama kurang lebih satu jam.
Ikan-ikannya pun tidak mendapatkan suplai oksigen selama satu jam.
Akibatnya, 30-an ekor ikan hias milik Tafsir mati tak tertolong dengan kerugian mencapai ratusan ribu rupiah.
"Kemarin beberapa hari yang lalu itu sempet trobel genset pas mati listrik. Hasilnya ada beberapa yang mati, tapi mau bagaimana lagi yang namanya musibah kan ya," tutur perantau asal Banjarnegara tersebut.
Dia berharap fenomena pemadaman listrik bergilir yang terjadi saat ini segera diantisipasi, agar masyarakat tidak terus menerus dirugikan.
Jika kondisi yang terjadi saat ini dibiarkan begitu saja, bukan tidak mungkin dampak pemadaman listrik akan semakin besar bagi masyarakat, terutama pelaku usaha skala UMKM.
"Yang jelas, listrik mati kalau enggak punya genset bakal pusing. Apalagi pemadamannya lama berjam-jam," tuturnya.
Keluhan serupa juga disampaikan pedagang ikan hias di Pasar Ikan Hias Mina Restu, Purwokerto.
Ketika aliran listrik padam, para pedagang harus bergerak cepat menyelamatkan ikan-ikan dagangannya agar tidak mati akibat kekurangan oksigen.
Mengantisipasi ketika listrik padam, membuat mereka harus mengeluarkan biaya tambahan untuk operasional genset hingga pembelian oksigen.
Menurutnya, pemadaman saat itu terjadi pada sore hari dan berlangsung sekitar tiga jam.
“Kalau listrik mati, ikan-ikan harus dikantongi semua pakai oksigen. Itu cukup ribet," kata Saeful, Selasa.
Dia menjelaskan, meski pasar telah memiliki genset sebagai cadangan listrik, penggunaannya tetap menambah beban biaya bagi pedagang.
"Kalau pakai genset tentu ada tambahan biaya operasional. Solar genset dibayar pedagang melalui iuran. Kalau genset menyala penuh bisa sekitar Rp 100 ribu," ujarnya.
Saat ini terdapat sekitar 30 pedagang ikan hias yang berjualan di Pasar Mina Restu.
Aktivitas perdagangan berlangsung hingga pukul 21.00 setiap harinya.
Di tengah tantangan pemadaman listrik, para pedagang juga tengah menghadapi kondisi pasar yang relatif sepi.
Menurutnya, setiap tahun periode Juni hingga Agustus memang menjadi masa lesu penjualan karena masyarakat lebih memprioritaskan kebutuhan pendidikan anak menjelang tahun ajaran baru.
"Banyak masyarakat fokus kebutuhan anak naik kelas atau masuk sekolah. Biasanya Juni, Juli, Agustus memang rada anyep penjualannya," katanya.
Dia berharap, ke depan tidak terjadi lagi pemadaman listrik, terutama yang berlangsung dalam waktu lama karena dapat mengancam kelangsungan hidup ikan dan menambah biaya operasional pedagang.
"Harapannya jangan sampai ada pemadaman lagi, apalagi kalau terlalu lama," ujarnya. (Saiful Ma'sum/Permata Putra Sejati)