Mengatasi Kenakalan Remaja
Ratino Taufik June 24, 2026 06:52 AM

BANJARMASINPOST.CO.ID - SEJUMLAH aksi kekerasan dan kenakalan remaja terjadi di Banjarmasin sebulan terakhir. Terbaru, dua kelompok remaja saling serang dengan membawa senjata tajam, di kawasan Jalan Simpang Anem, Kuin Selatan, Banjarmasin Barat, Jumat (19/6) dinihari.

Sebelumnya aksi perkelahian menggunakan senjata tajam menggegerkan kawasan Kampung Sasirangan, Kelurahan Seberang Mesjid, Rabu (17/6).  

Tidak itu saja. Masih di bulan Juni, tawuran terjadi di kawasan Jembatan Kembang Barenteng atau Simpang Empat Pengambangan, yang sempat mengganggu pengguna jalan di Jalan Pangeran Hidayatullah, Kelurahan Pengambangan, Senin (15/6).  

Memang tidak sampai jatuh korban jiwa, dan semoga jangan sampai. Namun yang harus dicatat dari serangkaian peristiwa tersebut yaitu naiknya kasus kekerasan melibatkan remaja.

Tentu kita tidak ingin kelompok remaja ini tumbuh menjadi gangster seperti di kota-kota besar negeri ini, atau melakukan aksi klitih, seperti di Yogyakata.

Dan tentunya untuk mencegah makin parah dan berkembang, harus dilakukan antisipasi, mulai dari lingkungan keluarga, sekolah/pendidikan, hingga lingkungan sosial.

Dari sisi ketertiban masyarakat, patroli pihak kepolisian sudah selayaknya makin diaktifkan. Memang, masyarakat tidak bisa melulu menggantungkan sepenuhnya pada polisi, karena mereka pun harus aktif menjaga lingkungan. Tetapi bila melihat kasus di Kompleks Cacat Veteran, Sungaijingah Banjarmasin beberapa waktu lalu, kehadiran petugas menjadi mutlak diperlukan.

Saat itu Saleh Fauzi (59), seorang kakek-kakek warga setempat yang menegur aksi ugal-ugalan sejumlah bocah justru dikeroyok delapan remaja di bawah umur.

Langkah lainnya ditawarkan Pemerintah Kota (Pemko) Banjarmasin yang bakal menerapkan pembinaan di barak militer sebagaimana yang dilakukan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat.

Diawacanakan Wali Kota Banjarmasin, H Muhammad Yamin HR, program itu menyasar semua bentuk kenakalan remaja, termasuk mereka yang terbukti kedapatan berbuat mesum di ruang publik.

Remaja nakal yang melakukan balap liar, tawuran, membuat keributan, hingga yang melakukan tindak asusila di ruang publik dari target dari program pembinaan barak militer nantinya.

Para remaja yang mengikuti program pembinaan di barak tidak hanya mendapatkan pelatihan fisik, tetapi juga pembentukan karakter dan mental. Selama menjalani pembinaan, peserta akan diberikan pelatihan kedisiplinan, pembinaan kepribadian, hingga penguatan nilai-nilai keagamaan dan kerohanian.

Bisa jadi, ini merupakan salah satu solusi jangka pendek, mengingat anak di bawah umur tidak bisa langsung diproses hukum. Mereka perlu pendekatan lain berupa pendisiplinan.

Namun demikian yang tidak boleh diabaikan peran orangtua tetap menjadi faktor utama dalam mencegah anak terjerumus ke perilaku negatif. (*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.